MalangPost - Virus Corona Tidak Lebih Mematikan dari Demam Berdarah

Minggu, 09 Agustus 2020

  Mengikuti :

Virus Corona Tidak Lebih Mematikan dari Demam Berdarah

Selasa, 10 Mar 2020, Dibaca : 11199 Kali

Reaksi berlebihan atau over panic terhadap isu Virus Corona memang terjadi di Indonesia. Padahal, data menunjukan virus ini memiliki tingkat kematian yang lebih rendah dibanding penyakit akibat virus lainnya. Sebut saja SARS, MERS hingga Demam Berdarah (DB).
Hal ini dijelaskan salah satu peserta Diskusi Malang Post “Dampak Corona di Malang Raya” Jumat (6/3).  Staff Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi RSUD dr Saiful Anwar dr Heri Sutanto, SpPD mengatakan, tingkat kematian yang diakibatkan oleh Virus Corona (COVID-19) berkisar di angka 2 sampai lima persen saja.
“Bahkan lebih tinggi DB (Demam Berdarah) dari pada Corona tingkat kematian dari jumlah kasus yang ada,” jelas Heri.


Ia menjelaskan lebih jauh menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) World Health Organization (WHO) tingkat kematian akibat COVID-19 berkisar 2 sampai 5 persen lebih tinggi dari penyakit flu (seasonal flu) yang angka tingkat kematiannya 0,1 persen. Namun, angkanya lebih rendah dari tingkat kematian pada SARS yang sebesar 9,5 persen.
Tidaknya itu, virus yang belum lama ini juga menyebar yakni MERS (Middle East Respiratory Syndrome) tingkat kematiannya juga masih lebih tinggi daripada Virus Corona.
“Makanya kami juga sempat heran kenapa reaksi publik sebegitu paniknya. Padahal kasus SARS dan MERS yang lebih dulu dan lebih mematikan tidak mendapatkan perhatian sebesar ini,” papar Heri.


Kepanikan masal yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di Kota Malang akibat virus ini disumbang besar oleh informasi dari sosial media. Pada zaman SARS dan MERS merebak, diakuinya sosial media belum memiliki pergerakan secepat saat ini. Dia berpendapat bahwa kepanikan berlebihan warga yang akan jauh lebih membahayakan daripada Virus Corona itu sendiri.
“Karena seperti ini, rumah-rumah sakit yang ditunjuk untuk menangani pasien Virus Corona ini memiliki ruang-ruang isolasi yang terbatas. Apa jadinya jika semua kamar penuh pasien rujukan yang sebenarnya tidak terjangkit sama sekali. Tapi karena panik ia harus masuk,” tegasnya.


Jika hal ini terjadi, mereka yang benar-benar sakit tidak dapat tertangani dengan cepat dan efektif karena ruang isolasi penuh dengan mereka yang dirujuk.
Untuk itu tiap rumah sakit yang ditunjuk, salah satunya RS Saiful Anwar melakukan protap sesuai dengan arahan Kemenkes RI. Yakni melakukan beberapa tahap observasi, pemantauan dan pengawasan. Sebelum benar-benar menginstruksikan seseorang masuk kamar isolasi.
“Jika ada suspect kita harus memastikan ada banyak check list (indikator) yang dipenuhi sebelum ditangani serius. Pertama akan di observasi dulu, suspect observasi rumah saja diimbau tidak ke mana-mana dulu. Setelah 14 hari masih panas maka ada tahapan pengawasan dan pemantauan kemudian isolasi,” paparnya.


Heri kembali menjelaskan cara paling efektif menangani suspect Corona dapat Indonesia contoh dari negara Singapura. Ketika seseorang dinyatakan positif atau suspect Virus Corona maka pemerintah menelusuri dengan siapa sajakah suspect ini melakukan kontak belum lama ini.
Mereka yang menjalin kontak akan dihubungi via telepon satu per satu, ditanyakan apakah mengalami gejala-gejala sakit.
“Ini benar. Mereka yang suspect (terduga terjangkit,red) dan yang melakukan kontak tidak boleh langsung divonis terjangkit. Ini akan memberikan efek domino kepanikan masal yang akan merugikan,” tegasnya.


Di RS Saiful Anwar sendiri, seseorang yang datang dirujuk akibat mengalami gejala merujuk Virus Corona dilakukan pengawasan dulu, dengan uji laboratorium. Sample darah suspect akan dikirimkan terlebih dahulu ke Litbangkes Kemenkes RI.
Setelah hasil muncul barulah tim dokter dapat menyatakan positif atau negatif kah suspect tersebut. Jika dinyatakan negatif maka prosedural penanganan dilanjutkan biasa. Jika positif akan langsung dimasukan ke ruang isolasi.
“RSSA memiliki sekitar 80 bed untuk pasien yang diisolasi. Ini terbatas sama dengan RS dr Sutomo yang juga jadi rujukan utama pasien Virus Corona. Maka dari itu kita tetap meminta warga tidak panik jika mengetahui siapapun jatuh sakit,” tandasnya.


Melihat warga memborong semua persediaan masker dan hand-sanitizer hingga terjadi kelangkaan merupakan salah satu yang disayangkan. Pasalnya mereka yang benar-benar membutuhkan bisa tidak terlayani kebutuhannya.
Belum lagi kepanikan ini sudah mulai menjalar kepada kelangkaan beberapa bahan pokok rumah tangga. Hal ini tidak normal dan tidak seharusnya terjadi.
“Lebih baik satu orang sakit yang memakai masker, daripada 10 orang tidak sakit memakai masker,” pungkasnya.
Hal ini juga dibenarkan Kabid Pemasaran Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang Drs Heri Sunarko MSi,. Belum lama ini ia mendapati informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan melibatkan sebaran surat dari Palang Merah Indonesia (PMI).


Surat edaran itu perihal tindakan penyebaran virus Corona tertanggal 3 Maret 2020 itu, dikeluarkan Palang Merah Indonesia Jawa Timur dengan nomor surat 267/02.06/Yankes/III/2020.Dalam surat edaran surat yang dinilai hoaks itu, disebut jumlah warga Jawa Timur yang suspect virus Corona sebanyak 65 orang.
“Belum lagi ada informasi di RS Saiful Anwar sudah ada pasien meninggal akibat Corona. Dan semuanya tidak benar. Secepat dan seperti ini informasi yang beredar di media sosial. Membuat kepanikan publik. Ini yang harus diperangi,” papar Heri.


Untuk itulah Pemkot Malang melakukan berbagai edukasi kepada masyarakat secara terus menerus. Tidak hanya pada masyarakat tetapi juga pada tim puskesmas, manajemen apotek dan pedagang alat kesehatan di Kota Malang.
Beberapa hal sederhana juga dapat dilakukan masyrakat Kota Malang untuk mengantisipasi adanya virus masuk ke tubuh. Tidak perlu berlebihan menggunakan masker. Cukup dengan alkohol dan klorin. Hal inilah yang akan dibahas pada artikel diskusi selanjutnya.(ica/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina