Pak Presiden Jangan Ingkar Janji Ya... | Malang Post

Sabtu, 16 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 20 Okt 2019, dibaca : 1089 , bagus, sisca

MALANG - Malang Raya berharap besar kepada Presiden Joko Widodo yang dilantik Minggu (20/10) hari ini. Warga negara dari kalangan milenial, ingin Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin amanah dan tidak ingkar janji. Serta bisa menghapus ketakutan para milenial atas kurangnya lapangan pekerjaan.
Hal itu diungkapkan Rukhuddin Maulana Fakhrur Rizal warga Jalan Agus Salim no 113 Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu berharap cemas menunggu wisuda. Pasalnya setelah wisuda dan mendapat gelar sarjana, ia harus terjun dalam dunia kerja yang bisa dibilang tidak mudah. Setelah lulus kuliah artinya ia harus bisa segera mencari kerja.
Ia mengungkapkan, lulus kuliah menjadi sebuah kebanggaan sekaligus ketakutan. Ketakutan yang ia maksud adalah tidak mendapat kerja karena banyaknya lulusan sarjana yang menganggur setiap tahunnya. Sehingga para luludan sarjana harus saling bersaing.
"Saya berharap bahwa dengan dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden kali ini bisa amanah, benar-benar mengayomi masyarakat dan tidak ingkar janji. Terutama bagi fresh graduate seperti saya," bebernya.
Ia meminta, pemerintah bisa membekali setiap lulusan dengan pelatihan sesuai jurusannya masing-masing. Untuk kemudian direkomendasikan lapangan pekerjaan sesuai dengan jurusannya.
"Kenapa saya berharap begitu? Itu karena saat ini banyak lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan skillnya hingga keterbatasan lapangan kerja yang membutuhkan tenaganya," imbuh laki-laki yang bakal wisuda tanggal 26 Oktober ini.
Ia mencontoh, misalnya lulusan S1 arsitek. Target menjadi arsitektur, namun karena minimnya lapangan kerja, diungkapnya akhirnya terpaksa bekerja menjadi Gojek. Tak hanya itu, ia berharap pemerintah harus memperluas lapangan pekerjaan. Bahkan mempermudah pinjaman bagi lulusan kuliah untuk membuka usaha, namun dengan syarat bagi peminjam uang harus benar-benar memiliki keahlian dibidangnya.
Syarat tersebut misalnya perlu adanya presentasi usaha yang akan dilakukan dan keahlian yang dimiliki sebelum pinjaman dicairkan. Itu diungkapnya karena banyak SDM lulusan PTS/N yang berkualitas tetapi tak memiliki modal dan harus bekerja serabutan.
Hal senada diungkapkan Sasi Sugiawan. Pria 29 tahun, warga Dusun Nusantoro, Desa Ampeldento, Kecamatan Pakis ini memiliki harapan yang sangat besar pada kedua tokoh tersebut. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai satpam ini mengaku, saat ini  Indonesia dilanda krisis lapangan pekerjaan. Dan itu dibuktikan dengan masih tingginya angka pengangguran.
”Di wilayah kami saja, banyak lulusan SMA maupun SMK juga sarjana menganggur. Bukan karena mereka malas bekerja, atau tidak kreatif. Tapi memang lapangan pekerjaannya yang tidak ada,’’ ungkapnya.
Sasi begitu dia akrab dipanggil mengaku, pemerintah menekankan agar masyarakat tidak tergantung dengan lapangan pekerjaan, tapi lebih pada menciptakan lapangan pekerjaan. ”Ini juga tidak setuju. Saat menciptakan lapangan pekerjaan, dibutuhkan modal. Sementara untuk warga menengah ke bawah seperti kami, jangankan sebagai modal, untuk makan sehari-hari saja, masih banyak yang bingung,’’ tambah Sasi.

Tarif Naik, Layanan Publik Harus Ikut Naik
Sementara itu, Joyce Perdana Kemala, Notaris alumnus Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) Malang, ingin peningkatan kualitas pelayanan publik dan fasilitas umum, sebanding dengan naiknya tarif pelayanan publik. Ia berkaca pada kebijakan baru-baru ini oleh pemerintah pusat, misalnya naiknya premi iuran BPJS Kesehatan.  
“Ya harapannya dengan naiknya harga segalanya sejalan dengan fasilitas umum, pelayanan publik, dan hilangnya pungli. Ini harus diperhatikan betul oleh presiden dan kabinet-kabinetnya,” tegasnya.
Lebih spesifik lagi adalah berkaitan dengan peningkatan SDM warga. Ia meminta Jokowi dan kabinetnya khususnya Menteri Agama atau Menteri Pemberdayaan Perempuan hingga Kemenkunham memperhatikan isu pernikahan di bawah umur. Ia mengatakan sudah saatnya pemerintah berhenti berikan izin dispensasi bagi anak dibawah umur untuk menikah.
“Banyak sekali ortu menikahkan anaknya di bawah umur entah karena ekonomi, memindahkan tanggung jawab, atau karena hamil duluan. Banyak masalah berawal dari anak-anak yang tidak siap lahir batin menikah. Gak siap ekonomi akhirnya berujung dengan penelantaran, prostitusi dan terorisme,” pungkasnya.
Andi Patra, seorang karyawan perusahaan swasta bahkan menginginkan hal lebih sederhana. Yakni pembasmian oknum-oknum pemecah belah NKRI. Ia meminta pemerintahan Jokowi mampu tegas menindak oknum tersebut. Menciptakan kondusifitas di berbagai daerah, dinilai Andi sebagai hal yang utama untuk diseriusi pemerintahan kedepan.
“Intinya bikin negara kondusif. Mereka yang terbukti ingin memecah belah, melakukan aksi yang tidak sejalan dengan nilai pancasila harus ditindak tegas. Jangan terkesan hanya dibiarkan dan dihukum biasa saja,” tegasnya.
Sementara di bidang pertanian diungkapkan oleh Ketua Gapoktan Tani Bangkit Desa Pandanrejo, Kota Batu, Winardi bahwa dalam pelantikan Presiden terpilih hari ini ia berharap ke depan seharusnya pemerintahan lebih baik dan bisa meningkatkan kehidupan petani.
"Peningkatan kehidupan petani Itu penting. Misalnya kemarin melalui program kredit usaha rakyat (KUR) tanpa jaminan harus terus dijalankan," ujar Winardi. (ica/eri/ira/ary)



Kamis, 14 Nov 2019

Mugiono: Saya Ini Dijebak

Kamis, 14 Nov 2019

Temukan Passionmu

Loading...