MalangPost - Orang Sedang Sakit Apakah Tetap Wajib Salat 5 Waktu?

Minggu, 09 Agustus 2020

  Mengikuti :

Orang Sedang Sakit Apakah Tetap Wajib Salat 5 Waktu?

Kamis, 11 Jun 2020, Dibaca : 4629 Kali

Salat adalah ibadah wajib yang sangat penting bagi umat Islam. Karena amalan yang pertama kali dihisab adalah salat. Lalu bagaimana dengan orang yang sedang sakit, apakah tetap wajib melaksanakan salat? 

Dalam buku 'Salat Orang Sakit' yang diterbitkan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan hukum salat bagi orang sakit, bahwa pada prinsipnya orang sakit tidak dicabut kewajiban salatnya. Namun mendapatkan beberapa keringanan  Untuk itu dalam menetapkan bentuk-bentuk keringanan salat ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan.

 

1. Sakit tidak menggugurkan kewajiban salat 

Ini adalah prinsip yang paling dasar dan sangat penting. Sebab banyak sekali orang yang keliru dalam memahami bentuk-bentuk keringanan. Sehingga terlalu memudah-mudahkan sampai keluar batas. Artinya tidak mentang-mentang seseorang menderita suatu penyakit, lantas boleh meninggalkan salat seenaknya.

Kalau pun terpaksa harus meninggalkan salat, karena alasan sakit yang tidak mungkin bisa mengerjakan salat. Tetap saja salat itu menjadi hutang yang harus dibayarkan di kemudian hari.

 

2. Lakukan yang bisa dilakukan

Seseorang yang sakit tetap diwajibkan untuk mendirikan salat. Caranya dengan melakukan gerakan dan posisi-posisi salat semampu yang bisa dilakukan, meskipun tidak sampai sempurna. Hal ini ditegaskan dalam Alquran dan hadits.

"Dan bertaqwalah kepada Allah semampu yang kamu bisa." (QS  At-Taghabun: 16)

"Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakannya semampu yang bisa kamu lakukan." (HR. Bukhari)

Prinsipnya, apapun gerakan dan bacaan salat yang masih bisa dikerjakan, maka tetap wajib untuk dikerjakan. Apa yang sudah mustahil untuk dilakukan, barulah boleh untuk ditinggalkan. Prinsipnya, apa yang tidak bisa didapat secara keseluruhannya, bukan berarti harus ditinggalkan semuanya.

 

3. Keringanan salat tidak boleh mengarang sendiri

Tidak mentang-mentang mendapatkan keringanan salat, lantas seseorang boleh mengarang-ngarang sendiri bentuk keringanan salat seenak seleranya. Keringanan yang Allah SWT berikan kepada orang sakit bukanlah cek kosong yang boleh diisi seenaknya. Karena tetap ada banyak batasan syariah yang mengiringinya. 

Misalnya, orang sakit tetap wajib salat sejumlah rakaat yang telah ditetapkan dan tidak boleh mengurangi jumlah rakaat. Maka yang tadinya salat Dhuhur empat rakaat, tidak boleh tiba-tiba dikurangi jadi tinggal satu rakaat dengan alasan sedang sakit.

Begitu juga yang seharusnya salat lima waktu dalam sehari semalam, tidak boleh diubah jadi cuma tiga waktu saja. Maka keringanan salat yang dijalankan harus bentuk-bentuk keringanan yang ada dalilnya dan tidak boleh keringanan yang seenaknya sendiri.

Keringanan yang ada dalilnya di antaranya, wudhu atau mandi janabah boleh diganti dengan tayamum, dan bila tidak bisa berdiri maka boleh salat sambil duduk atau berbaring. Kemudian keringanan salat lainnya bisa tidak menghadap ke kiblat, gugur kewajiban salat berjamaahnya dan gugur kewajiban salat Jumat. (rep/ra/udi) 

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Net