Menyemai *TOMAT dan Per*

Rabu, 16 Oktober 2019

Sabtu, 07 Sep 2019, dibaca : 718 , mp, tamu

Perubahan dimensi kehidupan yang sangat fundamental turut mengubah karakter generasi milenia. Disruption era saat ini berkembang demikian pesat. Aktivitas manusia yang semula berlangsung di dunia nyata beralih ke dunia maya. Begitu pula kegiatan permainan anak. Dulu,aktivitas bermain biasanya dilakukan bersama-sama di tempat terbuka. Saat ini berpindah ke dunia maya. Anak yang semula terbiasa bersosialisasi dengan teman sebaya dan lingkungan sekitarnya, kini, menjadi manusia individualis, menyendiri dengan permainan di gadgetnya.
    Era disrupsi tidak bisa dihindari. Namun tetap bisa disiasati dan diimbangi dengan pola kehidupan kebersahajaan. Dalam rangka mengimbangi segala bentuk pengaruh teknologi pada siswa, guru dapat mengimplementasikan nilai-nilai karakter dalam keseharian di sekolah. Dengan hal-hal sederhana, diharapkan siswa tetap bisa berperilaku santun dan berakhlak mulia. Melalui bimbingan dan pendampingan dari guru, siswa tetap bisa bersosialisasi dengan teman di lingkungannya. Segala upaya perbaikan individu tersebut dilakukan dengan menyemaikan karakter sejak dini.
    Karakter merupakan ciri spesifik dari perilaku seseorang yang melekat dan cenderung menetap. Dengan pembiasaan bersikap dan berperilaku baik sejak dini, setiap individu akan tumbuh menjadi pribadi yang baik. Begitu pula sebaliknya. Lingkungan yang lebih dominan membentuk karakter seseorang. Terbentuknya karakter dari lingkungan masyarakat sekitar, rumah, dan sekolah. Dengan sistem fullday school saat ini, anak cenderung lebih banyak berinteraksi  di sekolah. Oleh karena itu sekolah memiliki peluang lebih besar dalam turut serta membentuk karakter siswa.
    Segala bentuk upaya penyemaian karakter siswa di sekolah melekat pada tugas guru. Guru sebagai insan profesional berperan dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Yaitu, menjadikan anak didik menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, berilmu, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, diperlukan strategi dalam mencapainya. Diantaranya adalah program penguatan pendidikan karakter. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan kebijakan pendidikan yang tujuan utamanya adalah membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak menjadi lebih baik. Nilai-nilai utama PPK adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Nilai-nilai tersebut ditanamkan  dan dipraktikkan melalui sistem pendidikan nasional agar diketahui, dipahami, dan diterapkan di seluruh sendi kehidupan di sekolah dan di masyarakat. PPK lahir karena kesadaran akan tantangan ke depan yang semakin kompleks dan tidak pasti, namun sekaligus melihat ada banyak harapan bagi masa depan generasi penerus bangsa.
Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk menguatkan karakter baik pada diri siswa adalah dengan menyemaikan karakter ‘TOMAT dan Per”. “TOMAT dan Per” merupakan akronim dari kata Tolong, Maaf, Terima kasih, dan Permisi. Dengan empat kata sederhana tersebut, diharapkan dapat menyemaikan karakter bahasa yang baik pada siswa. Dengan merubah kata, diharapkan mampu merubah dunia. change your words, change your world.  Bahasa akan membentuk karakter seseorang. Dengan mengajarkan siswa berbahasa yang baik, menjadikan siswa berkarakter baik.
Implementasi kata Tolong, Maaf, Terima kasih, dan Permisi. Dengan menerapkan empat kata tersebut, akan menimbulkan efek dan nilai rasa yang dahsyat. Pertama, kata “ Tolong” bisa diucapkan saat meminta bantuan. Sekecil apapun bantuan yang akan diminta, dahului dengan kata “tolong”. Dengan mengucap “tolong” menunjukkan rasa saling menghargai. Seseorang yang dimintai tolong tidak merasa direndahkan. Demikian pula yang meminta tolong. Penerapan kata “tolong” di dalam keseharian di sekolah bisa dimulai dan diberi contoh oleh guru. Teladan dari guru lebih mengena dan cepat ditiru. Misalnya, guru meminta siswa untuk menghapus papan tulis. Permintaan bantuan tersebut dapat diwujudkan dalam kalimat; “Mas/Mbak, Bu guru minta tolong ya, hapuskan papan tulis” Nilai rasa nya berbeda jika menggunakan kalimat “Mas/Mbak,,hapuskan papan tulis!”
