Marianus Sae Terima Suap Melalui Kartu ATM



JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (12/2/2018), menetapkan Marianus Sae Bupati Ngada yang juga bakal calon Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai tersangka penerima suap.
Selain Marianus, KPK juga menetapkan Wilhelmus Iwan Ulumbu Direktur PT Sinar 99 Permai sebagai tersangka pemberi suap. Penetapan status hukum itu dilakukan sesudah Penyidik KPK memeriksa kedua orang itu bersama tiga orang lainnya, yang pada Minggu (11/2/2018), terjaring operasi tangkap tangan (OTT).
Kini Bupati Ngada, Marianus Sae, resmi ditahan KPK. Marianus ditahan selama 20 hari ke depan di rumah tahanan (rutan). Dari pantauan, Marianus keluar dari ruang pemeriksaan pukul 17.03 WIB, Senin (12/2/2018). Tak ada keterangan apapun yang disampaikan Marianus. Tampak Marianus telah mengenakan rompi tahanan warna oranye. Dia kemudian dikawal menuju ke mobil tahanan.
"MSA (Marianus Sae) di Rutan Klas 1 Jakarta Timur cabang KPK," kata Plh Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriati, kemarin.
Basaria Panjaitan Wakil Ketua KPK dalam keterangan pers mengatakan, Marianus Sae tertangkap bersama Ambrosia Tirta Santi Ketua Tim Penguji Psikotes Calon Gubernur NTT, di sebuah hotel daerah Surabaya. Kemudian, Dionesisu Kila ajudan Bupati Ngada tertangkap di Kupang. Sedangkan Wilhelmus Iwan Ulumbu dan Petrus Pedulewari pegawai Bank BNI Cabang Bajawa, diamankan di Kota Bajawa, NTT.
Diduga, pemberian uang dari Wilhelmus kepada Marianus, adalah fee sejumlah proyek di Kabupaten Ngada. PT Sinar 99 Permai diketahui mengerjakan banyak proyek di Kabupaten Ngada sejak tahun 2011. Supaya pemberian suap tidak gampang terlacak, Wilhelmus membuka rekening Bank BNI sejak tahun 2011, dan pada tahun 2015, dia memberikan kartu ATM-nya kepada Marianus Sae.
"Modus dengan [kartu] ATM ini memang sekarang menjadi model yang baru karena mereka bisa lebih nyaman tidak perlu bawa bawa uang," kata dia.
Menurut Basaria, modus ini dilakukan ketika Wilhelmus mentransfer sejumlah uang ke rekening yang dibuka atas namanya sendiri, pada 2011. Lalu, ATM dari pembukaan rekening itu diberikan kepada Marianus.
"WIU (Wilhelmus) membuka rekening atas namanya sendiri sejak 2011, dan memberikan ATM dari rekening tersebut pada 2015 kepada MSA (Marianus)," ungkap Basaria.
Berdasarkan pemeriksaan awal, KPK mensinyalir Wilhelmus sudah memberikan uang sebanyak Rp4,1 miliar secara tunai dan transfer, sejak November 2017 sampai awal Februari 2018. Sebagai timbal balik, Marianus Sae menjanjikan sejumlah proyek tahun 2018 di Kabupaten Ngada yang nilainya sekitar Rp54 miliar, untuk dikerjakan perusahaan Wilhelmus.
Diantaranya, proyek pekerjaan pengerukan alur Pelabuhan Pulang Pisau Kalimantan Tengah tahun 2016 dan pekerjaan pengerukan alur pelayaran Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, 2016.
Marianus Sae adalah bakal Calon Gubernur NTT pada Pilkada 2018, yang diusung PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sebagai tersangka penerima suap, Marianus terancam jerat Pasal 12 huruf a atau huruf b, atau Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Sedangkan Wilhelmus tersangka pemberi suap, terancam jerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b, atau Pasal 13 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (cnn/dtc/udi) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :