Tak Minder karena Tuna Rungu, Latihan Melalui YouTube

Rabu, 16 Oktober 2019

Kamis, 29 Agu 2019, dibaca : 800 , vandri, stenly

KETERBATASAN bukan halangan untuk berprestasi. Ilyas Rachman Ryandhani membuktikannya. Karena prestasinya, bendera Merah Putih berkibar di negeri orang. Penyandang tuna rungu ini meraih tiga medali emas di ajang World Deaf Championship 2019 di Thailand, pertengahan Juli lalu.
 

Pebulutangkis Singosari Pemasok Emas Kejuaraan Dunia Disabilitas

Tekun berlatih dan spirit meraih prestasi berkobar-kobar. Sederet medali emas dikumpulkan Ilyas Rachman Ryandhani pada sejumlah level kejuaraan. Hingga akhirnya pria asal Singosari ini menjadi salah satu atlet kontingen Indonesia di World Deaf Championship. Ini merupakan kejuaraan dunia bulutangkis untuk penyandang disabilitas tuna rungu. Ilyas, bersama 11 atlet lainnya membawa nama Indonesia dalam ajang tersebut. Ia turun dalam kategori youth dan umum atau open serta untuk kategori beregu.
Di kategori youth, dia bermain di nomor tunggal putra, ganda putra dan ganda campuran. Sementara, untuk kategori umum, ia turun di dua nomor. Hebatnya, untuk kategori youth, Ilyas menyabet semua medali emas dari nomor yang diikuti itu.
“Saya ikut kategori open juga, cuma sampai delapan besar saja. Sedangkan untuk kategori youth, saya ikut tiga nomor dan semua dapat emas,” ujar Ilyas mengawali cerita.
Catatan emas tersebut semakin  membanggakan. Sebab, dia menjadi satu-satunya atlet Indonesia yang menyumbangkan emas. Dalam World Deaf 2019 itu, Indonesia mendapatkan tiga emas dan satu perunggu. 
 “Tentunya capaian ini membuat saya bangga bisa menyumbangkan emas untuk Indonesia,” bebernya.
Bukan hal mudah baginya memperoleh emas. Pemuda ramah ini mengakui tenaganya sangat terkuras. Pasalnya dia ikut serta dalam banyak nomor tanding.
“Itu jadi tantangan saya dalam turnamen. Saya gagal di nomor open, tetapi masih harus bertanding di nomor youth dan harus bisa mengatur energi,” paparnya kepada Malang Post.
Ilyas bersyukur, di nomor youth bisa memberikan tiga emas. Persiapan yang dilakukan beberapa bulan sebelumnya tidak sia-sia.
“Saya mulai intens latihan saat bulan puasa. Saya berusaha maksimal dan menambah jam latihan di luar jadwal rutin,” terangnya. 
Ilyas mengakui membawa bekal pengalaman bertanding di ajang Malaysia Asia Pasific Deaf Championship tahun sebelumnya. Dirinya percaya bisa memberikan hasil maksimal selama di Thailand, sekalipun harus bersaing dengan 27 negara.
Ini kali kedua anak kedua dari dua bersaudara itu bertanding di ajang internasional. Pertama di Malaysia, mendapat emas yang akhirnya menjadi jalan untuk ikut ajang lebih besar, World Deaf Championship 2019. “Dari Indonesia ada 12 atlet, baik yang turun di nomor youth, team, atau open,” tambahnya.
Ilyas pun patut berbangga dengan torehannya. Upayanya bersama orang tua yang sejak kecil tidak membatasi diri dengan kelemahan Ilyas, berbuah ketika remaja. Kesulitan pendengaran membuat ia kibarkan  bendera Merah Putih di ajang internasional.
“Saya diikutkan latihan sejak usia 5 tahun oleh orang tua. Awalnya, untuk mengisi waktu senggang dari pada bermain. Lalu saya sering ikut lomba sejak kelas 3 SD dan Alhamdulillah sering dapat nomor, meski tidak menjadi juara pertama,” jelas pria yang gemar bermain games tersebut.
Sejak saat itu, dia mulai suka dan menekuninya, hingga saat ini. Namun, bukan berarti usahanya mudah dan tanpa perjuangan. Ilyas mengakui sempat merasakan kesulitan. “Saya pastinya tidak paham istilah smash, backhand dan yang lainnya. Tetapi, pelatih memberikan penjelasan dengan memberikan contoh. Termasuk gerakan yang harus dilakukan,” imbuhnya. 
Tidak hanya itu, Ilyas belajar visual melalui tayangan YouTube. Ia melihat permainan beberapa pemain yang disukai pola mainnya. Lalu mencontoh gerakan-gerakan tersebut.
Kini prestasi Ilyas membawa dirinya tergabung dengan SGS PLN miliki Taufik Hidayat di Ciracas. Sejak awal tahun 2019 bergabung dengan klub yang berlatih di Taufik Hidayat Arena. 
Perjuangan dan prestasi Ilyas jadi inspirasi. Dia memberi semangat kepada anak-anak berkebutuhan khusus. “Buat teman-teman yang berkebutuhan khusus, jangan pernah menyerah dengan keadaan. Tunjukkan kekurangan kita sebagai kekuatan. Tetap semangat belajar, berlatih dan berjuang. Di hadapan Allah semua sama,” imbau pemuda kelahiran Karawang ini. (stenly rehardson/van)



Selasa, 15 Okt 2019

Timnas Makin Terpuruk

Selasa, 15 Okt 2019

Belajar Sabar dan Bijaksana

Loading...