Mayor TNI Hamid Rusdi Pakai Bahasa Kiwalan Jadi Sandi Pejuang | Malang Post

Senin, 16 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Jumat, 08 Nov 2019, dibaca : 1875 , bagus, agung

HAMID RUSDI adalah sosok pahlawan yang terlupakan. Pejuang asli Malang ini, ikut andil dalam memperebutkan Kemerdekaan Republik Indonesia. Karena perjuangannya, Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri Malang (UM), Ari Sapto, menganggap bahwa Hamid Rudi memang layak dijadikan sebagai Pahlawan Nasional.
"Memang seharusnya layak diangkat sebagai pahlawan. Karena Hamid Rusdi adalah salah satu pejuang kebanggaan dari Malang," ucap Ari Sapto.
Masyarakat Malang, tentunya sudah tidak asing dengan nama Hamid Rusdi. Namanya selama ini terus diabadikan. Selain sebagai nama jalan di Kelurahan Bunul, Kecamatan Blimbing, juga sebagai nama Terminal Hamid Rusdi. Patungnya juga berdiri kokoh di Jalan Simpang Balapan, Kota Malang.
Menurut Ari, menjadikan seorang pejuang sebagai Pahlawan Nasional tidak hanya dilihat pada perjuangannya saja. Tetapi juga latar belakang kehidupannya secara totalitas. Karena moment perjuangan adalah hanya bagian dari perjalanan pahlawan.
Sebab, dalam teori revolusi yang terlibat dalam perang kemerdekaan, tidak semuanya didorong nasionalisme. "Tetapi ketika melihat periode perjuangan Hamid Rusdi secara sepintas, memang layak diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Namun kalau dari sisi lainnya, perlu penelitian lebih jauh," jelasnya.
Ari Sapto, menambahkan bahwa sosok Hamid Rusdi, adalah pejuang yang gigih. Aktif di Divisi atau Brigade IV. Termasuk juga komandan batalyon yang memiliki militansi serta cinta tanah yang yang cukup besar. Sehingga dengan latar belakang perjuangannya, Hamid Rusdi memang layak diangkat sebagai pahlawan.
"Namun terkait dengan gugurnya saat itu, masih menjadi problematika yang perlu penelitian lebih jauh lagi," tegasnya.
Sementara itu, Hamid Rusdi ini lahir pada tahun 1911 di Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Dia anak dari pasangan H. Umar Roesdi dan Mbok Teguh. Sejak kecil Hamid Rusdi menghabiskan masa anak-anaknya di sana. Bermain pistol-pistolan dan ketika besar ternyata menjadikannya memiliki bakat menembak.
Ketika tumbuh menjadi orang dewasa, Hamid Rusdi menjadi sosok yang luar biasa. Ia sangat mencintai Negara dan Bangsa Indonesia. Termasuk berani bertaruh nyawa untuk mempertahankan Banga Indonesia.
Saat Jepang masuk ke Indonesia, mereka langsung merekrut para pemuda untuk dilatih. Salah satunya Hamid Rusdi yang bekerja sebagai sipir di penjara Lowokwaru, ditarik dalam pasukan. Kemudian dilatih menjadi tentara untuk membantu dalam melawan Amerika di Perang Dunia II.
Ia belajar banyak dari latihan yang diberikan oleh Jepang. Hingga saat Jepang angkat kaki dari Indonesia, Hamid sudah menjadi tentara yang terlatih. Ini jadi modal besarnya kemudian dalam upaya mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Setelah Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia tidak serta merta terbebas begitu saja. Pasukan Belanda kembali menyerang Indonesia dalam agresi militer.
Hamid Rusdi yang sudah bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (sekarang TNI) berada di garda depan untuk memukul mundur tentara Belanda. Bahkan setelah berhasil mengusir Belanda dari Indonesia, perjuangannya masih belum berhenti.
Kala itu, PKI sedang berusaha mengubah Indonesia menjadi negara komunis. Hamid kembali mengambil komando dan memimpin pasukan untuk memberantas PKI di Malang Selatan.
Pada tahun 1948, Hamid yang berpangkat kolonel harus turun pangkat menjadi mayor. Penurunan pangkat ini diterapkan pada seluruh tentara di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menghemat keuangan negara dengan menekan gaji tentara.
Penurunan pangkat dan gaji itu ternyata tidak membuat semangat Hamid turun. Ia terus bekerja memberantas musuh. Karena menganggap kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia lebih penting daripada pangkat dan uang.

   Baca juga : Sukses Berawal dari Hobi
Hamid Rusdi, menikah pada tahun 1946. Istrinya bernama Geetrada Josephine Schwarz, adalah seorang perempuan asal Kecamatan Turen yang lahir dari keluarga Belanda-Jawa. Ia memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Siti Fatimah.
Semenjak menjadi istri Hamid Rusdi, Siti rela tinggal berpindah-pindah mengikuti Hamid, sekaligus mendukung perjuangannya. Bahkan, mereka juga jarang sekali bertemu, karena Hamid Rusdi selalu pergi bergerilya.
Namun demikian, Hamid tidak pernah lupa untuk bersikap romantis pada istrinya. Mengetahui istrinya menyukai bunga, ia kerap pulang dengan membawa bunga mawar.
Tiga tahun setelah pernikahan mereka yang jauh dari damai itu, Hamid berpesan pada Siti untuk selalu menjaga diri dan rajin beribadah saat berpamitan untuk bertugas. Rupanya itu adalah pesan terakhir Hamid untuk istrinya. Hamid dan empat kawannya gugur ditembak oleh Belanda di pinggir sungai Wonokoyo, Kedungkandang, Malang. Ia gugur sebagai bunga bangsa.
Sisi menarik lagi, bahas walikan yang menjadi bahasa khas Malang ini, juga sudah ada sejak zaman Hamid Rusdi. Seperti kata 'saya' di balik menjadi ayas, 'kamu' diubah menjadi umak. Asal usul dari bahasa ini rupanya berawal dari kata sandi yang diciptakan oleh Hamid Rusdi saat melawan Belanda di Agresi Militer II.
Penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa normal sangat beresiko karena dapat dimengerti pihak musuh dan mata-mata. Akhirnya Hamid menciptakan kata sandi dengan membalik susunan huruf dalam sebuah kata untuk mengirim pesan pada pasukannya.(agp/ary)



Senin, 16 Des 2019

Tawaf Terbalik

Loading...