Mulai Jualan Koran, Hingga Mimpi Punya Training Center

Jumat, 18 Oktober 2019

Minggu, 08 Sep 2019, dibaca : 897 , parijon, stenly

MALANG - Ruddy Widodo menjadi sosok familiar di jajaran manajemen Arema FC. Berposisi General Manager, dia mengambil banyak kebijakan penting terkait klub tersebut untuk terus berkembang. Namun siapa sangka, perjuangannya sampai di titik ini bukanlah hal yang mudah. Dia harus nekat dan menunjukkan kegigihan sejak masa SMA, ketika bersekolah jauh dari orang tuanya.
Ruddy memang suka bola sejak kecil. Akan tetapi, berada di Madiun, tempat kelahirannya, dia merasa tidak akan berkembang. Untuk itulah, sejak remaja dia susah berani mengajukan diri jauh dari keluarga. Berusaha hidup mandiri demi menggapai cita-cita dan kesuksesannya.
"Kalau berbicara cita-cita, saya waktu kecil ingin menjadi pilot. Wajar, saya tinggal di Madiun, di lingkup wilayah AURI (TNI AU.Red)," ungkap dia, mengawali cerita.
Pikiran untuk menggapai cita-citanya, membuatnya menyatakan kepada orang tuanya untuk bersekolah di luar Madiun. Sejak masa SMP. Hanya saja, orang tua melarangnya.
"Saya berpikir, kalau terus hidup di lingkungan di desa saya, yang hanya nurut kata orang, susah untuk bisa mencapainya. Saya minta izin sekolah SMP di Surabaya, tetapi ditolak. Baru saat SMA saya sekolah di Surabaya," paparnya.
Dari masa SMA, petualangannya dimulai. Jauh dari orang tua, dia mulai berusaha mandiri. Ia ingin memiliki uang lebih dan yang ada di pikirannya adalah berdagang. Simpel, sesuai dengan hal yang kala itu bisa dia kerjakan.
Lantas, dia berjualan koran, termasuk berjualan majalah dewasa. Sehingga, tidak heran dia membawa tumpukan buku, dicampur koran dan majalah setiap kali sekolah.
"Majalah bergambar syur begitu, disukai anak-anak SMA waktu itu. Kalau juala majalah dewasa, ya jualnya ditutup-tutupi juga. Selama di Surabaya, saya sempat punya bedak untuk jualan. Bedak milik saya dan tiga teman saya," terang pria kelahiran 1971 itu.
Ya, dia sampai memiliki lapak untuk berjualan. Kala itu, bisnisnya bertambah. Dia mulai berdagang barang elektronik. Di tahun 1980-an, dia sudah berdagang tape compo dan televisi, yang coba di tawarkan ke beberapa hotel. Itu semua dia kerjakan tanpa diketahui orang tuanya.
"Mereka mulai curiga pas saya jarang minta uang. Mungkin mereka juga mencari tahu, lalu berpesan, yang paling utama sekolah saya selesai," tambah Ruddy.
Upayanya itu berlanjut ketika kuliah. Setelah melewati masa dilema, kuliah di Surabaya atau di Malang, dia memilih menempuh masa kuliah di Malang.
Jiwa bisnisnya tidak terhenti. Sudah mengenal jalan untuk berbisnis, seperti dimana dia harus kulak'an barang, dia menjalani kuliah sembari berbisnis. Menawarkan televisi ke hotel-hotel di Malang.
Bahkan, kuliahnya harus 'mengalah' karena dia asyik berbisnis travel wisata sesudahnya. "Saya sempat ke Bali, melihat adanya kegiatan promosi wisata. Saya pikir enak juga waktu itu. Hanya jadi Mclaren (sebutannya untuk istilah makelar), tetapi bisa dapat untung besar," urai ayah dari Rania dan Rafly tersebut.
Saat usahanya kian besar, dia menerima tawaran Arema di 1997. Lalu, dirinya sempat mundur di 2002 dan kembali menjalankan roda bisnisnya.
Namun, tampaknya dia tidak bisa lepas dari sepak bola karena mendapatkan tawaran kembali ke Arema di tahun 2011, yang menjadi masa keduanya di Arema dan bertahan sampai saat ini.
"Periode kedua sejak 2011 saya masih pegang travel. Lalu saya lepas sejak 2013 dan fokus ke Arema," tambah Ruddy.
Dia menceritakan perbedaan masa pertama di Arema dengan saat ini. 1997-2002, dirinya kali pertama mengabdikan diri sebagai pengurus Arema menjadi pengurus Arema harus siap menghidupi bola alias merugi. Dana pribadi tak jarang mesti direlakan untuk klub yang diurusnya.
"Dulu itu istilahnya bola makan orang. Kalau sekarang, orang sudah mulai makan dari bola. Saya juga ingin Arema seperti itu di masa mendatang," sebut Ruddy yang mengakui senang sepak bola sejak kecil. Bahkan, dia sudah memilih buku bergambar pemain bola sejak SD.
Dia memimpikan Arema bisa menjadi lebih besar dan lebih sukses dari sekarang. Tidak hanya prestasi, juga secara bisnis maupun finansial. "Sukses itu jika Arema sudah punya training center sendiri, bisa menghidupi pemain dan pengurusnya. Caranya, mungkin kami sekarang mengejar go public (IPO) salah satunya," pungkasnya. (ley/jon)



Loading...