Proyek Cable Car Tidak Pakai APBD

Jumat, 18 Oktober 2019

Rabu, 11 Sep 2019, dibaca : 357 , bagus, kris

BATU – Partisipasi masyarakat atau investor sangat terbuka untuk pengadaan Cable Car atau Kereta Gantung di Kota Batu. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Malang, menilai ada beberapa opsi untuk anggaran proyek dengan keterlibatan masyarakat, seperti obligasi atau saham. Namun yang penting adalah inisiatornya, penawaran kepada masyarakat boleh dilakukan jika ada garansi keamanan dan kenyamanan untuk menanamkan modal.
“Peluang inisiator melibatkan dana partisipasi masyarakat atau investor sangat terbuka untuk Cable Car ini. Itu karena aturan memang membolehkan. Banyak pilihan yang bisa dilakukan, antara lain melalui obligasi atau saham. Sistem mana yang bakal dipakai, itu tergantung inisiator,” ungkap Kepala OJK Perwakilan Malang, Sugiarto Kasmuri kepada Malang Post.
Dia juga ingin melihat siapa inisiator Cable Car di Kota Batu itu. Apakah inisator tersebut dilakukan Pemerintah atau Swasta. Jika Pemerintah, ada instrumen atau peraturan dari OJK maupun Kementerian Keuangan yang harus dilalui. Ketika instrumen itu dilakukan, maka akan bisa terbit obligasi daerah dan itu cara untuk menghimpun dana dari masyarakat atau investor.
Jika swasta, pihaknya juga ingin mengetahui swasta tersebut berbentuk perusahaan atau lainnya. Perusahaan ini nanti yang akan menghimpun dana partisipasi masyarakat atau investor melalui saham.
“Opsi mana yang akan dilakukan, tentunya tergantung kajian mendalam inisiator. Tentu semuanya juga akan melihat regulasi dan kendala-kendalanya. Kami juga sangat terbuka untuk melakukan koordinasi terkait regulasi untuk partispasi masyarakat dalam proyek ini,” terang dia.
Menurut Sugiarto yang juga hadir dalam sosialisasi Cable Car di Balai Kota Among Tani, Senin (9/9), acara itu adalah tahap awal sehingga belum ada penawaran umum untuk dana partisipasi masyarakat. Inisiator Cable Car atau Kereta Gantung tidak boleh melakukan penawaran umum dalam menghimpun dana partisipasi masyarakat atau investor.
Inisiator baru bisa melakukan penawaran jika proyek sudah jelas sehingga masyarakat akan mendapatkan keamanan dan kenyamanan ketika menanamkan modalnya.
Pembangunan Cable Car direncanakan pada akhir tahun 2020, sehingga masih butuh banyak kajian. Proyek strategis ini harus mengutamakan keselamatan, kelayakan, dan dampak lingkungan. Hal itu ikut disampaikan Kepala Bappeda Kota Batu, M. Chori.
“Masih butuh proses panjang untuk pembangunan kereta gantung. Mulai studi kelayakan, amdal, dan dampak sosial ekonomi. Termasuk pola kerja sama yang melibatkan masyarakat. Proyek ini rencananya sama sekali tidak menggunakan APBD,” ujar Chori kepada Malang Post, Selasa (10/9).
Dia menjelaskan, dengan adanya pendalaman kajian tersebut pihaknya tak bisa memastikan waktu pelaksanaannya. Semua juga tergantung dari tim konsultan kereta gantung.
“Pemerintah hanya support sebagai tim percepatan. Karena nantinya, kereta gantung akan dikelola oleh masyarakat dan pengusaha sebagai pemegang saham,” bebernya.
Dalam prosesnya, pembangunan kereta gantung yang membutuhkan investasi kasar sekitar Rp 300 miliar memang butuh waktu panjang. Proyek harus mendapatkan izin prinsip dahulu. Kemudian ada diskusi publik kembali untuk menyampaikan hasilnya. Setelah itu, lanjut dia, hasil dari studi kelayakan dan amdal lalin sudah lengkap akan diajukan ke Provinsi. Setelah Provinsi setuju akan dilanjutkan ke Kemenhub.
