Melecut Etos Kerja Perempuan Indonesia

Rabu, 16 Oktober 2019

Senin, 16 Sep 2019, dibaca : 363 , mp, tamu

Di Indonesia ini, jumlah perempuan sangat banyak. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan penduduk Badan Perencanaan Pembangunan Nasioal, Badan Pusat Statistik dan United Nations Population Fund jumlah penduduk Indonesia pada 2018 mencapai 265 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 131,88 juta jiwa berjenis kelamin perempuan. Menurut kelompok umur, jumlah populasi perempuan Indonesia yang berusia 0-19 tahun mencapai 45,31 juta jiwa. Kemudian yang berumur 20-64 tahun sebanyak 86,57 juta jiwa dan sisanya, yakni 8,3 juta jiwa berumur lanjut usia (65 tahun ke atas). Selain itu,  paparan data menunjukkan bahwa selisih penduduk perempuan dengan laki-laki semakin menyempit.
Data tersebut menunjukkan, bahwa jumlah sumberdaya perempuan di Indonesia tidak sedikit. Kalau mereka mampu unjuk kekuatan melalui semngat atau etos kerjanya, barangkali pembaruan besar-besaran bisa secepatnya terwujud di negara ini
Itu secara tidak langsung mengingatkan kepada setiap perempuan yang ada di muka bumi Indonesia untuk tidak membiarkan dirinya berada dalam ketidakberdayaan (empowerless). Kita, khususnya yang berada dalam lingkaran kekuasaan wajib  mengajak atau tidak kenal Lelah melecut semua perempuan Indonesia agar bisa mewujudkan apa yang disebut dengan era keemasan (golden era).
Perempuan Indonesia tidak bisa begitu saja keluar dari lingkaran ketidakberdayaan menuju era keemasan (kesejahteraan dan kemakmuran), jika tidak melalui suatu perjuangan atau penguatan dan progresifitas etos kerja. Peperangan ini harus terus menerus digelorakan oleh perempuan supaya mimpi-mimpi atau cita-citanya bisa terwujud.
    Tidak akan mungkin impian perempuan Indonesia bisa terwujud tanpa adanya “unjuk” etos kerja atau kegigihan berkarier seperti mengembangkan kewirausahaan. Kegigihan dan perjuangan di ranah penguatan dan pengembangan etos kerja adalah kata kunci yang menentukan setiap perempuan Indonesia.
Perempuan-perempuan di era milenialistik ini mempunyai tugas atau kewajiban besar yang harus diwujudkannya. Tantangan apapun dan dimanapun mesti ada, karena tidak ada namanya mewujudkan keinginan besar atau kepentingan mulia tanpa adanya duri dalam memperjuangkannya. Tidak ada prestasi besar yang bisa diraih tanpa pengsahan dan progresifitas etos kerja.
Untuk sampai pada terbentuknya perempuan yang mempunyai progresifitas di bidang etos kerja itu, jelas membutuhkan keterlibatan banyak pihak, khususnya pemerintah. Pendidikan yang bersifat khusus, terjangkau, atau bersifat populistic perlu banyak dilakukan oleh pemerintah supaya perempuan menyadari urgensinya menjadi sosok terdidik atau mempunyai karakter.
Dalam ranah edukasi, sejatinya setiap orang, termasuk perempuan, di muka bumi ini wajib melibatkan dirinya dalam proses pembelajaran, karena dari pembelajaran ini, seseorang atau perempuan bisa terbebas dari berbagai bentuk penyakit sosial, termasuk terbebas dari kebodohan atau keterbelakangan. William Shakespeare menyatakan  “there is no darkness but ignorance” atau  sebenarnya tidak ada yang namanya kegelapan  melainkan lahir dari kebodohan.
Pernyataan Shakespeare tersebut dapat ditafsirkan bermacam-macam, pertama, seseorang perempuan dapat terjerumus dalam alam kegelapan atau lingkaran hidup yang menyulitkannya, bilamana dirinya mengidap penyakit kebodohan atau keterbelakangan. Artinya kebodohan menjadikannya bisa terjerumus dalam ranah menyusahkan atau menjadi beban masyarakat.
