Renovasi Cagar Budaya, Tirulah BNI 46 dan Altara | Malang Post

Sabtu, 16 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 13 Okt 2019, dibaca : 765 , bagus, sisca

MALANG - BNI 46 dan pengelola Gedung Altara patut dijadikan contoh perombakan atau renovasi Cagar Budaya sesuai aturan. Tidak hanya BNI, beberapa kawasan gedung kuno lain yang saat ini sedang dikonsultasikan sejak awal dengan baik adalah Gedung Altara (Pasar Besar,red). Pihak owner rajin berkonsultasi dan berkoordinasi dengan TACB dalam semangat pelestarian CB.
Aturan mengenai perubahan benda cagar budaya, khususnya rumah, sudah diatur dalam Perda No 1 Tahun 2018 tentang Cagar Budaya Kota Malang. Jika melihat ke atas lagi ada pula UU No 11 tahun 2011 tentang Cagar Budaya yang dapat dijadikan acuan.
Yang perlu diketahui, bangunan CB tidak boleh dirombak total. Hanya 40 persen bagian saja yang bisa diubah, tampak depan (façade) tidak boleh diubah dan harus mendapatkan rekomendasi dulu dari TACB.
Ada beberapa bangunan CB di Kota Malang yang sudah ditetapkan dan berhasil direnovasi. Salah satunya adalah Gedung BNI di Jalan Basuki Rahmat. Proses dilalui sesuai aturan dan berhasil dirombak tanpa ada masalah.
CEO BNI Kanwil Malang Wiwi Suprihatno menjelaskan mekanisme yang dilakukan BNI dalam renovasi gedungnya. Sebelum membeli gedung tersebut pihak BNI sudah melakukan komunikasi dan konsultasi dengan Pemda.
“Dan Pemda, dalam hal ini TACB pun mengawal terus dan mendampingi,” tegas Wiwi sapaan akrabnya kepada Malang Post.
Ia mengatakan pihaknya sudah mengetahui bahwa gedung yang hendak dijadikan operasional bank tersebut berusia lebih dari 50 tahun lamanya. Atas dasar itu tim desain langsung diminta turun berkonsultasi. Untuk mengetahui apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada aktivitas perombakan gedung cagar.
“Kami pahami aturan dan memang dari manajemen kita ada pemahaman soal pelestarian budaya. BNI sendiri juga berdiri sejak tahun 1946 barang-barang aset kita juga ada yang masuk barang kuno. Jadi semangat untuk pelestarian memang sudah ada ,” papar Wiwi.
Menurut Wiwi perubahan pun dilakukan hanya di beberapa bagian saja, bagian depan atau façade tetap dipertahankan. Akan tetapi beberapa bagian atap yang sudah lapuk diganti.
Salah satu anggota TACB Kota Malang Budi Fathoni menegaskan, semangat dari pemilik bangunan cagar adalah yang utama. Owner atau pengelola harus benar-benar mengerti filosofi pelestarian budaya. Jika tidak maka akan melakukan perombakan seenaknya.
“Seharusnya memang seperti itu, mau baca, mau belajar. Ini untuk melindungi peninggalan budaya kan,” tegas Budi kepada Malang Post .(ica/ary)



Kamis, 14 Nov 2019

Mugiono: Saya Ini Dijebak

Kamis, 14 Nov 2019

Temukan Passionmu

Loading...