Sukses Berkat Tidak Berani Membantah

Jumat, 18 Oktober 2019

Senin, 26 Agu 2019, dibaca : 317 , Rosida, Imam

MALANG - Kunci sukses kehidupan seseorang tergantung pada restu orang tua. Dalam agama secara tegas diajarkan, ridha Allah berada dalam keridhaan orang tua. Banyak orang sukses dalam pendidikan dan karirnya berkat keridhaan orang tua mereka.
Salah satu yang  memegang kuat ajaran tersebut adalah Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, AR, MS. Dalam kesempatan bertemu dengan Direktur Malang Post, Dewi Yuhana berserta tim redaksi beberapa hari yang lalu, pria ramah tersebut menuturkan, ketika memutuskan jadi dosen, sebenarnya beberapa pekerjaan lain menantinya. Seperti di Bulog dan juga Kementerian Koperasi menerimanya sebagai pegawai.
Hanya saja orang tua Nuhfil berkeinginan anaknya tersebut menjadi dosen. Sebagai anak yang patuh pada orang tua, ia tidak berani menolak apalagi membantah.
"Dengan ikhlas saya mencoba menjadi dosen, sesuai keinginan orang tua. Karena saya tidak berani membantah," ucapnya.
Demi mengikuti keinginan orang tuanya, akhirnya Nuhfil mulai diangkat menjadi dosen di Universitas Brawijaya tepat tanggal 1 Maret 1983 silam. Sejak itulah karirnya sebagai akademisi di lingkungan kampus berjalan mulus. Beberapa jabatan penting di kampus pernah didudukinya. Mulai dari ketua program studi hingga dekan Fakultas Peternakan.
Bahkan untuk menjadi rektor pun, pria yang hobi membaca ini tidak melalui proses yang rumit. Dia bahkan tidak pernah menjabat sebagai wakil rektor. Tetapi wakil dekan dan dekan fakultas di Fakultas Pertanian. "Saya menikmati saja, bahwa setiap tugas dan jabatan itu amanah yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya," katanya.
Ada pepatah yang mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mungkin itu yang terjadi pada Nuhfil dan anaknya saat ini. Kesalehan itu, ternyata menurun pada putra semata wayangnya. Menjadi anak yang tidak berani membantah pada orang tua. "Saya ingin dia (anaknya) itu menjadi seorang dokter. Tapi maunya jadi orang teknik. Dia tidak berani bilang, sampai gurunya yang menyampaikan ke saya, disitu saya menangis," tuturnya.
Di lingkungan akademisi, Nuhfil sebenarnya dikenal sosok yang kritis dan cenderung 'membantah' terhadap kebijakan yang tidak realistis dan tidak menguntungkan bagi instansi yang dipimpinnya. Sebaliknya, kepada orang tua pantang baginya untuk membantah.
Ia mengungkapkan, banyak hikmah yang didapat dengan sikap patuhnya pada orang tua. Selain karirnya yang cemerlang, hingga saat ini ia masih menikmati masa tugas dalam mengabdi pada negara. "Teman-teman seangkatan saya di Bulog itu sudah pensiun semua. Sementara saya masih belum, saya kira inilah buah saya mengikuti saran orang tua," ungkapnya sambil tertawa.
Masalah pendidikan pria dengan satu cucu ini menerangkan, bahwa keluarga merupakan pondasi utama dalam proses pembelajaran. Kesuksesan seseorang tidak lepas dari peran serta keluarga, terutama orang tua.
Menurutnya orang tua merupakan panutan dan teladan bagi anak-anaknya. Proses pendidikan hendaknya dimulai dari sejak kandungan, agar imbas pengajaran terhadap anak lebih cepat. "Pendidikan nomor satu ada di keluarga. Sementara anak kecil pencontoh paling perfect. Jadi kalau anak bagus pasti orang tuanya juga bagus. Demikian sebaliknya," kata dia.

Maka dari itu, lanjut Nuhfil, orang tua harus bersikap hati-hati di depan anak. Dalam segala hal, diupayakan tertib dan disiplin. Bahkan urusan kecil sekalipun. Seperti cara makan harus sambil duduk, sesuai ajaran agama. (imm/oci)



Loading...