Nanang Syaiful Rohman Pencetus Program Selagi Pagi

Selasa, 15 Oktober 2019

Rabu, 18 Sep 2019, dibaca : 636 , bagus, linda

Berawal dari perbincangan dengan seorang tukang becak di 2018 silam, hati Nanang Syaiful Rohman tergerak untuk membuat sebuah program sosial. Dari pembicaraan tersebut membuat hatinya teriris, kala itu si tukang becak sama sekali belum memperoleh order. Ia lalu melahirkan program sosial yang kini telah menyebar ke berbagai kota.
Tukang becak yang dijumpainya di Tulungagung saat itu ketika Nanang sapaan akrabnya ingin pulang ke rumahnya di Trenggalek namun masih menunggu bus. Sejak pertemuan tersebut ia berpikir keras untuk membantunya. Lalu tercetuslah Selagi Pagi, yakni sebuah program sosial yang memberikan bantuan berupa pakaian layak pakai.
"Saat itu si tukang becak sama sekali belum mendapat orderan, jika untuk memenuhi kebutuhan pokok saja sulit bagaimana kebutuhan lainnya, apalagi saat itu sembako sedang mahal, dari situ mikir keras apa yang bisa saya berikan," ujar Nanang.
Setelah tercetus ide Selagi Pagi, Nanang mengawalinya dari pakaian bekas layak pakai milik pribadi dan keluarga. Baju-baju bekas itu lantas dikemas ulang layaknya pakaian baru sehingga sangat layak untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan.
Selagi Pagi telah diawali Dosen Bahasa Indonesia sebagai Penutur Asing (BIPA) Universitas  Negeri Malang ini sejak 12 April 2018 lalu. Donasi yang diberikan tidak hanya baju bekas melainkan juga menyematkan amplop berisi uang untuk digunakan membeli keperluan lainnya.
"Berapa pun bantuan yang kita berikan akan sangat berarti untuk orang lain, membeli paketan internet Rp 5 ribu sehari menurut bagi kita biasa, tetapi bagi mereka yang membutuhkan tentu itu bernilai sekali," urai pria kelahiran 28 Desember 1989 ini.
Ia melanjutkan, untuk donasi pakaian yang diberikan tidak serta langsung diberikan tetapi terlebih dahulu dipilah layak atau tidak, dipilih jenis dan kelayakannya. Satu paket berisi delapan helai baju untuk orang tua dan anak-anak.
1,5 tahun berjalan, Selagi Pagi semakin gencar memberikan donasi. Bahkan kian meluas, dari yang awalnya hanya berupa pakaian dan uang kini juga dalam bentuk barang. Bernama Lelang Pagi, pihak Selagi Pagi akan mencari penerima donasi yang paling layak bukan yang paling banyak nilainya.
"Biasanya kalau lelang dipilih mana yang paling tinggi penawarannya dialah yang dapat, tetapi Lelang Pagi tidak demikian, kami cari penerima mana yang paling membutuhkan kemudian diberi gratis tanpa harus membayar dengan sejumlah uang," urai lulusan S2 Ilmu Sastra, Universitas Gadjah Mada ini.
Selagi Pagi memiliki tiga program, di antaranya Paket Pagi yakni berupa pakaian bekas layak pakai terdiri dari 8 hingga 10 pakaian untuk satu keluarga. Kedua, Lelang Pagi yaitu lelang barang dimana orang yang paling membutuhkan yang berhak menerima. Ketiga, Peduli Pagi, diperuntukkan bagi mereka yang mengalami bencana.
"Ketika ada bencana tim Selagi Pagi turut membantu, seperti saat terjadi gempa tsunami di Palu dan Lombok beberapa waktu lalu kami juga ikut mengerahkan bantuan ke sana," aku Nanang.
Saat itu, di daerah yang terkena bencana sudah ada relawan yang menyalurkan. Tak hanya bencana, Peduli Pagi juga menyasar lembaga pendidikan seperti mengirimkan sepatu ke anak-anak di Sumba Barat.
Bantuan sepatu tersebut merupakan permintaan dari guru garis depan yang prihatin melihat siswanya ke sekolah tidak mengenakan sepatu dan seragam. Selagi Pagi kemudian menggalangkan dana kebutuhan tersebut baik sepatu, seragam baru maupun bekas layak pakai.
"Di Malang Selagi Pagi ada 14 tim, kami menyebut relawan dengan Ranger Pagi, penyebutan nama ini karena tidak ada waktu khusus untuk mengirimkan donasi, biasanya paketan dibawa saat di perjalanan," jelasnya.
Misalnya, sebagai dosen yang setiapnya melalukan perjalanan dari rumah ke kampus, Nanang akan membawa paket tersebut di kendaraannya. Ketika di perjalanan ada orang yang dinilai layak menerima bantuan maka paket diberikan.
Agar Paket Pagi selalu siap dibagikan, Selagi Pagi memiliki jadwal mengemas pakaian dan akan membawa satu paket setiap harinya. Nanang melanjutkan untuk melalukan gerakan sosial ini tidaklah mudah, untuk itu ia tidak ingin memberatkan Ranger Pagi.
"Intinya jangan sampai perjalanan kita sia-sia, menuju tempat kerja atau sekolah jangan sampai tidak ada hal-hal positif lainnya, dengan berinteraksi kepada penerima paket tak jarang di situ ada kisah perjuangan yang sangat menarik dan bisa dijadikan pelajaran," jelasnya.
Hingga saat ini, Selagi Pagi tidak hanya ada di Malang. Ranger Pagi bahkan sudah tersebar di beberapa kota di Indonesia. Mulai Kediri, Madura, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Jogjakarta, Solo hingga Jakarta. Semakin banyaknya Selagi Pagi diharapkan akan terus bertambah kesadaran bahwa selagi bisa membantu maka berbagilah dari hal-hal kecil.
"Selagi Pagi artinya semua yang layak dibagi bisa dipakai lagi, kami sengaja menggunakan nama kekinian tetapi mudah diingat oleh masyarakat dan mengajak mereka untuk berbuat baik," tandas laki-laki asal Trenggalek ini.(Linda Epariyani/ary)



Loading...