Minim Kuasai Kosa Kota | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 27 Okt 2019, dibaca : 639 , vandri, imam

PENDIDIK yang mengajarkan bahasa Jawa harus berjuang ekstra. Itu karena siswa, terutama SD sudah jarang menggunakan bahasa Jawa. Proses belajar mengajarnya harus menggunakan teknologi atau cara menarik hasil inovasi. Tujuannya agar siswa tertarik.
Guru Bahasa Jawa SD Islam Sabilillah Malang, Aminin Widiastutik, S.Pd mengakui kerap kali dihadapkan dengan beberapa kendala saat mengajar di kelas. Namum ia menyadari, sebagai guru harus bisa memberikan solusi.
"Bagi kami mengajar bahasa Jawa itu tantangan. Bukan menjadi halangan bagi guru untuk berkreasi saat mengajar," ucapnya.

   Baca juga : Bahasa Jawa Terhimpit


Tutik sapaan akrabnya menerangkan, penguasaan kosa kata yang terbatas merupakan salah satu problem dalam memahami bahasa. Sehingga guru menjelaskan materi bahasa Jawa kepada siswa juga menggunakan bahasa Indonesia.
Konsep tak kenal maka tak sayang pun berlaku dalam proses pembelajaran. Termasuk dalam pembelajaran bahasa Jawa. Selain kenal pada guru, siswa juga perlu dikenalkan pada mata pelajaran yang akan mereka pelajari. "Berikan kesan pertama yang indah pada anak-anak, agar mereka tertarik dengan materi yang kita ajarkan," kata Tutik.

   Baca juga : Keluarga Muda Tak Gunakan Bahasa Jawa


Bahasa Jawa memang bahasa lokal dan bagian dari budaya. Meskipun demikian, pembelajarannya perlu menggunakan sarana teknologi. Seperti tayangan video dengan power point. Atau dalam bentuk permainan, misalnya scrabble bahasa Jawa.
Upaya ini dilakukan agar minat siswa belajar semakin tinggi. Karena sarana dan media pembelajaran sangat menentukan efektivitas kegiatan belajar mengajar.  
Penguatan terhadap bahasa Jawa juga dilakukan di SMPK Kolese Santo Yusup 1. Bahasa Jawa menjadi perhatian khusus. Drs. Lindung Ratwiawan, guru pengajar bahasa Jawa terus memberikan motivasi agar siswa tertarik belajar walau bukan asli Jawa atau keturunan Jawa.
"Karena bisa jadi mereka nanti menjadi dokter atau profesi lain yang berhubungan erat dengan masyarakat, maka bahasa daerah penting  untuk dikuasai," ujarnya.
Lindung mengungkapkan pengajaran bahasa Jawa dititikberatkan pada penerapan langsung. Pelajaran bahasa dianggap tidak efektif  kalau lebih banyak pada teori. "Pembelajaran bahasa Jawa harus diselaraskan dengan nilai tata krama. Dengan metode dan contoh yang sederhana," katanya.
Ia mengakui mengajar bahasa Jawa tidak semudah yang dibayangkan. Guru harus mampu menumbuhkan minat siswa untuk belajar. "Karena saat ini minat anak pada bahasa daerah sangat kecil," katanya.
Dalam hal tersebut, Lindung seringkali menggunakan media pembelajaran. Dengan tujuan agar kegiatan belajar mengajar lebih menarik. Misalanya penggunaan power point serta berinovasi dengan tembang lagu dan cerita. "Dengan begitu anak semakin tertarik belajar," imbuhnya.
Keberadaan sarana belajar juga sangat penting. Termasuk untuk belajar bahasa Jawa. Misalnya dengan menggunakan kamus pendukung menjadikan siswa lebih mudah memahami kosa kata. "Diupayakan setiap anak punya kamus pendukung, dan guru harus bisa memandu dengan sabar," terang dia.
Hal yang tak kalah penting dalam belajar bahasa yakni peran serta keluarga dan lingkungan tempat tinggal siswa. Kemampuan siswa berbahasa tak lepas dari dukungan keluarganya. Apalagi bahasa merupakan alat komunikasi sementara porsi waktu anak lebih banyak di keluarga dari pada di sekolah. "Sedikitnya orang tua juga berkomunikasi bahasa Jawa dengan anak. Jadi tidak memakai bahasa Indonesia saja," tukasnya. (imm/van)



Minggu, 01 Des 2019

Kantong Darah Terinfeksi HIV/AIDS

Minggu, 01 Des 2019

Jangan Diskriminasi ODHA

Loading...