Sekda Gencarkan Manuver Politik

Jumat, 18 Oktober 2019

Senin, 09 Sep 2019, dibaca : 1164 , vandri, agung

MALANG - Sekda Kabupaten Malang, Ir  Didik Budi Muljono, MT terus memainkan manuver politik. Di berkas pendaftaran calon kepala daerah (cakada) melalui PDI Perjuangan, Didik tak memilih jabatan yang diincar. Ia pun berspekulasi, bisa saja berpasangan dengan atasannya, Plt Bupati Malang Drs. HM Sanusi.
Didik  mengaku tak mencantumkan pilihan yang diincar di Pilbup Malang tahun 2020.  Kolom pilihan jabatan yang diinginkan, N1 (calon bupati) dan N2 (calon wakil bupati)  tak diisi. "Dilihat saja. Belum...belum (belum diisi, red). Lihat saja nanti, karena tergantung dari DPP PDI Perjuangan," jelasnya usai menyerahkan berkas pendaftaran calon kepala daerah di kantor PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Minggu (8/9).
Birokrat berpengalaman ini memang bersemangat mendaftar sebagai calon kontestan Pilkada tahun depan. Ia tercatat sebagai orang yang pertama kali mengambil fomulir cakada partai pemenang Pemilu itu, Kamis (5/9) lalu. Didik pula yang pertama menyerahkan berkas pendaftaran. Padahal batas akhir pengembalian formulir pendaftaran pada 14 September mendatang.  
 Pejabat administratur tertinggi di Pemkab Malang itu datang di tempat pendaftaran pukul 09.40 WIB. Ia tiba sebelum petugas pendaftaran datang. Menurutnya, semua berkas pendaftaran sudah lengkap. Seperti ijazah, KTP, kartu keluarga hingga surat kesanggupan menjadi petugas partai.
Usai mengembalikan berkas pendaftaran, Didik menanggapi santai rencana pemanggilan oleh Plt Bupati Malang HM Sanusi. Ia mengatakan belum menerima surat panggilan sebagaimana rencana Sanusi.  
"Secepatnya nanti saya akan menemui beliaunya (Sanusi, red). Karena memang belum ada pemanggilan," ujar Didik.
Seperti diberitakan sebelumnya, Sanusi berencana panggil Didik lantaran mendaftar sebagai calon Bupati Malang di PDI Perjuangan.
Lebih lanjut mantan Inspektur Pemkab Malang itu mengatakan hanya sekadar mengambil dan menyerahkan berkas pendaftaran. "Jadi harus bisa membedakan antara pemerintahan dengan politik. Apalagi tahapan (Pilkada, red) juga masih jauh," jelasnya.
Soal nantinya ketika terpilih oleh PDI Perjuangan untuk maju Pilkada, Didik akan bekerja keras hadapi siapapun lawannya. Termasuk ketika nantinya harus melawan Sanusi sekalipun. "Tetapi lihat saja nanti perkembangannya seperti apa. Bisa saja nanti saya malah mendampingi beliau (Sanusi, red)," ucapnya.

Dua Parpol Komunikasi dengan PDIP
Sementara itu hingga Minggu (8/9) siang, PDI Perjuangan Kabupaten Malang baru menerima empat bakal calon yang mengambil formulir pendaftaran. Sementara yang sudah mengembalikan formulir, baru satu orang. Yakni Didik Budi Muljono.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto mengatakan, pihaknya  
hanya membuka pendaftaran dan menerima berkas persyaratan. Selanjutnya, berkas formulir yang sudah dikembalikan akan dilakukan verifikasi internal. Baru kemudian, berkas calon disampaikan ke DPD PDI Perjuangan Jawa Timur untuk diteruskan ke DPP PDI Perjuangan di Jakarta.
"Batas pengembalian formulir sampai 14 September. Berkas formulir yang sudah dikembalikan dan jika ada kekurangan, maka akan segera kami sampaikan supaya bisa dilengkapi sampai 12 September. Sedangkan batas pengambilan formulir 11 September," terang Didik, sembari mengatakan penetapan calon bupati dan wakil bupati merupakan kewenangan DPP PDI Perjuangan.
Pihaknya manargetkan usung satu paket calon di Pilkada 2020. Yakni selain mengusung bupati, juga wakil bupati. "Karena kami memiliki 12 kursi di DPRD Kabupaten Malang, sehingga bisa mengusung calon sendiri," jelasnya.
Namun demikian, lanjut Didik, PDI Perjuangan tidak menutup kemungkinan berkoalisi dengan partai politik (parpol) lain. Saat ini bahkan sudah menjalin  komunikasi dengan parpol lain.
"Meskipun bisa berangkat sendiri, tetapi dalam politik tidak boleh kaku. Sudah ada dua parpol yang berkomunikasi dengan PDI Perjuangan. Kalau sepakat yang jalan bareng untuk berkoalisi," paparnya. (agp/van)



Loading...