Perangi Bandar, Desak Kaderisasi Mahasiswa Anti Narkoba

Jumat, 18 Oktober 2019

Selasa, 17 Sep 2019, dibaca : 435 , vandri, fino

PEMBERANTASAN penyalahgunaan narkoba tak hanya melalui penegakan hukum. Upaya pencegahan juga harus diutamakan. Sehingga mahasiswa steril dan jauh dari obat-obatan terlarang. Salah satu upaya pencegahan yakni kaderisasi mahasiswa tentang pengetahuan perangi narkoba.
=======

Diskusi rutin Malang Post tentang upaya membentengi mahasiswa baru dari bahaya narkotika, tak hanya membahas soal sisi penegakan hukum. Namun pencegahan sangatlah penting. Agar efektif, dibutuhkan cara yang tepat. Selain itu harus disesuaikan kondisi lapangan sehingga tepat sasaran.  
Tak hanya dihadiri para rektor dari berbagai perguruan tinggi, diskusi yang dimoderatori Sekretaris Redaksi Malang Post Abdul Halim itu juga diikuti mantan pecandu narkoba, Donny Andreas. Ia telah meninggalkan dunia penyalahgunaan narkoba. Donny kini berada di titik balik dengan memerangi penyalahgunaan narkoba.
Di hadapan perwakilan Polres Makota, BNN serta LSM, Donny memaparkan soal adiksi yang menyerang para pecandu. “Recovering addict, yang baru bisa berhenti recovery setelah meninggal. Dalam kecanduan, tidak ada istilah pulih. Adiksi narkotika adalah penyakit otak kronis, yang hanya bisa dipulihkan, saya bisa kambuh. Saya, kurang lebih sudah enam tahun clean,” ujar Donny di ruang diskusi.
Donny lalu menceritakan petualangannya dalam dunia narkotika. Awalnya sejak masa remaja. Sejak SD, Donny yang kelahiran 1977 ini sudah menyentuh minuman keras dan rokok. Pria lulusan Lido pusat rehabilitasi narkotika BNN di Bogor ini mulai masuk ke dunia obat, ketika duduk di bangku SMP. Saat memasuki usia SMP, Donny dijuluki oleh teman-temannya sebagai apotek berjalan. Itu karena ia sangat hafal jenis-jenis obat untuk mabuk.
Mulai dari anti depresan, daftar G dan semua obat keras yang menurutnya bisa memberi efek fly. Begitu memasuki masa SMA, Donny semakin gila. Ia mulai menyentuh narkotika kelas kakap. Dia mengenal putaw pada era 1990-an. Sebelum UU Psikotropika lahir dan tenar dengan penangkapan Ratu Ekstasi Zarima, para pecandu bebas berkeliaran. Tak terkecuali, Donny.
Saat masa aktif menggunakan narkoba, Donny membeber kampus merupakan salah satu kawasan yang dikunjunginya untuk nge-fly. “Semua kampus sudah saya datangi. Dulu, saya datang ke kampus untuk makai. Karena dulu bebas, dan pada era itu kepolisian belum bisa melakukan penangkapan ketika masih ada otonomi kampus,” beber Donny.
Seorang bandar putaw, awalnya adalah seorang pemakai. Donny membeberkan, karena seringnya memakai putaw, tubuh menciptakan resistensi terhadap kadar awal. Sehingga, kuantitas putaw harus ditambah. Praktis, pemakai akhirnya memakai segala cara, untuk menjadi pengedar, demi menutup kebutuhan adiksinya yang meningkat.
Donny, sudah pernah menghuni sel Polres Makota dan LP Lowokwaru karena penyalahgunaan narkoba. Namun ia bisa melepaskan diri dari narkotika. Itu terjadi pada tahun 2013. Donny yang sudah frustasi karena tersiksa sakaw, menyerahkan diri ke BNN Kota Malang. Dari sini, Donny langsung dikirim ke Lido Bogor untuk menjalani rehabilitasi.
“Di sana, saya hidup seperti di pondok, bahkan lebih keras. Semuanya disiplin, kegiatan full. Tapi, berkat rehabilitasi ini pula, saya bisa obstinansi atau clean sampai sekarang, kurang lebih enam tahun. Saya juga sempat direkrut BNN selama tiga tahun untuk jadi konselor,” tambah Donny.
Dia mengatakan, mata rantai narkotika yang mengincar mahasiswa, harus diputus oleh pihak kampus, masyarakat, mahasiswa itu sendiri, dan tentu pemerintah. Dalam hal ini, Polres Makota, Pemkot Malang dan BNN Kota Malang. Pendek kata, pemberantasan narkoba adalah tanggungjawab semua elemen.
Secara khusus, Donny menjelaskan bahwa kampus, harus mendorong adanya kaderisasi mahasiswa anti narkoba yang diwujudkan lewat unit kegiatan mahasiswa (UKM). Kampus-kampus yang diundang ke diskusi Malang Post, memiliki organisasi mahasiswa yang peduli terhadap pemberantasan narkotika di kalangan mahasiswa.
Namun Donny mengkritik minimnya kaderisasi yang berkelanjutan dari senior ke junior. Dia menggarisbawahi pentingnya pengetahuan soal bahaya narkotika jangan sampai terputus. Sehingga informasi tentang dampak narkotika, efek buruknya terhadap kesehatan, tidak sampai hilang.  
Donny juga merinci, masyarakat harus terus didorong untuk membongkar stigma terhadap mantan pengguna. “Mari melawan pengedar, dan menyelamatkan manusianya. Karena, saya sendiri merasakan stigma ini. Baru BNN, yang tidak memandang latar belakang saya, ketika mempekerjakan saya sebagai konselor anti narkoba,” ujar Donny.
Sementara itu, Ibnu Sattar dan Safrizal dari LSM Sadar Hati mengadvokasi dan menggelar kampanye anti narkoba kepada anak-anak muda. Mereka mengumpulkan banyak testimoni soal keterlibatan mahasiswa dengan narkoba. Hampir di setiap kampus ada pengguna. Jelang akhir semester hingga akhir semester merupakan fase rentan terlibat narkoba.  Mereka sebelumnya sudah alkoholik, lalu akhirnya mencoba sabu, ganja hingga obat-obat keras untuk mabuk. Berbagai persoalan melatarbelakanginya. Bahkan frustasi karena kuliah tak segera selesai bisa saja jadi pemicu. Karena itu, peran kampus kini semakin krusial dalam melindungi mahasiswanya dari pengaruh narkotika.(fin/van/bersambung)



Loading...