Kedua, kata “maaf”. Maaf,  identik dengan sebuah kesalahan. Padahal aplikasi dalam keseharian dengan mengucap maaf akan membiasakan diri untuk bersikap rendah hati. Dengan membiasakan diri mengucapkan “maaf” akan menumbuhkan dan meningkatkan hubungan yang harmonis. Penerapan di sekolah, tentu dimulai dari guru. Guru membiasakan diri, sekecil apa pun khilaf segera meminta maaf. Misalnya, ketika suatu hari guru terlambat masuk kelas. Kalimat permohonan maaf tersebut dapat disampaikan kepada siswa “Mohon maaf anak-anak, ibu terlambat sebentar, karena tadi ada rapat dengan Bapak kepala sekolah”. Dengan membiasakan diri mengucap maaf, siswa merasa dihargai. Secara tidak langsung hal ini dapat melatih siswa untuk belajar mengakui kesalahan diri. Siswa belajar memahami perasaan orang lain. Belajar mengerti dan memahami kondisi yang dihadapi orang lain. Siswa belajar melepaskan gengsi. Siswa belajar menjadi pribadi yang tidak mudah menyalahkan orang lain. Dengan demikian akan tumbuh rasa tolerasi dan empati.
Ketiga, kata “terima kasih”. Begitu ringannya kata ini diucap, namun bisa menimbulkan efek dahsyat! Setiap bantuan yang didapat, segera berucap “terima kasih”. Terima kasih berarti menerima segala bentuh kasih atau pemberian. Dengan membiasakan diri berucap “terima kasih”, siswa berlatih menghargai orang lain. Menurut banyak pakar, dengan sering-sering mengucapkan terima kasih dapat memberikan efek positif pada tubuh. Dampak positif tersebut, disinyalir dapat meningkatkan kesehatan mental dan emosional. Ucapan terima kasih merupakan bentuk penghargaan yang paling sederhana yang bisa diberikan guru kepada siswa. Misalnya, “terima kasih Nak, kalian sudah mengerjakan tugas tepat waktu”. Dengan mendapat apresiasi sedehana tersebut, siswa akan terpacu untuk mengerjakan tugas lebih giat lagi. Ucapan teriima kasih yang diucap maupun yang didengar akan meningkatkan produktivitas seseorang. Saling mengucapkan terima kasih dapat membuat ikatan antara siswa dan guru menjadi lebih dekat.
Keempat,, kata “permisi“. Membiasakan menggunakan kata permisi, berarti guru turut menyemaikan kebiasaan berprilaku sopan dan santun. Guru memberikan contoh dan teladan. Siswa meniru dan menjadikanya tuntunan. Di lingkungan masyarakat Jawa, kata permisi lazim diucapkan saat kita lewat di depan orang yang lebih tua. Lebih luas lagi kata permisi bisa digunakan untuk meminjam barang, meminta ijin, bertamu atau masuk ke dalam ruangan orang lain. Misalnya, “Permisi Pak, boleh saya masuk?” Dengan mengucap permisi membentuk siswa menjadi pribadi yang rendah hati. Menumbuhkan budaya permisi akan menciptakan lingkungan yang saling beretika. Saling menghormati dan menghargai sesama.
Mungkin sudah banyak sekolah-sekolah yang menyemaikan karakter  dengan menerapkan kata “tolong”, “maaf”, “terima kasih”, dan “permisi”. Salut!!! Tetap sabar untuk berjuang, jangan lupa untuk senantiasa memupuk dan menyiramnya. Dengan istiqomah, membimbing, mengawasi, mengingatkan, mengapresiasi, memberikan  reward and punishment.
Semoga dengan ikhtiar kita, anak didik kita menjadi generasi milenia yang tangguh, kuat, dan hebatt. Membentuk siswa menjadi manusia-manusia yang berbudi pekerti luhur. Meskipun tengah berada di era disruption, namun tetap bisa tumbuh menjadi insan mulia. Semua ikhtiar itu disemaikan sejak kini, saat ini. Kelak kita akan menuainya. Betapa berharganya karakter sederhana yang disemaikan. Berbuah manis menjadi gerasi impian. (*)

Oleh : Erna Febru Aries S.*
Guru SD Islam Sabilillah Malang



Selasa, 15 Okt 2019

Timnas Makin Terpuruk

Selasa, 15 Okt 2019

Belajar Sabar dan Bijaksana

Loading...