Mendorong Pemanfaatan Energi Terbarukan

Jumat, 18 Oktober 2019

Sabtu, 21 Sep 2019, dibaca : 405 , mp, tamu

Siapkah Indonesia menjadikan energi terbarukan sebagai salah satu sumber energi utamanya dalam penyediaan energi listrik khususnya untuk keperluan industri? Sebuah tantangan sekaligus motivasi dalam memperbaiki bauran energi penyediaan listrik di tanah air. Untuk itu diperlukan usaha yang kuat agar dalam mewujudkan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai energi yang digunakan untuk membangkitkan energi listrik yang digunakan untuk melistriki kebutuhan listrik baik industri, bisnis dan sosial dalam kapasitas besar dan handal bisa terwujud.
Upaya untuk mendorong dan memanfaatkan EBT perlu mendapatkan dukungan yang kuat tidak hanya pemerintah tapi juga masyarakat dan pelaku dunia usaha meski banyak keterbatasan dalam mewujudkannya namun rasa optimistis perlu ditanamkan kepada stakeholders. Dengan keterbatasan tersebut pemerintah telah menetapkan target bauran energi nasional dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019 - 2028 dimana EBT dipatok dengan angka 23 persen pada tahun 2025.
Selain itu, dalam rangka efisiensi penggunaan BBM yang dampaknya pada energi listrik, adalah melakukan audit energi. Hal ini terutama ditujukan untuk industri dan gedung-gedung niaga yang menggunakan banyak energi listrik. Dengan melakukan audit energi, jumlah kebutuhan akan energi yang sebenarnya dapat diketahui dengan jelas. Dari hasil audit kita dapat mengatahui apakah industri atau gedung dimaksud sudah maksimal menggunakan energi dan langkah yang dapat diambil dalam rangka melakukan penghematan. Dengan melakukan audit energi yang didukung dengan implementasi alat baru (misalnya dengan lampu hemat energi dari PLN).
Cadangan BBM yang semakin berkurang yang diperparah dengan  tingkat kebutuhan yang semakin meningkat merupakan jalan lempang menuju krisis energi (BBM). Bukan mustahil dalam kurung waktu yang tidak lama lagi (kurang dari 5 tahun), bila kondisi ini dibiarkan, bangsa Indonesia akan menjadi salah satu negara pengimpor BBM. Rentang waktu menuju jurang krisis BBM yang sedemikian singkat kemudian dipersinglkat lagi dengan sikap perilaku bangsa kita yang cenderung boros dalam menggunakan BBM sebagai sumber energi. Tak ayal lagi, jurang krisis energi sudah berada di depan mata.
Untuk itulah, Indonesia memerlukan manajemen kebijakan energi tidak hanya pada tingkat konseptual atau wacana tetapi juga dalam eksekusi dan implementasi di lapangan melalui pemanfaatan energi terbarukan.

Pemanfaatan Energi Terbarukan
Sembari melakukan efisiensi melalui program budaya hemat listrik secara nasional, maka opsi lain yang kiranya dapat menjadi solusi alternatif dalam menjawab akan sumber energi di masa depan. Dengan melaksanakan aktifitas riset secara intensif guna menemukan energi alternatif atau sekarang lebih dikenal dengan istilah energi terbarukan. Dalam konteks ini, upaya mengkonversi energi baru serta inovasi terhadap teknologi pendukungnya menjadi fokus dari aktifitas riset dimaksud. Hal ini sejalan dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 0002 tahun 2004 tentang Kebijakan Pengembangan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi bahwa peluang optimasi pemanfaatan sumber energi terbarukan.
Selain energi angin, di Indonesia juga terdapat banyak desa terpencil yang terletak di tepi sungai. Misalnya desa-desa di pedalaman pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Umumnya tidak ada jalan darat ke desa-desa tersebut sehingga lalu lintas harus dilakukan melalui sungai. Juga tidak ada jaringan listrik di desa yang amat terpencil itu. Padahal desa tersebut umumnya memiliki potensi agribisnis yang dapat dikembangkan untuk menunjang perekonomian daerah.
Artinya, untuk mendirikan industri apapun yang letaknya di tengah hutan masak harus menunggu jaringan PLN, jelas hal ini tidak mungkin. Apalah artinya jika di kawasan hutan tersebut mengalir sungai yang tidak dimanfaatkan, padahal air tersebut dapat membangkitkan energi listrik dan tergantung dari BBM.
Untuk pengadaan listrik, bisa saja masyarakat di desa tersebut membeli generator listrik secara patungan. Tetapi bahan bakarnya yang berupa minyak solar atau bensin harus didatangkan dari kota yang cukup jauh, yang berarti pengeluaran ongkos yang terus menerus dan tidak sedikit jumlahnya. Ironisnya, desa tersebut sebenarnya memiliki sumber energi yang tersedia tidak habis-habisnya, yaitu arus sungai. Tetapi dapatkah kekuatan arus ini menggantikan bahan bakar untuk menjalankan suatu generator?
Sebuah pabrik di Australia melihat peluang untuk mengadakan listrik di desa-desa terpencil itu dengan mengembangkan suatu turbin (kincir) mini yang dapat berputar oleh arus air untuk menjalankan generator listrik ukuran kecil. Kini, di Indonesia juga sudah mulai tercetus akan penemuan semacam ini, bahkan lebih fleksibel dan inovatif. Adalah Pusat Ketenagalistrikan (P3TKEBT) ESDM bekerjasama dengan penemu teknologi kincir jenis ”Kaki Angsa” yang ditemukan di Malang Jatim, telah merealisasikan hasilnya. Efisiennya, alat ini dapat dipasang di sungai guna mendapatkan energi listrik yang jauh lebih besar.
Setelah mengetahui potensi energi terbarukan, maka yang perlu dilakukan adalah melakukan optimasi untuk mencapai ketahanan energi. Salah satu yang sangat berpotensi di Indonesia dan relatif murah adalah PLTMH. Hal ini karena air dapat memenuhi kebutuhan energi serta mudah diaplikasikan oleh masyarakat. Terdapat beberapa strategi dalam pemberdayaan energi air yaitu menjaga daerah tangkapan air di hulu, pemanfaatan listrik untuk kerja produktif dan dapat meningkatkan pendapatan penduduk lokal serta merangsang pertumbuhan ekonomi.
Dalam rangka mendorong pemanfaatan energi terbarukan, maka program pemanfaatan energi terbarukan ini bukan saja dilakukan oleh individu saja tetapi juga harus didukung oleh kesadaran kolektif. Komitmen ini tentunya harus dibumikan dengan mendorong pengembangan energi terbarukan (renewable energy) seperti dari air, angin, panas bumi, dan tumbuhan.
Selain itu, tidak kalah pentingnya adalah kebijakan pemerintah dalam memacu partisipasi ilmuwan, masyarakat dan kantor Litbang Ketenagalistrikan untuk meresolusikan penggunaan energi terbarukan yang komprehensif. Dengan demikian, kelak penggunaan energi terbarukan ini akan menjadi prioritas energi listrik non BBM. (*)

* Oleh : Djajusman Hadi
Penemu “Kincir Air Kaki Angsa” dari Universitas Negeri Malang (UM)



Rabu, 16 Okt 2019

Polemik Batas Usia Nikah

Senin, 14 Okt 2019

Orkestrasi Buzzer

Loading...