Reaktualisasi Kebangkitan bagi Generasi Milenial

Oleh  Ratnawati, S.Pd, pengajar Sejarah SMA N 1 Kota Malang

    Setiap tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.  Di tahun 1908, para tokoh bangsa ini  menyadari bahwa bangsa mereka  tercerai-berai dalam kondisi yang amat memprihatinkan. Pendidikan modern ala Barat,  yang dapat diakses  pada kenyataannya  tidak dapat mensejajarkan bumiputera  dengan orang-orang Belanda. Hal inilah yang menggugah pembentukan organisasi Boedi Oetomo (BO),
BO merupakan perkumpulan bumiputera pertama yang memenuhi syarat-syarat organisasi menurut pengertian Barat (Muljana, 1968).  Kaum intelektual bumiputra mulai bangkit. Kesadaran “nasionalisme” mulai tumbuh sejak mereka berinteraksi dengan yang lain,  sehingga terbentuklah suatu gagasan tentang pandangan hidup, nasib kaum bumiputra, dan masa depan.

Menyoal Inflasi Angkutan Udara

Oleh : Rendi Jenesa
Asisten Manajer  Bank Indonesia Malang

Tahun 2019 ini, inflasi angkutan udara karena kenaikan tarif tiket pesawat menjadi penyebab utama inflasi di Kota Malang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga tarif angkutan udara menjadi pemicu laju inflasi Kota Malang pada Januari, Maret, serta April 2019. Berdasarkan data BPS pada Januari 2019 inflasi  tarif angkutan udara di Kota Malang tercatat sebesar 12,34% month to month (mtm) dengan sumbangan 0,28 (mtm) lebih tinggi dibandingkan sumbangan komoditas lainnya.
Pada Maret 2019 tarif angkutan udara kembali mencatatkan inflasi sebesar 14,13% (mtm) dengan sumbangan yang masih tinggi yaitu sebesar 0,33 (mtm). Begitu juga pada April 2019, tarif angkutan udara tercatat sebesar 11,58% (mtm) dengan sumbangan yang masih tinggi yaitu sebesar 0,34 (mtm)  atau lebih tinggi dari sumbangan inflasi tarif angkutan udara pada kota-kota IHK lainnya di Jawa Timur.
Tarif angkutan udara nasional dan terutama pada Kota Malang mengalami kenaikan yang tidak biasa sejak awal 2019. Hal itu juga sempat memicu diskusi hangat terhadap industri maskapai penerbangan nasional. Dari berbagai informasi yang didapatkan, penyebab permasalahan tarif angkutan udara beberapa waktu lalu ditengarai oleh biaya operasional dan pemeliharaan pesawat yang tidak murah. Selain itu, maskapai penerbangan domestik berlomba-lomba menurunkan harga tiket karena persaingan yang tidak bisa dihindari. Khususnya pada penerbangan berbiaya murah atau LCC (Low Cost Carrier) dengan model bisnis atau strategi marketing yang menekankan efisiensi.
Sumbangan Inflasi Angkutan Udara
Berdasarkan data BPS, sepanjang tahun 2018 frekuensi lonjakan kenaikan harga tarif angkutan udara di Kota Malang sudah cukup tinggi. Setidaknya dari 12 bulan tersebut, kenaikan tarif angkutan udara tercatat muncul sebanyak lima kali sebagai penyebab inflasi yang utama. Hal tersebut menandakan tarif angkutan udara memiliki andil yang cukup besar membentuk inflasi di Kota Malang.
Lantas bagaimana cara mengetahui bahwa harga tarif angkutan udara memang inflasi atau tidak? Inflasi adalah kenaikan harga yang terjadi secara terus menerus pada barang dan jasa. Perhitungan kenaikan tarif angkutan udara dilihat dari perubahan harga tarif angkutan udara pada periode tertentu dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan sebelumnya. Perubahan harga tersebut dilihat dari harga tiket pesawat dari Kota Malang menuju kota lainnya. Metode umum untuk menghitung perubahan harga tersebut adalah dengan Indeks Harga Konsumen (IHK). IHK digunakan untuk mengamati perubahan dalam biaya hidup sepanjang waktu. IHK juga merupakan indikator yang umum digunakan BPS untuk mengukur inflasi.
Upaya pengendalian