“Setelah selesai semua masih akan ada lagi tahapan untuk pembangunnya yang juga harus mendapat rekomendasi gubernur dan Kemenhub,” imbuhnya.
Namun, ia tak menyangkal pembangunan kereta gantung bisa selesai sebelum 2022. Karena proyek besar tersebut telah masuk dalam RPJMD Kota Batu tahun 2017-2022.
Chori juga menjelaskan, investasi yang diperkirakan sekitar Rp 300 miliar tersebut akan digunakan untuk perangkat, mulai mesin, stasiun, hingga pembebasan lahan. Begitu juga dengan fasilitas ruang publik, parkir, gerai UMKM, kuliner dan tentunya kereta gantung di atasnya yang menghubungkan tiga kecamatan di Kota Batu, Junrejo-Batu-Bumiaji.
Untuk besaran saham antara masyarakat dengan pengusaha, pihaknya tak bisa angkat bicara karena masih dalam kajian. Namun yang jelas ditegaskan Chori, dengan adanya kereta gantung akan meningkatkan perekonomian masyarakat Kota Batu.
Peningkatan ekonomi tersebut karena yang mengisi lapangan pekerjaan, mulai dari teknisi, operator, hingga gerai UMKM di setiap stasiun pemberhentian adalah warga Kota Batu. Kereta gantung, tidak akan menggilas wisata desa. Malah sebaliknya justru mengintegrasikan antar desa wisata.
“Ini nanti malah meningkatkan akses ke wisata desa. Bahkan , ada Kepala Desa yang meminta agar tiap desa bisa ada rute kereta gantung. Setidaknya ini masukan bagi tim konsultan kereta gantung,” imbuhnya.
Tak memungkinkan pula, nantinya kereta gantung menjadi bagian pemerintah. Tentunya melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) seperti Batu Wisata Resource (BWR).
“Namun pada intinya saat ini tim konsultan juga membentuk tim hukum. Tujuannya agar pembangunan yang dilaksanakan tidak terbentur dengan aturan yang ada. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” terangnya.
Sementara itu, CEO Among Tani Foundation, Ganisa Pratiwi Rumpoko menambahkan, rencananya kereta gantung dikerjakan tahun 2020. Tapi tak dipungkiri sampai saat ini semuanya masih dalam tahap pengkajian. Cable Car yang akan dibangun di KWB ini termasuk hal baru di Indonesia.
“Ini masih baru di Indonesia. Di tempat lain seperti Taman Mini dan Ancol itu hanya ada di satu kawasan. Karena itu untuk saat ini masih koordinasi dengan berbagai pihak terkait izin dan aturannya,” imbuh Ganis
Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa keselamatan, kelayakan, dan lingkungan jadi prioritas. Ia juga menegaskan untuk pendanaan sendiri sifatnya swasta. Jadi tidak menggunakan APBD. Begitu juga untuk pengelolaannya akan melibatkan masyarakat lokal Batu. Karena sesuai tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal.
“Harapannya, Cable Car ini jadi kebanggaan bersama yang dimiliki masyarakat Kota Batu. Namun untuk ke sana ada aturannya. Untuk itu juga hadir dari OJK yang harapannya bisa memberi masukan-masukan terkait hal tersebut,” terangnya.
Sementara itu, salah satu anggota DPRD Kota Batu, Heli Suyanto yang turut hadir dalam sosialiasi menanggapi bila kereta gantung masih dalam tahapan sosialisasi. Pihaknya menyambut baik proyek tersebemut karena melibatkan masyarakat serta masuk dalam RPJMD.
“Kami sambut baik sosialiasi . Tinggal regulasi bagaimana yang berpihak kepada masyarakat,” bebernya.(eri/ary)



Kamis, 17 Okt 2019

Anggota Dewan Sugandi Berpulang

Loading...