Masyarakat Tak Usah Cemas Konsumsi Telur Jatim | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 19 Nov 2019, dibaca : 204 , Redaksi, Net

SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengimbau masyarakat tidak perlu cemas dan khawatir mengonsumsi telur yang diproduksi peternak ayam petelur Jatim. Ia menjamin telur yang beredar di masyarakat adalah telur yang sehat dan diproduksi dengan menerapkan pola good farming practices.
Good farming practices adalah tatalaksana peternakan yang meliputi segala aktivitas teknis dan higienis dalam pemeliharaan sehari-hari, mulai dari cara dan sistem pemberian pakan, sanitasi, serta pencegahan dan pengobatan penyakit.
"Sebanyak 96,3 persen telur di Jawa Timur dihasilkan dari ayam ras petelur yang sudah menerapkan good farming practices. Sisanya 3,7 persen telur dari ayam buras atau kampung yang belum dikandangkan secara permanen, di antaranya ditemukan di daerah Tropodo. Untuk itu, masyarakat jangan khawatir karena telur dari Jatim sehat dan tidak mengandung racun," ujar Khofifah saat melakukan kunjungan ke Kelompok Telur Intan di Kecamatan Tumpang, Malang, Minggu (17/11).
Imbauan tersebut, lanjut Khofifah, sehubungan dengan rilis hasil penelitian jaringan kesehatan global (IPEN) yang mengungkap ayam buras atau kampung yang dipelihara secara umbaran dan mencari makan di tumpukan plastik di daerah Tropodo, Sidoarjo memiliki tingkat kontaminasi dioksin terparah kedua sedunia.
Khofifah menambahkan, pemeliharaan unggas dengan penerapan good farming practices terhadap 92,5 persen unggas penghasil telur di Jatim telah menggunakan pakan yang memiliki Nomor Pendaftaran Pakan (NPP). Terlebih, produksi telur unggas di Jatim pada 2018 mencapai 543,56 ribu ton atau setara 8,2 miliar butir telur. Serta berkontribusi sebesar 29 persen terhadap nasional atau peringkat 1 nasional. "Jatim telah surplus telur unggas mencapai 2,8 miliar butir telur, dan telah mampu menyuplai provinsi lain di Indonesia," ujarnya.
Untuk menjamin kualitas dan mutu telur di Jatim, Pemprov Jatim melalui Dinas Peternakan telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan sertifikasi kompartemen bebas penyakit flu burung di seluruh breeding farm yang memproduksi bibit untuk ayam petelur dan pedaging final.
"Selain itu, dengan melakukan uji yang dilanjutkan sertifikasi bebas penyakit Pullorum untuk induk ayam yang menghasilkan bibit ayam umur sehari yang akan diedarkan ke masyarakat serta melakukan pengambilan dan pengujian sampel telur dan daging unggas oleh Laboratorium Kesehatan Hewan secara periodik."
Khofifah pun meminta masyarakat yang memelihara ayam kampung dengan cara dilepas atau diumbar untuk segera beralih pemeliharaan unggas dengan skala bisnis dan dikandangkan."Bagi masyarakat yang memelihara ayam kampung dengan cara diumbar, harap segera beralih dengan mengandangkan ayam peliharaannya. Hal ini penting dilakukan untuk menjamin telur yang dihasilkan," ujarnya. (fef)



Loading...