Pilot Wanita Pertama Pesawat C-130 Hercules | Malang Post

Rabu, 20 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 29 Sep 2019, dibaca : 27753 , aim, ira

MALANG - Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang memiliki pilot pertama di Indonesia yang menerbangkan pesawat Hercules milik TNI AU. Adalah Letda Pnb Anisa Amalia Octavia yang bertugas di Skadron 32 Lanud Abd Saleh.
Gadis kelahiran Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta ini merupakan alumni Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 2017. Kepada Malang Post, wanita berjilbab inipun menceritakan asal mula dia menjadi penerbang pesawat Hercules.
"Saya daftar di AAU tahun 2013 lalu. Ditempatkan disini (Lanud Abd Saleh) dan saya bangga, karena menjadi bagian dari para penerbang pesawat C-130 Hercules," kata Anisa mengawali ceritanya.
Sebelumnya, dia merupakan siswa SMA Taruna Nusantara lulus  tahun 2012.  Baru mendaftar di AAU tahun 2013 setelah ada  beberapa teman dan kakak kelasnya di SMA Taruna Nusantara, menganjurkan Nisa daftar. Karena merupakan tahun pertama AAU membuka pendaftaran untuk Taruni. Nisa menjalani pendidikan selama tiga tahun sebagai Taruni AAU.  Dari tiga tahun pendidikan yang dijalaninya, satu tahun mengikuti pendidikan di Magelang, dua tahun di Yogyakarta.
"Kelulusan kami saat itu disaksikan langsung oleh bapak Presiden RI Joko Widodo," tambah Nisa sembari tersenyum.
Kendati demikian bukan berarti dia langsung jadi penerbang. Setelah lulus Nisa harus lebih dulu mengikuti KIBI (Kursus. Intensif Bahasa Inggris) dan mengikuti tes untuk sekolah penerbang. Dari 44 taruni yang daftar, dua orang lolos, Anisa Amelia Octavia dan Mega Coftiana. Mega saat inI bertugas di Skadron 4 Lanud Abd Saleh yang menerbangkan pesawat C-212.
Dia memulainya dengan menerbangkan pesawat latih jenis TP-120, kemudian dia melanjutkan dengan menerbangkan pesawat KT 1 B. Dan di Sekbang juga, Nisa juga menerbangkan pesawat tempur.
Hingga akhirnya, Juni tahun 2019 lalu, Nisa lulus dan langsung ditempatkan di Skadron Udara 32. "Senang, karena bisa lulus taruni dan Sekbang itu kebanggaan tersendiri. Apalagi saya wanita  pertama yang menerbangkan pesawat. Hercules," urainya dengan tersenyum.
Di Skadron 32, Nisa mulai belajar terbang tiga pekan terakhir. Dia baru menjalankan 6 shorty penerbangan, dengan masing-masing shorty ditempuh 80 menit. Nisa pun mengaku menerbangkan pesawat Hercules sangat berat baginya. Terlebih saat handling, baik take off maupun landing. Sekalipun dia bukan pilot utama, tapi Nisa yang kini sudah memiliki 8 jam terbang ini mengaku kewalahan saat handling.
"Sulit itu sepertinya saat take off. Karena saya belum bisa menerbangkan dengan stabil sehingga hidung pesawat cenderung menukik ke atas,"tambahnya.
Di juga sempat reflek dengan kedua tangannya memegang handle pesawat saat pesawat hendak tinggal landas.
"Iya karena berat, sehingga saya reflek pegang handle pesawat dengan dua tangan," urainya sembari tersenyum.
Karena itu, kerap mendapatkan hukuman.
"Yang sering hukuman yang saya terima adalah diturunkan di ujung run way, kemudian disuruh lari mengejar pesawat Hercules," tambahnya.
Meski demikian, Nisa tidak kapok. Dia terus berlatih dan berlatih. "Ya karena Hercules adalah pesawat angkut yang memiliki empat mesin di tubuhnya. Jadi berat sekali,"ungkapnya.
Tapi Nisa juga tidak mau menyerah. Agar tangannya kuat, setiap hari dia latihan barbel, angkat beban, push up dan masih banyak lagi.
"Saya ingin menjadi pilot profesional yang memberikan pelayanan kepada masyarakat secara total," tandasnya.(ira/aim)



Loading...