Kedua,  seseorang perempuan itu sebenarnya pintar atau berpengetahuan, bukan bodoh dalam arti tidak terdidik, namun terseret dalam sikap dan perilaku yang “membodohi” dirinya, sehingga mengakibatkan subyek sosial atau lainnya didestruksi harmoni kehidupannya. Mereka diperlakukan sebagai obyek yang dieliminasi kebahagiaannya atau dijerumuskan dalam orde kegelapan (dark era). Mereka akhirnya menjadi subyek edukasi yang kehilangan karakternya.
Dalam ranah itulah, perempuan Indonesia wajib dibentuk. Oleh dunia pendidikan, perempuan harus diddik atau dibentuk dengan sungguh-sungguh supaya menjadi sumberdaya manusia yang bisa diandalkan melakukan banyak perubahan bagi keluarga, masyarakat, Negara, dan bangsanya.
Untuk menjadi sosok perempuan berkarakter, setidaknya ada 6 pilar yang harus dipahami oleh lembaga-lembaga yang membentuk atau mendidiknya, pertama, kepercayaan (rustworthiness), kedua, respek, ketiga, tanggungjawab (Responsibility ), keempat, keadilan (fairness), kelima, peduli (caring), dan keenm kewarganegaraan.
Pendidikan karakter merupakan wujud pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut pakar pendidikan Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
Pendidikan di Indonesia sudah jelas berpola menempatkan setiap subyek didik atau anak-anak Indonesia, termasuk perempuannya untuk menjadi manusia-manusia yang berkarakter dan berketrampilan, seperti mempunyai jiwa kemandirian (entrepreneurship) atau etos kerja tinggi sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional.
Faktanya, negeri ini memang membutuhkan sumberdaya manusia (perempuan) yang berkarakter dan berkemandirian. Mudah kalahnya bangsa ini  bersaing atau berkompetisi di tengah globalisasi atau diantara bangsa-bangsa di muka bumi adalah karena kondisi sumberdaya manusianya yang belum mempunyai karakter dan berketrampilan sesuai kebutuhan masyarakat dunia kerja global.
Dari awal (sejak dini misalnya), perempuan atau subyek didik (siswi) Indonesia harus dikenalkan dan dibentuk melalui dunia pendidikan supaya mereka mempunyai jiwa kemandirian. Tanpa kemandirian, mereka hanya akan menjadi beban atau bahkan “parasit” di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sudah banyak contoh dewasa ini tentang perempuan-perempuan yang punya jiwa kemandirian. Mereka bukan hanya punya kapabilitas dalam menjalankan pekerjaaan,tetapi mereka dapat menjadi nahkoda dalam keluarga, lingkungan kerja, atau pemimpin dalam pemerintahan karena terasah dan progresifitas etos kerjanya.
Dengan jiwa kemandiriannya itu, perempuan-perempuan itu mampu melakukan berbagai bentuk pembaruan atau perubahan. Kondisi yang semula stagnasi atau mengalami kemandekan, diubahnya sehingga mengalami dinamika dan progresifitas yang positip.  
Sebalinya fakta lain dapat juga terbaca tentang  masih demikian banyak sejumlah perempuan Indonesia yang karena tidak mempunyai kemampuan berfikir, tidak berkarakter, dan tidak mempunyai  ketrampilan yang mendukung kemandiriannya, maka jadinya mereka menghadapi kesulitan membebaskan dari ketidakberdayaanya.
Negara ini kedepan membutuhkan sumberdaya manusia (perempuan) yang tidak bermental pasif, tetapi yang beretos kerja progresif: berani “blusukan” demi mewujudkan obsesi  dan inovasi besar bangsa, yang kesemua ini tidak akan pernah terwujud jika tidak mendapatkan dukungan kuat pemerintah.(*)

Oleh: Ana Rokhmatussa’dyah.
(Dosen Fakultas Hukum Unisma, Penulis Buku, dan Ketua Sosialita Grop
serta Ketua Pokja I  PKK Kota Malang)



Senin, 14 Okt 2019

Orkestrasi Buzzer

Sabtu, 12 Okt 2019

Melanjutkan Cita-cita Habibie

Loading...