Maju Pesat karena Dibully | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 28 Okt 2019, dibaca : 657 , bagus, ira

Pengalaman dibully ketika duduk di bangku SMA, memberikan semangat bagi K.R.A.T  David Santoso K.R, B.A., G.G., A.J.P untuk menjadi orang sukses. CEO PT Intelegensia Grahatama, ini tidak sekadar memiliki perusahaan. Tapi pria kelahran 21 Meni 1982 ini, juga sangat mendukung pembangunan di Kabupaten Malang.
Salah satu buktinya dia sangat mendukung pembangunan di Kabupaten Malang adalah ditandatanganinya PP no 68 tahun 2019 tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, oleh Presiden RI Joko Widodo. Melalui KEK Singhasari ini, David akan membangun Kabupaten Malang dengan konsep ekonomi kreatif, digital ekonomi dan pariwisata.
David mengaku menjadi pengusaha bukanlah menjadi cita-cita dirinya. Cita-cita itu muncul ketika dia pulang dari Amerika tahun 2006 lalu. Dia lebih dulu bergabung dengan perusahaan keluarga. Dan memulai dengan mengerjakan beberapa proyek. David yang berusia 24 tahun, mulai membangun perumahan di Surabaya Barat. Perusahaannya, juga dipercaya membangun komplek komersil dan mengerjakan kontruksi bangunan, baik itu milik swasta, TNI maupun pemerintah.

   Baca juga : Sukses karena Lepas Zona Nyaman


Seiring waktu, perusahaannya yang didirikannya, berkembang. Tidak lagi membuat konstruksi bangunan saja, tapi juga membangun hotel dan mengoperasionalkannya.  Dalam menjalankan bisnis, bapak tiga anak ini memang sangat serius. Dia mencurahkan segala pikirannya. Dan bekerja keras. Tujuannya adalah apa yang diinginkan berhasil dan sukses.
”Saya ini sebetulnya tidak memiliki cita-cita. Tapi ada keinginan kuat, bahwa saya harus menjadi orang sukses. Ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa saya bisa,’’ katanya.
David pun mengaku, motivasinya menjadi orang sukses itu tak lain berawal dari bullying yang dilakukan oleh teman-teman di SMA-nya. David mengatakan, sejak tahun 1998, dia sudah mengenyam pendidikan di Amerika. Dia Boston College High School.  Dia dibully karena menjadi orang minoritas. Saat itu, David yang berusia 16 tahun, juga tidak bisa berbahasa dan tidak memahami budaya lokal dengan baik.
”Dari bullying yang saya terima itu, memberikan semangat saya untuk belajar. Semangat saya untuk sukses. Saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa saya bisa dan mampu,’’ ungkapnya.
Dan itu dibuktikan David. Dia lulus dengan nilai baik. Bahkan, dia juga memiliki banyak teman di sana. David menceritakan, setelah lulus dari Boston College High School, David tidak pulang ke Indonesia. Pria asli Surabaya ini melanjutkan sekolah di Boston College jurusan Bachelor Of Art Economics.
Dia belajar selama empat tahun. Yaitu sejak tahun 2001-2005. Lulus dari Boston College dia melanjutkan belajar di Gemological Institute of America (GIA) di Carlsbad, California mengambil jurusan gemologi (ilmu batu-batuan berharga). Dia  lulus dengan gelar Graduate Gemologist dan Accredited Jewelry Professional.
”Jadi gelarnya kalau disingkat adalah GG, AJP.),’’ tambahnya.
Saat pulang ke Indonesia, naluri bisnis David mulai berkembang. Dia banyak mengerjakan proyek. Hingga akhirnya, Maret tahun 2007, suami dari Lee Giok Hana mendirikan perusahaan, yaitu PT Intelegendia Grahatama. Salah satu proyek perusahaan ini, adalah membangun perumahan Singhasari Residence, di Desa Klampok, Kecamatan Singosari.
David juga mengatakan dalam menjalankan bisnis tidak ada rumus atau buku petunjuk pasti. Bahkan karena hal itu, kadang  dia pun bingung menentukan pilihan. Terkadang tidak tahu harus kemana, kapan, dengan siapa, bagaimana caranya, dan mengapa harus demikian. Karena itu, tidak ada rumus dan petunjuk yang pasti.
“Tapi ada sebuah keyakinan bagi kami, bahwa Berbisnis dan berusaha memiliki punya banyak dimensi, bukan hanya sains, bukan hanya seni, ada dimensi ruang dan waktu, ada dimensi pertemanan dan persahabatan, dan pastinya ada dimensi spiritual. Sehingga saat semuanya seimbang semuanya pun berjalan dengan baik,’’ ungkapnya.

Dalam menjalankan bisnis, David juga mengaku tidak egois. Dia juga menerima masukan dari anak buahnya. Hasilnya, perusahaan yang dipimpinnya pun semakin pesat. Saat ini David memiliki banyak perusahaan. Lima di antaranya dipimpin langsung oleh David. Dan beberapa lainnya dia hanya bagian dari manajemen.
Harapannya ke depan? Jawaban David cukup simple. Yaitu menjadi lebih baik. Dia mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dan bangsa yang hebat, unggul dan disegani bangsa-bangsa lain. David yakin, ke depan Indonesia semakin maju. Dan dari kemajuan itu dia berharap mengambil bagian di dalamnya, meskipun kecil dan sepele.
Sebagai anak bangsa, David mengatakan ada tantangan. Terlebih dengan perubahan dunia yang sangat cepat dan dinamis, sehingga perekonomian pun tak menentu. Tapi dia yakin, akan sangat sukses jika semua pekerjaan itu dilakukan dengan cara-cara yang baik, bersama orang-orang yang baik.
”Prinsipnya adalah, karena kebaikan dan kejujuran menjadi kemewahan yang semakin mahal dan langka dewasa ini. Sehingga agar tidak salah melangkah, maka kejujuran harus dipegang teguh,” tandasnya.(ira/ary)



Minggu, 01 Des 2019

Kantong Darah Terinfeksi HIV/AIDS

Minggu, 01 Des 2019

Jangan Diskriminasi ODHA

Loading...