MalangPost - Pemain Arema Dibayar Seperempat Gaji

Senin, 10 Agustus 2020

  Mengikuti :

Pemain Arema Dibayar Seperempat Gaji

Minggu, 05 Jul 2020, Dibaca : 3147 Kali

MALANG – Federasi sepak bola Indonesia memutuskan, lanjutan kompetisi Liga 1 2020, digelar Oktober mendatang. Meski hingga kemarin, tanggal tepatnya belum pasti. PSSI  juga sudah memberikan aturan-aturan yang lain, untuk menggelar kompetisi di masa pandemi covid-19 ini. Salah satunya menyangkut gaji pemain dan pelatih.

Jika kompetisi digelar Oktober, PSSI meminta klub membayar gaji pemain sebesar 50 persen, sejak September. Sementara masa gajian pada Maret – Juni, dibayar 25 persen.

‘’Nah untuk gaji bulan Juli – Agustus, klub diberi kesempatan negosiasi. Jika tidak ada titik temu, dikembalikan pada aturan PSSI yang lama. Yakni pemain mendapat gaji 25 persen,’’ ujar General Manager Arema, Ruddy Widodo, kepada Malang Post.

 

Disebutkan Ruddy, besaran pemberian gaji pemain itu, sudah melalui proses pembahasan antara PSSI dengan asosiasi pemain (Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia), maupun asosiasi pelatih (Asosiasi Pelatih Indonesia).

‘’Sebenarnya antar klub itu, belum ada kesamaan putusan soal besaran gaji pemain. Mau diberikan berapa persen dalam situasi seperti ini. Karenanya, 18 klub yang ikut Liga 1, menyerahkan ke Federasi (PSSI, Red.). Dan keluarlah keputusan itu,’’ sebut pengusaha travel ini.

Putusan itu adalah, membayar gaji pemain pada Maret – Juni sebesar 25 persen. Kemudian gaji Juli – Agustus, diminta negosiasi. Jika tidak bisa, kembali ke putusan penggajian 25 persen. Sebulan sebelum kompetisi dimulai, gaji harus dibayar 50 persen.

Artinya, masih menurut Ruddy, jika kompetisi nanti digelar Oktober, pemain akan mendapat gaji 50 persen. Sampai kompetisi berakhir pada Februari 2021 mendatang. ‘’Karena sekarang masih bulan Juli, jadinya pemain mendapat gaji 25 persen,’’ jelasnya.

 

Tidak hanya gaji pemain yang dipangkas, Ruddy juga menyebut beberapa fasilitas pemain dan pelatih, terpaksa disesuai dengan kondisi perekonomian. Semuanya dipangkas. Misal untuk jatah rumah, harganya menyesuaikan.

‘’Jika biasanya Rp 100 juta, sekarang cuma Rp 50 juta. Yang biasanya bonus, misalnya, Rp 10 juta, sekarang jadi Rp 5 juta. Pokoknya disesuaikan situasi. Karena sumber pendanaan klub juga turun dratis,’’ imbuh pria berkacamata ini.

Dalam situasi seperti sekarang, Ruddy berharap agar subdisi PSSI, bisa segera turun. Terakhir subsidi itu baru cair Februari lalu. Besarnya Rp 520 juta sebulan. Setelah dipotong pajak tinggal Rp 509 juta. 

Apakah cukup subsidi itu untuk bayar gaji pemain? Ruddy hanya tertawa. ‘’Yo ora cukup, Mas. Sampeyan ngerti sendiri, berapa kontrak pemain. Besar-besar dan banyak.’’

 

Jangankan untuk membayar gaji pemain, sebutnya, dana subsidi PSSI itu jika dibayarkan untuk pegawai dan pendukung tim lainnya saja, tidak cukup. Masih kurang sangat banyak.

‘’Mau tidak mau, kita harus sambat ke owner. Bagaimana lagi. Kompetisi belum digelar. Sponsor juga seperti itu. Semua kena covid. Semoga saja owner masih bisa terus menghidupi Arema,’’ demikian ujar pria kelahiran Madiun ini. (avi)

Editor : Redaksi
Penulis : Sunaviv