MalangPost - Rahmat Allah Selalu Memeluk Mesra

Minggu, 09 Agustus 2020

  Mengikuti :

Rahmat Allah Selalu Memeluk Mesra

Kamis, 18 Jun 2020, Dibaca : 4008 Kali

MILIAR debur ombak menghantam perahu.  Nelayan asyik memilah gelombang, melempar sauh, ikan pun terenyuh. Sungguh, kalau tidak karena rahmatNya, gelombang pun kan menghempaskannya. Allah itu satu, rahmatNya lipatan rindu.


Ada sebuah cerita di masa lalu, seorang raja memvonis mati seorang tukang kayu (najjar).  Kabar vonis mati itu terdengar nyata oleh si tukang kayu. Menghentak di telinganya.  Malamnya, ia tak mampu mengatupkan kedua matanya. Serasa ranjangnya dipenuhi jejarum yang menusuk, dan juga serupa letupan api yang membakarnya. Ia seperti pasrah, tapi resah. Ia ingin lari, tapi kemana? Seluruh pintu sudah tertutup rapat, tak ada celah untuk mengangkat kakinya.
Istrinya berkata; "Sayang..! Tukang kayu yang saya cintai. Tidurlah seperti malam-malam yang telah kau lewati dengan indah. Allah itu satu, pintu rahmatNya, tak berpintu".


Kata-kata itu mengalun lembut. Merasuk mesra ke hatinya. Kedua matanya pun mulai terkatup. Wajahnya berbinar-binar. Rupanya, ia sudah tertidur pulas. Hatinya benar-benar tenang.
Tidak lama kemudian. Pintu kamarnya berbunyi keras. Terdengar ketukan laki-laki seperti tentara menyeruak hentak, memekak telinga. Wajah si Tukang Kayu memutih beku, rasa takut  menyelimutinya. Ia menoleh pada kekasih yang dirindunya. Istrinya yang lagi terlelap di sampingnya. Tapi pandangannya sayu, lemah, tak berdaya, seperti dosa-dosa yang mau meng-adzab, dan mencoba mengingat kembali perkataan istrinya tadi. "Allah itu Satu, pintu rahmatNya tak berpintu, selalu terbuka pada sesiapa yang mengetuk pintu, atau pun tidak".


Ketukan pintu di depan kamarnya semakin mengeras. Ia langkahkah kedua kakinya walau serasa merekat di lantai. Ia buka pintu dengan kedua tangan yang begetar hebat, tetiba di depannya kedua tentara tegap berparang. Ia pun menjulurkan kedua tangannya yang penuh peluh dingin agar secepatnya diikat oleh tentara Raja.
Anehnya. Mulut tentara itu, seperti menahan nafas panjang. Dan keluar kata-kata yang membuat Tukang Kayu terperangah: "Sungguh, Raja telah wafat, aku ingin kau buatkan keranda untuknya".


Wajah Si Tukang Kayu memecah cahaya. Menoleh pada istrinya dengan seribu senyum di Bank mulutnya. Sepertinya si tukang kayu ingin meminta maaf pada istrinya karena memudarkan pesannya.
Tiba-tiba istrinya berucap dengan senyum mengembang, "Wahai Tukang Kayu,  tidurlah malam ini! seperti malam-malam nyenyak yang kau lewati,  Allah itu Satu, pintu rahmaNya terbuka selalu".
Vonis mati menjadi sirna. Si Tukang Kayu pun berlenggang dengan gembira, "Sungguh Allah Satu, banyak punya pintu." katanya dengan senyumnya.


MasyaAllah. Keyakinan akan rahmatNya mencapaikan cita indah. Kadang gagal masuk pada satu pintu, tetapi Allah memberikan pintu-pintu yang lain untuk bisa masuk. Kadang pintu itu lebih indah dengan kamar-kamar firdausnya.
Mengapa harus sedih ketika gagal dalam satu cita dan satu keinginan, bukankah Allah memiliki banyak pintu ( abwab mutafariqah wa katsirah). Maka, keyakinan akan rahmatNya yang tersebar dalam setiap ruang dan waktu, akan memberikan kebahagian dalam setiap detiknya. Allah satu, tapi pintuNya berjibun rindu. (*)

Oleh: Halimi Zuhdy
Pengasuh Ponpes Darun Nun Malang dan Guru BSA di UIN Maliki Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Halimi Zuhdy