Cetuskan Kurikulum Batik, Potensi di Kabupaten Malang Besar


KAIN batik tak hanya digunakan sebagai bahan pembuatan pakaian saja. Namun, di tangan Dra. Hj. Nailah Chamidah, batik disulap menjadi aneka kerajinan yang memiliki nilai jual menjanjikan. Pimpinan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Ganesha Kepanjen ini menyulap bahan batik menjadi tas, dompet hingga gorden.
Aneka produk terbuat dari bahan baku kain batik terpampang rapi di lemari kediaman Nailah Chamidah yang juga digunakan sebagai Kantor LKP Ganesha di Jalan Effendi Kota Kepanjen. Seperti Batik Clutch Bag (tas batik), dompet, gorden, taplak meja, gorden, bantal kursi, tudung saji hingga seserahan maupun hantaran pernikahan.
Dari serangkaian produk tersebut, buatan terbaru adalah Clutch Bag atau tas batik. Produk tersebut menjadi primadona, banyak yang memesan. Apalagi di Kabupaten Malang masih belum banyak orang, yang menekuni pembuatan tas batik tersebut.  Tas batik buatan Nailah Chamidah ini memiliki desain bagus.
Di tempatnya, juga banyak mesin jahit serta bordir. Biasanya, berbagai peralatan itu digunakan peserta didik dalam menjalani kursus menjahit. Siang hari, aktivitas kursus LKP terlihat menggeliat. Chamidah tidak canggung dengan mengajari peserta didik dalam kursus tersebut.
Jari jemarinya tampak lihai mengajari para peserta didik, cara menjahit kain batik. Dengan ramahnya dia juga melayani satu per satu peserta kursus. Semuanya kaum hawa. Ia menularkan ilmu yang dimiliki dengan penuh kesabaran, supaya peserta kursus dapat menyerap ilmu tersebut. Wanita berhijab ini juga mempraktikkan cara membuat gorden dari batik dengan menggunakan sebuah mesin jahit.
LKP tersebut mulai dibuka pada tahun 1983 silam. Awalnya, ia mendirikan lembaga kursus yang mulanya konsentrasi pada materi Bahasa Inggris dan mengetik. Kemudian, memasuki tahun 1990 berkembang menjadi kursus komputer, hingga menjahit. Sedangkan pada tahun 2000, barulah mengembangkan kursus menjahit yang terfokus pada batik.
Alasannya, karena Kabupaten Malang memiliki potensi batik yang beragam. Seperti Batik Druju Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Batik Sengguruh Kecamatan Kepanjen, Batik Singosari dan Batik Pandanmulyo Kecamatan Tajinan. Penasehat Asosiasi Profesi Batik Kabupaten Malang ini menceritakan, bahwa kain batik tidak hanya sebagai bahan baku pembuatan pakaian. Melainkan dapat digunakan aneka produk lainnya yang bernilai jual tinggi.
“Apalagi batik merupakan identitas bangsa ini. Selain itu, batik merupakan warisan dunia yang telah diakui UNESCO. Maka dari itu, potensi yang ada harus dikembangkan dengan baik. Sayang kalau hanya jadi kain,” papar ibu empat anak itu kepada Malang Post.
Respons masyarakat atas aneka produk dari kain batik, menurutnya luar biasa. Sehingga ia yakin, potensi ke depan juga bagus. Maka melalui LKP Ganesha yang dipimpinnya, ia mendorong peserta kursus dapat membuat aneka produk dari batik.
Agar kemampuan membuat kerajinan aneka batik ini juga dimiliki banyak kaum hawa. Lulusan  Universitas Negeri Malang (UM) juga terjun ke desa-desa membina ibu-ibu serta perempuan dalam membuat aneka produk batik. Hasilnya, antusiasme kaum hawa dalam membuat produk dari batik sangat tinggi.
“Pesanan aneka batik, biasanya menjelang hari raya Idul Fitri permintaan kami sangat tinggi. Karena digunakan untuk oleh-oleh sanak saudara. Contohnya, seperi tas dari batik,” tuturnya.
Saat musim nikahan, ia menyebut permintaan juga naik. Untuk satu dompet batik, dijual seharga Rp 20 ribu. Sedangkan minimal pesananan sebesar 10 buah. Sedangkan untuk satu tas yang bahannya percampuran kain batik dengan kain biasa, dijual seharga Rp 10 ribu per buah. Biasanya tas batik tersebut, digunakan sebagai souvenir bagi para tamu undangan yang mendatangi suatu pernikahan.
“Yang membuat semua produk ini, ya ibu-ibu binaan dari LKP Ganesha ini,” imbuhnya.
Melalui berbagai upaya yang dilakukannya ini, ia memiliki impian, batik Kabupaten Malang dapat berjaya. Apalagi dirinya sudah mencetuskan Kurikulum Batik di Kabupaten Malang. Bahkan Kurikulum Batik tersebut mulai disosialisasikannya pada 10 Februari 2018 besok BP-PAUD dan Pendidikan Masyarakat Provinsi Jawa Timur di Surabaya.
“Dari Kabupaten Malang sudah ada 15 peserta mengikuti sosialisasi yang saya adakan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur,” akunya.
Ia percaya, melalui sosialisasi Kurikulum Batik tersebut, ke depannya nama batik semakin mendunia. Khususnya di Kabupaten Malang, dia berharap semakin banyak lagi bermunculan produk kreatif berbahan dasar dari Kain Batik.(Binar Gumilang/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :