MalangPost - Korut Ancam Tingkatkan Program Nuklir

Minggu, 09 Agustus 2020

  Mengikuti :

Korut Ancam Tingkatkan Program Nuklir

Jumat, 12 Jun 2020, Dibaca : 4611 Kali

PYONG YANG - Korea Utara pada Jumat mengatakan dua tahun diplomasi dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump telah "memudar menjadi mimpi buruk yang gelap," dan mengancam untuk meningkatkan kemampuan senjata nuklirnya.

"Bahkan sinar tipis optimisme untuk perdamaian dan kemakmuran di Semenanjung Korea telah memudar menjadi mimpi buruk yang gelap," kata Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Son Gwon, dalam sebuah pernyataan pada Jumat yang menandai peringatan kedua KTT bersejarah Trump dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, Jumat (12/6).

Saat Kim Jong Un dan Trump bertemu di Singapura pada 12 Juni 2018, mereka menandatangani perjanjian yang tidak jelas untuk meningkatkan hubungan kedua negara dan berupaya menuju "denuklirisasi total Semenanjung Korea."

Namun hubungan bilateral memburuk, terutama setelah KTT kedua di Vietnam pada Februari 2019. KTT berakhir tanpa kesepakatan tentang cara membongkar program senjata nuklir Korea Utara dan kapan harus melonggarkan sanksi terhadap negara komunis tersebut.

Ri mengatakan, kendati Washington terus mengeluarkan pernyataan tidak masuk akal bahwa denuklirisasi Semenanjung Korea masih menjadi tujuan AS, tujuan strategis Korea Utara adalah "untuk membangun kekuatan yang lebih dapat diandalkan untuk mengatasi ancaman militer jangka panjang dari AS."

Dia menyampaikan, tujuan Korea Utara adalah memperluas program senjata nuklirnya, menegaskan bahwa Kim memberikan instruksi seperti itu dalam pertemuan Komisi Militer Pusat pada Mei lalu.

Dalam pertemuan itu, Kim Jong Un menguraikan "kebijakan baru untuk meningkatkan lebih lanjut" kemampuan nuklirnya dan mempromosikan pejabat pengembangan senjata.

Sejak Kim Jong Un kembali ke negaranya dengan tangan kosong dari KTT kedua di Vietnam, Korea Utara telah berulang kali menyatakan rasa frustrasinya, dengan mengatakan mereka telah kehilangan kepercayaan pada Washington dan mereka bersiap untuk perselisihan yang berkepanjangan dengan AS.

Sejak mengambil alih negaranya setelah kematian ayahnya dan pendahulunya, Kim Jong Il, pada tahun 2011, Kim Jong Un telah mempercepat program senjata nuklir dan misil negaranya. Korea Utara telah melakukan empat uji coba nuklir bawah tanah terakhir di bawah pemerintahan Kim Jong Un. Mereka juga melakukan tiga uji coba rudal balistik antarbenua pada 2017.

Kim Jong Un kemudian beralih ke diplomasi dengan Trump, setelah menyatakan moratorium uji coba nuklir dan rudal jarak jauh. Korea Utara juga telah menghancurkan sebagian dari situs uji senjata nuklir bawah tanahnya dan mengembalikan sisa-sisa tentara Amerika yang terbunuh selama Perang Korea 1950-1953, serta membebaskan tiga orang Amerika yang disandera.

Tetapi tindakan itu tidak cukup bagi Trump untuk mencapai kesepakatan baru dengan Kim di Vietnam. Selama pembicaraan, Washington meminta Korea Utara untuk mulai membongkar senjata nuklir dan bahan fisilnya sebelum sanksi akan dilonggarkan, tetapi Korea Utara bersikeras mereka dicabut lebih awal.

"Kalau dipikir-pikir yang telah dilakukan Washington hanyalah mengumpulkan pencapaian politiknya," kata Ri.

"Kami tidak akan pernah lagi memberikan paket lain kepada eksekutif AS untuk dimanfaatkan demi pencapaian tanpa menerima imbalan," tegasnya.

Pada Mei tahun lalu, Korea Utara memecahkan hiatus selama 18 bulan dalam tes senjata, melakukan 18 uji coba rudal balistik jarak pendek dan roket. Pada Desember, dilakukan dua uji coba darat di lokasi uji mesin rudal untuk mendukung apa yang disebutnya sebagai "pencegah nuklir."

Sebelumnya pada Desember, Kim mengatakan negaranya tidak lagi merasa terikat oleh moratorium yang diberlakukan sendiri atas uji coba nuklir dan rudal jarak jauh, dan mengancam akan mengungkap senjata strategis baru. (bal/mdk/jon)

Editor : Jon Soeparijono
Penulis : Net