1 Syawal yang Sangat Menentukan

Oleh : Husnun N Djuraid
Redaktur Senior Malang Post, Pendidik di UMM

Sebenarnya banyak yang mengharapkan datangnya Ramadan. Lihatlah, saat bulan mulia itu datang, banyak yang menyambut dengan suka cita. Mereka puasa, salat Tarawih, ngaji Al quran, sedekah dan amalan yang lain. Tapi saat Ramadan akan pergi, banyak yang mulai melupakannya. Baris salat Tarawih mulai maju, pertanda berkurangnya jamaah. Ngajinya mulai tidak semangat, begitu juga amalan yang lain.
Harap maklum. Saat menjelang akhir Ramadan, godaan untuk beribadah semakin kencang. Undangan buka bersama datang dari berbagai kalangan. Buka puasanya bagus, tapi sayang justru banyak menghilangkan kebaikan yang lain. Asyik buka bersama, salat Maghribnya telat, bahkan tidak sama sekali. Ngobrol terus sampai lupa datang waktu Isya dan salat Tarawih. Buka bersama memang asyik, apalagi dengan teman atau saudara yang sudah lama tidak ketemu. Menjelang Idul Fitri biasanya banyak yang sudah pulang kampung. Begitu asyiknya buka puasa sambil ngobrol itu, tak terasa sampai larut. Alhasil, bubarnya bareng dengan jamaah salat Tarawih.

Mengi'tikafkan Tubuh, Menghijrahkan Hati dan Pikiran

Oleh : Halimi Zuhdy
Dosen Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Maliki Malang

Indah sekali ajaran Islam, dalam setiap gerak ibadahnya, ada hening, senyap, dan harmoni. Dalam gerak hidupnya ada puasa, dalam puasa terselip i'tikaf, dalam i'tikaf tersua tuma'ninah. Dalam Salat, ada gerak; takbir, rukuk, sujud, i'tidal dan tahiyyat, tapi dalam geraknya terselip tuma'nina.
Dalam haji, ada gerak; thawaf, jumrah, dan sa'i, tapi ia harus berhenti (wuquf), berlanjut mabit (bermalam dan diam) di Muzdalifah dan Mina, semuanya harmoni gerak dan diam. Indah sekali.
Untuk menjadi kupu-kupu yang membunga warna, terbang mengejar kumbang, ia bermula puasa, beri'tikaf dalam kepompong, bertafakkur dalam dengkur, melihat alam dalam senyap. Dari menjijikkan ketika meng-ulat, menghilang (i'tikaf) tuk bertadabur, kemudian bertebar ke alam menemui bunga-bunga (takbir kemenangan).