Strateginya Bikin Capek Mahasiswa dengan Tugas Kampus

Jumat, 18 Oktober 2019

Rabu, 18 Sep 2019, dibaca : 675 , vandri, fino

PERGURUAN tinggi membeber sebagian dari sejumlah strategi membentengi mahasiswa dari penyalahgunaan narkoba. Namun persoalan ini tak bisa diatasi hanya satu pihak. Butuh sinergitas lintas elemen untuk memerangi narkoba.

Hal itu diungkapkan secara bergantian oleh pimpinan dan perwakilan perguruan tinggi yang mengikuti diskusi di Malang Post, Jumat (13/9). Rektor UMM Dr Fauzan MPd, menyebut bahwa narkotika adalah bagian dari beberapa penyakit mahasiswa di Kota Malang. Menurut dia, pemberantasan narkotika, tidak akan lepas dari peran kampus. Meskipun, tanggungjawab ini bukan cuma berada di pundak para pengelola pendidikan tinggi.
Masyarakat umum, pemerintah kota dan penegak hukum, harus turut ambil bagian. Tentu sesuai perannya masing-masing untuk membangun tembok panjang dan besar agar  membendung pengaruh narkotika. Pemberantasan narkoba saling terkait, tak bisa dilepaskan dari masing-masing pihak yang berada dalam komunitas besar bernama Kota Malang ini.
Secara internal, menurut Fauzan, UMM memiliki UKM Anti Napza. UKM ini penyampai pesan sebaya kepada para mahasiswa dan oleh mahasiswa, tentang bahaya narkoba, termasuk HIV/AIDS. Suara dan pesan anti narkoba, masih didengungkan oleh UKM Anti Napza sampai sekarang.
Tak hanya itu, Fauzan mendorong mahasiswa lewat regulasi kampus, untuk memperbanyak kegiatan akademis dan non akademis. “Mahasiswa harus sibuk mengaktualisasi diri lewat UKM, baik olahraga, seni dan agama. Sehingga, mereka tidak akan sempat mengurusi narkoba,” ujar Fauzan.
Sebagai anak muda yang menginjak fase kemandirian dan kedewasaan, aktualisasi diri paling penting. Sebab, jati diri akan terbentuk di kampus. Dengan siapa mereka berteman, bersama siapa mereka membangun komunikasi, dan dengan apa berkegiatan, akan menentukan masa depan mahasiswa.
Karena itu, Fauzan menegaskan, kesibukan positif di kampus, sangat didorong oleh pihak rektorat. Di sisi lain, pengawasan eksternal tetap diupayakan oleh UMM. Terutama, dalam aktivitas bina lingkungan kampus. Fauzan merinci, dia membangun Satuan Kerja untuk komunikasi dan kerjasama dengan RT, RW serta kepala desa dan muspika.  
“Satuan Kerja ini, akan bertempat tinggal di lingkungan kampung sekitar UMM, terutama kampung yang banyak menjadi tempat kos-kosan mahasiswa UMM. Dengan begitu, mereka tetap terpantau meski di luar kampus,” sambung Fauzan.
Secara preventif, Fauzan menegaskan pihaknya sudah melakukan tes wawancara sebelum menerima mahasiswa baru saat masuk UMM. “Saat mahasiswa akan masuk, kami lakukan tes wawancara. Sehingga bisa diketahui portofolionya. Kami juga undang orang tua, untuk menegaskan screening calon mahasiswa ini,” paparnya.
Hal senada diungkapkan Dr Pieter Sahertian MSi. Rektor Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) ini menyebut,  di kampus yang dipimpinnya memiliki UKM Garank, Gerakan Mahasiswa Anti Narkoba.
UKM ini yang menjadi pusat gerakan preventif terhadap peredaran narkotika di kampus Unikama. Dengan mengedepankan anggota UKM yang sejatinya adalah sebaya dengan teman-temannya, Pieter meyakini pesan anti narkoba bisa tersampaikan lebih efektif. Penyampaian pesan peer to peer dipercaya lebih efisien, ketimbang pihak kampus yang menyampaikan informasi secara top down.
“Ke depan, kami akan melakukan tes urine dadakan, pada masa awal, tengah dan akhir dalam masa studi mahasiswa ini, di samping tes kesehatan,” sambung Pieter.
Sedangkan di ITN, memiliki Persatuan Mahasiswa Anti Narkoba atau Pesan. Fungsinya sama, menjadi penyampai informasi anti narkoba secara peer to peer. Rektor ITN, Dr Ir Kustamar MT menyebut, solusi yang kurang lebih hampir sama dengan kampus UMM. Yakni, mendorong mahasiswa untuk berkegiatan akademis di kampus. ITN menerapkan kebijakan nilai dan kelulusan, sangat ditentukan oleh proses studi yang harus masuk ke ruang kuliah.
Penyalahgunaan narkoba bisa muncul di berbagai saat. Bisa saja muncul pada semester awal, tengah atau bahkan akhir. “Karena itu, kami lakukan tes urin acak, untuk mengontrol kondisi mahasiswa. Selain itu, kami menerapkan aturan, 70 persen nilai ditentukan oleh proses studi di kampus,” sambung Kustamar.
Sehingga, kehadiran mahasiswa dan kegiatan aktifnya di dalam kampus, akan menentukan kelulusan. Mahasiswa harus hadir di kampus, dengan harapan mereka bisa membangun pertemanan yang positif di dalam, dan mencegah pengaruh luar yang bisa saja disusupi pengedar narkotika.
“Kami mengupayakan mahasiswa supaya berkeringat. Jangan sampai mereka menganggur, kami mengharapkan mereka mendapatkan pressure yang positif, sehingga mereka terlalu capek untuk berpikir soal narkoba,” sambungnya.
Sementara itu, perwakilan UM, dari Dekanat Fakultas Psikologi,  Tutut Chusniyah menyebut UKM Gerakan Mahasiswa Anti Narkoba (German) UM masih aktif sampai sekarang.
Hanya saja, secara psikologis, pemberantasan narkotika harus melibatkan semua pihak. Baik pribadi mahasiswa, masyarakat umum dalam hal ini pemkot, Polres serta elemen warga, hingga kampus. “Secara individu, komunitas dan school, semua harus sama berjalan. Di mana mahasiswa itu berkumpul dan berteman, akan menentukan situasinya,” ujar Tutut.
Adanya pengedar yang menyusup di kampus, godaan teman, dan persoalan merupakan faktor eksternal yang bisa menyeret mahasiswa tersesat di dunia penyalahgunaan narkoba.
Persoalan eksternal ini, akan dilawan oleh kegiatan UKM anti narkoba, razia kepolisian dan BNN serta pengawasan masyarakat.“Namun, dari sisi intra personal, mahasiswa itu sendiri harus berani dan asertif dalam menolak narkoba,” pungkas Tutut.(fin/van)



Loading...