MalangPost - Perjuangan Dakwah Gus Wahid Mulai Dari Anak Jalanan

Senin, 10 Agustus 2020

  Mengikuti :

Perjuangan Dakwah Gus Wahid Mulai Dari Anak Jalanan

Senin, 06 Jul 2020, Dibaca : 3456 Kali

Kesan kebanyakan orang terhadap KH Abdul Wahid Ghozali SAg atau yang akrab disapa Gus Wahid Arema adalah humoris dan selalu memakai bahasa khas Ngalaman atau boso kiwalan. Dengan begitu, tausyiahnya bisa diterima banyak khalayak.

 

Namun, semuanya itu kini tinggal kenangan karena Gus Wahid wafat pada Sabtu (4/7/2020) sekitar pukul 05.30 WIB, saat memberi tausyiah kepada para santrinya di Pondok Pesantren (Ponpes) As-Salam, Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabuapten Malang. 

Kabar duka ini mengejutkan seluruh lapisan masyarakat. Mereka merasa kehilangan atas kepergian Gus Wahid yang dekat dengan para musisi di Malang maupun para pengurus dan pemain Arema serta Aremania ini.

“Beliau dulu juga salah satu gitaris rock saat jaman kuliah, yang kami ingat membawakan lagu-lagu Scorpion,” kenang H Ade Herawanto, owner band d’Kross, kemarin.
Selain musisi, Gus Wahid mudanya juga seorang petinju. Beliau mengaku sangat mencintai olahraga ini. Karena itu, saat d”Kross BC melahirkan petinju juara dunia, Gus Wahid langsung WA Ade mengucapkan selamat. “Saya merasa kehilangan sosok beliau yang sangat baik itu,” ujar Ade. 

Menurut Dr H Ahmad Nurcholis Ghozali, adik kandung Gus Wahid, adiknya memulai dakwah dari masjid ke masjid. Perjuangan dakwahnya dari anak jalanan (anjal), perjuangan dakwahnyajuga dari Lembaga Pemasyarakatan (LP), dan dari bidan pendidikan , dengan membawa ideologi yang benar, idelogi Pancasila yang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebelumnya dia aktif di MUIKabupaten Malang. Gus Wahid juga menjadi penasihat di kepolisian dan di instansi pemerintahan . Gus Wahid berpesan kepada masyarakat muslim agar meneruskan perjuangan dakwah yang dia bina selama ini, khususnya jamaah As-Salam Singosari

Sebelum beliau meninggal , malam harinya setelah Isya’ Gus WahidSalat Tasbih  melakukan Zikir bersama jamaah. SetelahSalat Subuh , kemudian beliau mengajar taklim untuk para santrinya.

Malam hariannya beliau mengeluh bawasanan sedikit tekanan dan ada juga mengalami sesak di dada yaitu di jatungnya. Pada pukul 05.30 WIB di saat mengajar santrinya, beliau dipanggil Allah SWT.

Sosok almarhum merupakan salah satu ulama pemersatu semua kalangan, dan selalu menjadi penangah jika terdapat konflik di masyarakat. Sebelum dimakamkan di kompleks pemakaman dalam Ponpes As-Salam seusai Salat Dzuhur, masyarakat silih berganti memasuki masjid di lingkungan ponpes untuk melaksanakan Salat Jenazah.(jof)  

Editor : Redaksi
Penulis : Jofan