Pernah Wakili Indonesia Ke Perancis, Tak Mau Sia-siakan Kesempatan Kedua


MALANG - Rahasia sukses dalam hidup bagi seseorang adalah siap menghadapi saat kesempatan datang padanya. Kata bijak dari Benjamin Disraeli tersebut tampaknya menjadi inspirasi bagi pemain termuda Arema FC, Muhammad Rafli. Pemain berusia 19 tahun itu, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dalam setiap karier di sepak bola, baik saat bergabung dengan Arema atau ketika dia mewakili Indonesia ke Perancis, Qatar atau Vietnam.
Tahun ini, Rafli memasuki tahun keduanya di tim Arema. Dia bergabung dengan tim Singo Edan musim lalu, saat dirinya masih berusia 18 tahun dan masih tercatat sebagai pelajarn SMAN 7 Malang. Namun, dia membawa banyak catatan bagus di masa junior sebelum bergabung dengan Arema.
Saat masih SSB, dia mewakili Indonesia untuk menuju ke Paris, Perancis. Dia terpilih menjadi pemain Nike Most Wanted 2016. Hanya dua pemain dari Indonesia, yang menuju Perancis mengikuti event tahunan Nike Academy.
"Saat itu saya dapat rekomendasi dari pengurus SSB di Jakarta. Seleksi di Jakarta dan ternyata lolos. Padahal saya sudah di Malang, sekolah di Malang," ujar Rafli.
Bekal tersebut, akhirnya membawanya ke Timnas U-19. Dia masuk dalam skuad Piala AFF 2016 yang bermain di Vietnam. Di bawah asuhan Edward Tjong, dia dipilih menjadi striker utama tim Garuda Muda.
"Itu pengalaman mewakili tim Merah Putih. Selain itu, saya juga pernah ke Qatar saat masih SSB di Jakarta," beber dia kepada Malang Post.
Dengan banyak bekal tersebut, akhirnya Rafli menarik minat Arema di musim lalu. Sebagai pemain muda, dia juga memiliki kelebihan dalam hal postur. Dengan tinggi mencapai 181 cm, dirinya bisa menjadi predator di posisi striker, atau menjadi pemain yang kokoh sebagai seorang gelandang.
"Saat di Timnas saya striker. Tetapi, saya juga beberapa kali diminta menjadi playmaker. Di Arema. Sebagai pemain, saya menjalankan saja instruksi pelatih," terangnya.
Namun, tahun pertamanya di Arema, dianggap Rafli sebagai tempaan berat terjun di level profesional. Klub pro pertamanya ini, juga mengajarkan untuk memiliki mental yang kuat bermain sepak bola, terutama di Malang. Rafli, pernah mendapatkan hujatan, cemoohan hingga ancaman ketika penampilannya jelek di lapangan.
Bahkan, dia mengakui sempat mengalami down. Kala itu, turun sebagai pemain inti saat Liga 1 masih mewajibkan setiap tim menurunkan tiga pemain U-22, Arema kalah telak 0+4 dari Persela Lamongan.
"Saya akhirnya tahu, bagaimana orang Malang mencintai sepak bola, mencintai Arema," tutur pengidola Lionel Messi itu.
Sejak saat itu dia bertekad bangkit. Walaupun musim lalu, pasca kekalahan dari Persela, dia jarang mendapatkan kesempatan bermain. Namun dia tetap tekun berlatih, mengambil banyak pelajaran dan pengalaman dari seniornya di Arema.
Hasilnya, di musim ini dia mendapatkan kepercayaan untuk dikontrak lagi oleh Arema. Dia mendapatkan kontrak, diantara banyaknya pencoretan pemain di tubuh Arema.
"Saya anggap ini kesempatan kedua di Arema. Dan saya tidak ingin menyia-nyiakan nya. Harus lebih baik dari musim lalu," tambah pemuda yang mengidolakan Ahmad Bustomi tersebut.
Ya, Rafli tidak mau lagi musimnya tidak berkesan seperti tahun lalu. Dirinya sudah berlatih keras, memperbaiki skill dan fisiknya. Hasilnya, Rafli sempat membuat kagum ketika dia mencetak gol di sentuhan pertamanya di lapangan saat turun menjadi pemain pengganti.
"Itu gol pertama saya setelah satu tahun di Arema. Kalau latihan mungkin sering, di laga resmi baru satu gol. Ya semoga ini tahun yang bagus dan peningkatan dalam karier saya profesional," papar bungsu dari tiga bersaudara itu. (Stenly Rehardson)

Berita Terkait

Berita Lainnya :