Semangat Patriotisme dari Patreta | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 18 Nov 2019, dibaca : 381 , rosida, Gevzi

Hey Genzier! Edisi kali ini, kru Genzi berkenalan dengan anggota Paskibra Mitreka Satata (Patreta). Pasukan pengibar bendera ini merupakan salah satu ekstrakurikuler di SMAN 1 Malang yang kece abis. Mau tahu lebih tentang keseruannya? Yuk kenalan lebih lanjut.
Patreta namanya, ekstrakurikuler yang biasanya bertugas menjalankan upacara di hari Senin atau hari-hari besar lainnya. Baris-berbaris adalah hal yang selalu dikaitkan dengan paskibra. Namun, tahukah kalian bahwa Paskibra itu nggak melulu tentang baris-berbaris?
“Semakin saya tahu tentang paskibra, semakin cinta juga saya dengan bangsa Indonesia. Melalui Paskibra inilah saya belajar menghargai bendera dan tanah air,” ujar Elfath Maghfira Pasha, Ketua Umum Patreta periode 2019/2020.
Selain itu, kata dia, anggota Paskibra juga belajar bagaimana bersikap baik, cara agar memiliki etika yang sopan, serta belajar banyak tentang bagaimana cara memposisikan diri di dalam lingkungan paskibra maupun di luar Paskibra.

Baca juga : Jihad Edukasi Menyelamatkan Permata Hati


Di SMA Negeri 1 Malang Paskibra merupakan salah satu ekstrakurikuler yang dipandang keren oleh para siswanya. Selama mengikuti pelatihan pengibaran para siswa terpilih pun bisa merasakan nyamannya menjadi bagian dari Patreta. Selain mempersiapkan fisik dan kelancaran untuk menggiring bendera merah-putih berkibar, mereka juga diberi pelajaran penting terkait tata krama dan sopan santun.
“Di Patreta saya diajarkan untuk membagi waktu dan prioritas. Ajaran itu membawa dampak baik pula dalam kegiatan sekolah maupun kegiatan pembelajaran. Pengalaman berharga menjadi Ketua Umum ini juga memberi saya pelajaran bahwa dalam mengambil keputusan saya harus bertanggung jawab. Apapun keputusan yang sudah diambil dan pilih harus saya jalankan dengan sepenuh hati hingga tuntas,” tambah Elfath dengan penuh antusias.
Selain ketua umum, di Patreta juga ada koordinator lapangan, namanya Johan. Menurutnya, paskibra adalah kunci perubahan hidupnya di masa SMA karena benefit yang sangat besar terasa ketika dia mulai mengikuti rangkaian kegiatan pengibaran.  
“Dulu saya malas dan acuh terhadap lingkungan. Di Patreta ini saya dibentuk. Memang tidak mudah melawan kemalasan. Tapi, setelah menjadi bagian dari Patreta, saya bertemu dengan banyak teman yang juga sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik. Karena itu, kini saya berhasil mengatasi kemalasan dengan banyak bantuan dari teman dan senior. Sekarang saya merasa menjadi pribadi yang jauh lebih terbuka terhadap orang lain,” terang Johan.
Banyak orang bilang menjadi seorang Paskibra itu capek, harus panas-panasan, latihan setiap hari, berdiri hormat kepada bendera berjam-jam, dan juga harus melakukan kegiatan fisik lainnya. Namun beda cerita dengan Johan dan anggota Patreta lainnya. Bagi mereka push up, sit up, dan back up merupakan makanan pokok sehari-hari. Sedangkan lari mengelilingi kompleks sekolah sebagai makanan tambahannya. Kegiatan-kegiatan seperti itulah yang justru meningkatkan kebugaran tubuh serta membangun kebersamaan dan kerekatan masing-masing anggota Patreta.
Wah, ternyata Patreta tidak hanya sebatas ekstrakurikuler biasa, tetapi juga merupakan keluarga bagi seluruh anggotanya. Dan kini, meskipun banyak anggota Patreta sudah lulus SMA, mulai dari PATRETA angkatan 1 hingga PATRETA angkatan 38, bukan berarti mereka lupa akan rumah tempat mereka pulang. Tempat di mana mereka bisa saling berbagi ilmu yang diajarkan secara turun menurun tentang bagaimana cara mencintai sesama manusia, negara, bendera pusaka, dan tanah air Indonesia. (*/oci)



Selasa, 03 Des 2019

Mari Saling Menguatkan

Minggu, 01 Des 2019

Selamatkan Dompet di Thrift Shop

Minggu, 01 Des 2019

Mengelola stres ketika UAS

Loading...