Kenaikan tarif angkutan udara saat ini telah menjadi permasalahan nasional dan musti dipecahkan problemnya pada tingkat nasional. Beberapa waktu yang lalu Menko Perekonomian, Darmin Nasution telah melakukan rapat dengan Menteri Perhubungan dan Menteri BUMN  serta beberapa direksi maskapai penerbangan. Dalam hasil rapat tersebut, Menko Perekonomian  meminta agar menurunkan tarif batas atas (TBA). Sebagai tindak lanjut dari beberapa pertemuan itu, pada Kamis 16 Mei 2019 Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah mengumumkan tarif baru penerbangan.
Susunan tarif itu tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas (TBA) Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Inti dari keputusan tersebut adalah penurunan TBA tiket pesawat rute domestik antara 12 sampai 16 persen. Upaya ini sangat diharapkan dapat menurunkan tarif tiket pesawat udara. Terlebih masyarakat membutuhkannya pada saat jelang lebaran seperti kondisi saat ini.
Sebelumnya, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan nomor 20 tahun 2019 dengan turunan Keputusan Menteri Nomor 72 Tahun 2019. Dari aturan  tersebut, batas bawah harga tiket pesawat ditetapkan sebesar 35% dari tarif batas atas. Namun ternyata masih dianggap belum efektif untuk menekan kenaikan tarif angkutan udara.
Dampak Ekonomi
Bagi Kota Malang sendiri, dampak dari kenaikan tarif angkutan udara akan terasa secara langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat. Selain itu juga berpengaruh kepada kinerja perekonomian Kota Malang yang mempunyai karakteristik sebagai kota pariwisata dan kota pendidikan. Hal ini tercermin dari jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang maupun sekitarnya makin berkurang. Kenaikan tarif angkutan udara juga memiliki multiplier effect terhadap melemahnya kinerja jasa akomodasi seperti hotel dan tempat penginapan, berkurangnya kegiatan MICE dan studi banding ke Perguruan Tinggi di Kota Malang. Selain itu juga berpengaruh kepada keramaian pusat perbelanjaan dan oleh-oleh UMKM di Kota Malang akibat dari harga tiket yang mahal sehingga menahan keinginan orang untuk berwisata maupun para wisatawan untuk berbelanja.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk memperbaiki kinerja angkutan udara di Kota Malang adalah, perlunya upaya peningkatan daya dukung Bandara Abdulrahman Saleh. Hal ini akan berdampak pada efisiensi biaya operasional maskapai yang singgah di bandara tersebut. Mengingat bahwa wilayah Malang Raya adalah salah satu daerah utama penopang sektor pariwisata di Jawa Timur. Namun perlu dipahami juga bahwa Bandara Abdulrahman Saleh berada di wilayah  pangkalan udara TNI AU. Sehingga aspek keamanan terhadap pertahanan negara adalah sesuatu yang penting.
Upaya penambahan flight penerbangan juga relatif terbatas untuk dilakukan. Perlu adanya win-win solution dalam hal pengelolaan bandara antara kegiatan komersil dan kepentingan keamanan pertahanan bisa sejalan. Wacana menjadikan sebagai bandara internasional juga makin mengemuka. Semoga upaya dan harapan tersebut, pada gilirannya ke depan dapat mengendalikan inflasi di sektor angkutan udara. (*)

Menjadi “Ulama’’ Yang Mencerahkan

Oleh Baiturrahman
Pegiat literasi dan peneliti PeaceLink Malang

Dunia intelektual Islam pernah mengantarkan manusia kepada zaman pencerahan. Zaman ini sering disebut sebagai The golden age of Islam (peradaban emas Islam). Konon katanya Renaissance Barat juga merupakan kelanjutan dari buah pemikiran Islam Abad Pertengahan, setelah Islam mengalami fase kemunduran.
Ada banyak faktor sebenarnya yang menyebabkan Islam menemukan titik peradabannya. Salah satunya adalah Inklusifisme berfikir/ keterbukaan berfikir dan tradisi menghargai ilmu. Inklusifisme berpikir menjadi salah satu faktor utama mengapa Islam mampu mengekspansikan baik wilayah, doktrin keagamaan, serta khazanah keilmuan di berbagai belahan dunia.