Ponsel Picu Kekerasan Terhadap Anak | Malang Post

Senin, 16 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Minggu, 17 Nov 2019, dibaca : 435 , Bagus, Kerisdiyanto

BATU - Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kota Batu cukup tinggi. Permasalahan terhadap anak dan perempuan menjadi perhatian tersendiri bagi Suara Perempuan Desa (SPD) Kota Batu. Menurut Ketua SPD Salma Safitri, telepon selular ternyata juga menjadi pemicu kekerasan terhadap anak.
Jumlah kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan seperti fenomena gunung es. Pasalnya tak banyak yang melapor. Dari kasus yang ditangani oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Di Kota Batu setiap tahunnya ada sekitar 20 kasus. Dengan banyak dari korban adalah kelangan ekonomi menengah ke bawah.
"Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan menjadi persoalan bersama yang harus diselesaikan. Karena banyak dari kasus tersebut tak dilaporkan ke oleh pihak keluarga," ujar Salma kepada Malang Post.
Ia menerangkan lebih lanjut, penyebab kekerasan pada anak dan perempuan karena dua faktor internal dan eksternal. Untuk faktor internal seperti adanya ketegangan dalam keluarga. Seperti hubungan suami istri atau hubungan keluarga besar tidak harmonis. Ini akan membuat orang cenderung melakukan kekerasan terhadap anak.
"Misal ketika orang tua yang sedang bekerja dimarahi atau ditekan di kantor. Ketika pulang ia bisa melampiaskan kemarahan terhadap istri. Kemudian istri kepada anak dan terjadi tindak kekerasan terhadap anak," bebernya.
Permalasahan kekerasan itu, ditegaskannya karena faktor relasi kuasa. Sehingga yang memiliki jabatan atau lebih tinggi atau besar akan memiliki sifat superior.
"Jadi majikan akan superior ke pegawai atau orang tua, orang tua laki-laki superior ke istri, istri ke superior ke anak. Itu akibat dari relasi kuasa dan tidak hanya terjadi pada ibu ke anak, tapi juga kakak ke adik, hingga teman yang lebih besar ke kecil. Kekerasan dilakuakn oleh orang yang punya relasi kuasa yang lebih tinggi dan kekerasan selalu melibatkan relasi kuasa," urainya.
Sedangkan untuk faktor eskternal seperti tekanan ekonomi karena kepala keluarga tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kemudian terakumulasi dan menyebabkan kekerasan terhadap anak.
Lebih lanjut, Salma mengungkapkan faktor eksternal lainnya apabila tidak banyak orang tua punya keterampilan dalam mengasuh anak yang baik. Itu karena mindset orang tua kawin dan punya anak.
"Jadi orang kawin begitu saja. Tidak punya pengtahuan membimbing anak. Apalagi anak-anak saat ini hidup dengan kemudanan komunikasi dan kemajuan teknologi," paparnya.
Kemudahan itu baik, tapi yang disayangkan informasi yang diterima anak-anak tidak hanya dari orang tua dan banyak orang tua yang gagap teknologi. Sehingga anak mudah mengakses apa saja tanpa pendamping dan pembelajaran dari orang tua.
"Nah ketegangan keluarga sekarang bertambah soal bagaimana perilaku anak menggunakan HP. Itu memicu juga terjadinya kekerasan anak," paparnya.
Dengan perkembangan teknologi, kekerasan tak hanya fisik dan verbal. Tapi bullying di sekolah juga banyak. Misalnya di  P2TP2A banyak menerima laporan kasus bullying melalui medsos.
"Bentuk-bentuk kekerasan lain yang mengunakan medsos beberapa yang terjadi di Kota Batu misalnya kasus anak-anak remaja yang pacaran kemudian disuruh berfoto tanpa busana oleh pacarnya. Kemudian saat hubungan renggang sang pacar mengancam dan menyebarkan foto-foto bugil. Ini terjadi di Kota Batu sebanyak dua kasus," terangnya.

Baca Juga :

Angkanya Turun di Kota Batu

Ada Balita di Bunuh Ayah Tiri


Namun sayangnya ketika dilaporkan ke Polisi tidak bisa diproses karena terkendala UU ITE.  Pasalnya UU ITE membuat orang yang ada di gambar juga dipidana.
"Jika kasus diteruskan perempuan dianggap juga bersalah. Meski bukan dia yang menyebarkan gambar atau korban jadi tersangka. Karena dalam UU ITE menerangkan bahwa barang siapa yang membuat dan membikin sendiri akan dipidanakan juga," ungkap Salma.
Apalagi, lanjut Salma, hakim dan polisi tak bisa melihat relasi kuasa yang timpang dalam hubungan pacaran. Bahwa, ditegaskan dia, polisi dan hakim melihat perempuan yang berhubungan atau pacaran berada sebagai sub ordinat atau bawahan.
Pandangan itu karena dilihat dari didikan yag selama ini tertanam di benak masyarakat bahwa perempuan harus nurut. Sehingga mereka tak bisa membedakan batas pacaran yang membuat seoramg perempuan harus nurut kepada laki-laki.
Lebih parahnya lagi anak-anak saat ini cepat juga cepat dewasa. Sehingga ketika terjadi kasus pelecehan seksual orang memandang dan menyangka bahwa pelecehan yang terjadi akibat dari suka sama suka. Harusnya kekerasan seksual itu masuk dalam tindakan pencabulan.
Dengan banyaknya faktor itulah kasus-kasus kekerasan pada anak diungkap Salma sangat kompleks. Dibutuhkan edukasi masif terhadap masyarakat agar mengerti dan tidak terjadi kekerasan terhadap anak dan perempuan.
"Jika Perda ini segera di sahkan, akan menjadi kewajiban Pemda menyiapakan anggaran khusus membantu korban melalui lembaga bantuan hukum (LBH) yang ditunjuk," imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Kepala DP3AP2KB - Mokhamad Forkan S.Pd S.E S.H M.M M.H mengungkapkan ada beberapa langkah yang dilakukan untuk penanganan kekerasan pada anak dan perempuan.
Langka preventif untuk mengurangi terjadinya kekerasan pada anak dan perempuan di Kota Batu antara lain dengan mendirikan lembaga pusat pelayanan keluarga (Puspaga) yang berfungsi sebagai tindakan promotif dan preventif. Di tempat tersebut pihaknya memberikan layanan kepada masyarakat terhadap kasus kekerasan.
Ia menerangkan lembaga tersebut buka setiap hari kerja di Gedung B lantai 2. Dengan ada tiga layanan yang di berikan, yaitu konseling, konsultasi, dan informasi.
"Di lembaga Puspaga tersebut ada konselor yang memberikan layanan secara gratis kepada masyarakat. Selain bersifat pelayanan kepada masyarakat yang datang untuk konsultasi ke puspaga Berkaitan dengan pola hidup, pola asuh, cara mendidik anak," urai Forkan.
Ia menerangkan, dari data yang ada di P2TP2A ada 18 kasus kekerasan hingga bulan ini yang ditangani. Dengan mayoritas adalah laporan KDRT dan kekerasan seksual.(eri/ary)



Senin, 16 Des 2019

Kaji Peredaran Narkoba

Senin, 16 Des 2019

Belum Punya Penghitung Inflasi

Minggu, 15 Des 2019

Jangkauan Pembeli Lebih Luas

Loading...