Malang Post - PUSTAKAWAN MILENIAL SEPERTI PENJUAL KOPI

Senin, 30 Maret 2020

  Mengikuti :


PUSTAKAWAN MILENIAL SEPERTI PENJUAL KOPI

Senin, 24 Feb 2020

Perkembangan teknologi informasi era 4.0 sedang merambah dunia sekarang ini. Kemajuannya yang pesat dan tak terbendung memasuki setiap sisi kehidupan masyarakat. Pada era Revolusi Industri 4.0 masyarakat telah terbiasa terhubung dalam jaringan teknologi dan informasi. Iklim informasi digital menggiring manusia untuk melek teknologi dan mampu menghadapi perubahan di berbagai segi kehidupan. Melihat kondisi ini, pustakawan sebagai sumber daya manusia yang sangat berhubungan dengan informasi dituntut untuk mampu beradaptasi dan bertransformasi. Mereka ditantang oleh perkembangan zaman untuk lebih kompeten agar keberadaannya tidak hilang tergerus oleh zaman.

Pustakawan zaman now harus mampu menjadi tenaga profesional yang mampu bersinergi, memiliki kreativitas yang tinggi, inovatif dan tak segan untuk terus memperbaharui ilmu. Jika tidak, keberadaannya akan tergeser oleh kemajuan teknologi digital yang memanjakan dan memudahkan pengguna atau pemustaka untuk mendapatkan informasi yang mereka perlukan. Ini tantangan serius karena manusia modern selalu ingin dapat terpenuhi kebutuhannya secara cepat dan terkini. Dalam hal ini sudah tersedia di depan mata, kemudahan-kemudahan bagi mereka untuk mengakses informasi dari gadged dan media digital yang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Semua sudah tersedia dalam genggaman, di manapun mereka berada.

Sebagai langkah awal, seorang pustakawan harus memahami kebutuhan manusia di era kemajuan teknologi informasi ini. Mau tidak mau, pustakawan harus membekali diri dengan ilmu-ilmu baru, up to date, mau menerima, memaknai dan menjalankan perubahan dengan menunjukkan karya-karya nyata. Pustakawan bukan lagi sosok yang hanya duduk di belakang meja sirkulasi yang melayani pemustaka atau sosok yang mengatur tumpukan buku dalam rak perpustakaan. Bukan lagi yang bertahan dengan keberadaan perpustakaan konvensional yang lambat laun pasti akan jauh tertinggal. Jika tetap demikian bagaimana nasib mereka di era Revolusi Industri  ini?

Era 4.0 juga merupakan era disrupsi, yaitu era yang penuh ketidakpastian. Era disrupsi menghadirkan ketidakpastian dengan perubahan yang pesat. Dalam dunia perpustakaan, terlihat perubahan interaksi antara perpustakaan dengan pemustaka. Perubahan yang tidak hanya interaksi pustakawan dengan pemustaka, melainkan juga pustakawan dengan teknologi yang sedang berkembang. Dalam mengantisipasi fenomenal ketidakpastian di era disrupsi ini, pustakawan harus mampu mengembangkan kompetensinya. Tidak diam di tempat dan menyerah oleh keadaan.

Seperti penjual kopi kekinian yang gerainya mulai menjamur dan menjadi tren di Indonesia. Mereka menyajikan berbagai varian olahan minuman berbasis kopi. Mereka juga memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memasarkan olahan kopi mereka. Penjual kopi juga membekali diri dengan ilmu mengolah kopi, menggunakan mesin kopi modern dan ilmu marketing dalam pemasaran kopinya. Selain itu mereka juga telah merubah mind set dengan terbuka oleh perkembangan zaman dan jeli membaca selera pasar. Jika tidak gerainya dipastikan tidak akan bertahan lama.

Memaknai gambaran tersebut, dalam konteks ini seorang pustakawan diharapkan juga mampu seperti seorang penjual kopi yang terbuka oleh laju perkembangan teknologi kekinian. Pustakawan ibarat penjual kopi kekinian yang mampu berinovasi dan jeli pada selera pasar yang dalam hal ini adalah pemustaka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pustakawan harus bertindak sebagai mediator informasi bagi generasi milenial yang melek teknologi dan sosok yang peka oleh zaman hingga menjadi idola bagi pemustaka yang tergoda untuk mengunjungi perpustakaan.

Pustakawan era 4.0 tidak akan membiarkan perpustakaan sebagai gudang buku yang lama-lama menjadi museum buku-buku kuno. Ia akan menyulap perpustakaan menjadi café dengan meracik varian yang inovatif, baru, nikmat dan tentunya dikemas menarik. Tidak mudah karena dalam mewujudkan ini diperlukan perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan banyak hal. Dukungan dari lembaga yang membawahi perpustakaan sangat diperlukan. Selain itu sarana prasarana, infrastruktur, desain interior, jaringan komputer, perawatan dan pemeliharaan juga koleksi-koleksi yang baru menjadi hal yang sangat penting dalam tujuan memajukan sebuah perpustakaan.

Fungsi pustakawan sebagai pengelola perpustakaan dapat berubah seiring perkembangan zaman. Pustakawan harus mampu menggali potensi yang berbeda sebagai pesaing digitalisasi, yang bukan tidak mungkin di era mendatang yaitu era Society 5.0 atau era konstruksi masyarakat semua sudah digantikan oleh robot. Pustakawan diharapkan mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi semua orang yang sangat haus akan informasi-informasi terkini. Oleh karena itu, dengan membaca kondisi seperti ini, banyak lembaga yang mewadahi dalam memacu pustakawan untuk berkarya. Hal ini membutuhkan kreativitas dan antusias tinggi dari pihak pustakawan itu sendiri, terus diam di tempat atau maju dengan berkarya.  

Pustakawan zaman milenial diharapkan memaksimalkan perannya dalam mengembangkan perpustakaan menjadi tempat yang welcome yaitu nyaman dan dapat memenuhi kebutuhan pemustakanya, networking yang aktif berinteraksi dan berintegrasi dengan perpustakaan lain dan up to date dalam hal sumber-sumber informasi terkini.

Perpustakaan dapat menjadi pertimbangan sebagai tujuan menarik layaknya sebuah cafe  jika menyajikan koleksi yang beragam dan selalu baru, tempat yang bersih dan nyaman untuk belajar dan rekreasi, serta memiliki pustakawan yang handal dan kompeten. Perpustakaan yang dikemas dengan kriteria demikian akan menjadi tempat ‘nongkrong’ yang asyik sesuai dengan budaya kaum milenial. Jika budaya di cafe adalah nongkrong dengan ngopi maka budaya di perpustakaan adalah nongkrong dengan ngilmu.

Pustakawan milenial sama seperti penjual kopi kekinian yang selalu berinovasi seiring dengan lajunya arus perkembangan teknologi. Memacu kreativitas yang terbaik untuk eksistensi perpustakaan di tengah masyarakat. Ia akan mampu menghasilkan hal yang bermanfaat bagi segala lapisan masyarakat karena selalu mengasah ilmu dan melahirkan karya. Dengan demikian perpustakaan mampu berkontribusi dalam melahirkan generasi milenial yang maju dan berkarakter yang siap menghadapi era yang semakin rumit di masa mendatang. Semoga! (*)

Oleh: Yayuk Sulistyowati Maria Vitaliana

Pustakawan SMAK Corjesu dan Peserta Pelatihan Guru Menulis Malang Post

Editor : Redaksi
Penulis : Yayuk Sulistyowati

  Berita Lainnya





Loading...