MalangPost - Masa Transisi, Masa Hati-Hati

Kamis, 16 Juli 2020

  Mengikuti :

Masa Transisi, Masa Hati-Hati

Jumat, 29 Mei 2020, Dibaca : 2118 Kali

MALANG - New Normal Life menjadi masa depan warga Malang Raya. Ini sudah pasti dijalani setelah PSBB Malang Raya yang berakhir Sabtu (30/5) besok tak diperpanjang.
Aktivitas seperti biasa sudah bisa dilakukan.Tapi harus lebih berhati-hati.
Ini belum banyak dipahami masyarakat secara luas. Sebagian masyarakat menganggap usai PSBB semua hal secara normal dapat dilakukan tanpa mengikuti aturan ketat pencegahan Covid-19.
Hal itu dibahas dalam Malang Post Web Seminar (Webinar) bertajuk  “New Normal Malang Raya”, Jumat (29/5) . Lebih dari 400 peserta dari berbagai latar belakang menyimak pemaparan para narasumber.  


Narasumber dalam webinar ini, Danrem 083/BDJ Kol Inf Zainuddin, Wali Kota Malang Sutiaji, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko, Guru Besar Biologi Sel dan Molekuler dari Universitas Brawijaya (UB) dan Prof Sutiman Bambang Sumitro. Selain itu pakar komunikasi UMM Sugeng Winarno, Direktur RS Saiful Anwar Dr. dr. Kohar Hari Santoso dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang, Azka Subhan. Selain itu diikuti juga Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Leonardus Simarmata, Kapolres Batu AKBP Harviadi Agung Pratama dan perwakilan Polres Malang. Webinar dengan host Direktur Malang Post Dewi Yuhana ini juga diikuti perwakilan berbagai unsur terkait.
Wali Kota Malang Sutiaji mengungkapkan New Normal akan efektif jika masyarakat menjalankannya dengan disiplin.  Harus  tetap berhati-hati dan waspada.  “Kehati-hatian ini artinya warga tetap mengikuti prosedural pencegahan Covid-19. Seperti wajib bermasker dan lakukan physical distancing,” tegas Sutiaji.


New Normal bukan berarti warga bisa leluasa melakukan kegiatan seperti sebelum ada Covid-19. Semua kegiatan dilakukan dengan aturan-aturan khusus. Jika tidak, akan menerima konsekuensi sanksi.
Jika dalam masa transisi usai PSBB banyak warga tidak disiplin, maka PSBB bisa saja kembali diberlakukan. Ia menegaskan disiplin menjadi kunci utama. Maka dari itu pemda di Malang Raya sudah menyusun aturannya  berupa peraturan  wali kota dan peraturan bupati. Saat ini dua aturan tersebut sudah dikirim ke Biro Hukum Pemprov Jawa Timur. Kemarin pun Pemkot Malang sudah melakukan sosialisasi rancangan peraturan wali kota (perwali) kepada pelaku dunia usaha.
“Acuannya yang ada di Perwali PSBB 50 persen aturan dipertahankan. 50 persen lainnya dilonggarkan. Usai PSBB bukan langsung masuk New Normal tapi masih pada masa transisi. Tetap pakai masker dan physical distancing dikuatkan sambil ekonomi berjalan,” urai orang pertama di Pemkot Malang ini.
Jika tetap berhati-hati, Sutiaji meyakini warga Malang Raya dapat melewati masa pandemi dengan baik. Bahkan juga bertransformasi secara sosial budaya. Menjadi pribadi yang lebih paham akan pentingnya menjaga pola hidup sehat.

 

Hati-Hati Berupa Taat Aturan
Hal yang sama diutarakan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko. Ia menjelaskan bagaimana New Normal akan dijalankan di Kota Batu. Kehati-hatian akan dijadikan tameng utama.
Hal ini merujuk pada kepadatan warga yang bisa jadi datang usai PSBB selesai, karena Kota Batu mulai membuka sektor pariwisatanya yang menjadi kebanggaan.


Hal ini pun menjadi bahan pembahasan yang dilontarkan Direktur Malang Post Dewi Yuhana. Hana, sapaan akrab Dewi Yuhana menanyakan bagaiamana Kota Batu menjalankan prinsip kehati-hatian dalam masa transisi menuju New Normal. Sementara di sisi lain, Kota Batu menjadi salah satu tujuan wisata terbesar di Jawa Timur.
Dewanti menjelaskan, sudah menyiapkan aturan khusus dalam bentuk perwali yang harus ditaati seluruh komponen masyarakat di Kota Batu. “Antara Kota Batu, Malang Kota dan Kabupaten Malang pasti memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri. Memang di Kota Batu kita akan mendetailkan aturan di dunia usaha yang berbeda-beda jenisnya. Nanti yang wahana beda, hotel, guest house, hingga home stay aturannya akan dibedakan,” paparnya.


Maka dari itu ia menegaskan kepada seluruh komponen masyarakat untuk menaati aturan yang akan dituangkan resmi dalam perwali transisi New Normal. Harus siap menjalani konsekuensi sanksi jika melanggar.
Ia pun menegaskan tempat usaha yang belum bisa siap dengan sarana prasarana mengikuti protokol kesehatan Covid-19 tidak diperkenankan buka. Ini menjadi salah satu upaya menjaga warga dari terpaparnya Covid-19.
“Bahkan sudah ada yang mengangendakan training bagi pegawai di salah satu wahana wisata agar bisa menjalankan prosedur Covid-19 sebelum benar-benar beroperasi,” katanya.

 

Harus Edukasi Masyarakat
Danrem 083/Baladhika Jaya Kol Inf Zainuddin mengajak semua elemen masyarakat mengawal jalannya New Normal. Terpenting yakni pemahaman warga akan bahaya Covid-19.


Menurut Zainuddin, pemahaman masyarakat mengenai konsep New Normal tugas pertama dan yang paling penting dilakukan. Utamanya di masa transisi, usai PSBB berakhir pada 30 Mei 2020. Ia sempat menceritakan, ia menyempatkan diri berkeliling ke beberapa pasar rakyat di Kota Malang.
Mantan Danrindam I/Bukit Barisan ini menegaskan PSBB hingga New Normal merupakan metode  mencegah penularan virus Corona. Hal utama yakni mengedukasi masyarakat untuk memutus mata rantai Covid-19. Ketika warga paham maka aturan yang dijalankan akan menjadi kebiasaan kemudian menjadi karakter dan budaya secara kolektif.


Lebih lanjut dia memastikan mendukung pemerintah untuk memantau lapangan, melakukan hal dengan sistem operasional. Melihat kondisi di lapangan kemudian membuat kebijakan berdasarkan realita lapangan.
“Saya tanya salah satu pedagang yang saya temui karena dia pakai masker tapi hidungnya tidak ditutup. Katanya dia ndak bisa bernapas kalau pakai sampai tutup hidung. Karena itu tadi  saya bagikan Face Shield. Ini yang harus didengar dan diketahui agar kebijakan dibuat operasional. Yang dilapangan di tarik ke meja (jadi kebijakan,red),” tandasnya.


Edukasi dan melihat langsung kondisi nyata dilapangan harus dilakukan seluruh pemangku kebijakan. Dengan itulah New Normal yang akan dijalankan dapat berjalan efektif. (ica/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Francisca Angelina