KH Masjkur Resmi Pahlawan Nasional | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Jumat, 08 Nov 2019, dibaca : 1365 , bagus, amanda

MALANG - Pendiri Yayasan Sabilillah Malang, KH Masjkur ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Joko Widodo, Jumat (8/11) kemarin. Sang pejuang tersebut sebelumnya masuk dalam nominasi 20 nama yang diusulkan oleh Kemensos RI. Bukan tanpa alasan, tentu karena perjuangan panjangnya sebagai perintis dan pengisi kemerdekaan RI.
“Berdasarkan informasi dari Kemensos, acara penganugerahan pahlawan nasional oleh presiden Joko Widodo dilakukan hari ini (8/11) di Istana Negara Jakarta. Keluarga KH. Masjkur diwakili oleh cucu beliau,” terang Ketua Yayasan Sabilillah Malang, Prof Dr. M. Mas'ud Said.
KH Masjkur lahir pada 30 Desember 1898 masehi. Selama hidupnya, ia mengabdi sebagai santri di beberapa Pondok Pesantren. Seperti Pondok Pesantren Bungkuk Singosari, Sono Buduran Sidoarjo, Siwalan Panji Sidoarjo, Tebuireng Jombang, Mangunsari Nganjuk, Syaikhonan KH. M. Kholil Bangkalan, Jamsaren Solo, Penyosongan Cibatu, Kresek Cibatu, dan Pondok Pesantren Ngamplang, Garut.
Selama hidupnya, lanjut Mas’ud, Masjkur juga mendapat beberapa penghargaan. Di antaranya, Bintang Mahaputra Adipradana, diberikan oleh Presiden Soeharto berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 024/TK/Tahun 1973 pada 19 Mei 1973. Kemudian, Tanda Penghargaan Legiun Veteran RI, diberikan pada 7 November 1988 oleh Letnan Jenderal TNI Purn. Achmad Tahir berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Legium Veteran RI No. Skep-11/MBLV/V/2/1988.
“Kemudian, ada Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kesatu, diberikan pada 14 November 1964 oleh Dr. A.H. Nasution berdasarkan Surat Tanda Penghargaan No. M/B/217/64/A,” terang dia.
Ada penghargaan Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kedua, diberikan pada 14 November 1964 oleh Dr. A.H.Nasution berdasarkan Surat Tanda Penghargaan No. M/B/217/64/B. Kemudian, Satyalantjana Gerakan Operasi Militer I, diberikan oleh Dr. A.H. Nasution pada 4 November 1964 berdasarkan Surat Tanda Penghargaan No. M/B/217/64. “Kemudian, ada penghargaan Tanda Djasa Bintang Gerilya, diberikan oleh Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia Soekarno pada 5 Oktober 1965 berdasarkan Surat Tanda Djasa Pahlawan No. 00966. Serta penghargaan Bintang Nile dari Pemerintah Mesir,” papar dia.

Selain mendapatkan penghargaan, Masjkur juga memiliki peranan dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) 1945, menghasilkan Rancangan Undang-Undang Dasar dan Piagam Jakarta (Rumusan Pancasila) dan Penumpasan FDR (PKI) di Madiun 1948.
“Selaku Menteri Agama di Jogja, beliau menyatakan FDR Bughot,” tegas dia.

Kemudian, ia juga mendapat pengakuan dari Presiden RI, selaku Waliyul Amri Adhoruri Bissyaukah tahun 1954, sehingga kelompok DI/TII-NII S.M.Kartosuwirjo berstatus Bughot (pemberontak) yang harus ditumpas.
“Beliau juga mendukung penumpasan G 30 S/PKI 1965 yang tidak Pancasilais. Anggota PBNU mendukung pemerintah menumpas G 30S/PKI dan sempat berkantor di Madiun. Mereka membuat pertahanan di pabrik-pabrik dan birokrasi pemerintahan dengan menggerakkan Sarbumusi. Dengan langkah tersebut, kantor-kantor tetap bisa dikendalikan,” terang pria kelahiran Sidoarjo pada 8 Maret 1964.

Setelah itu, Masjkur juga berhasil membuat Tap MPR no.2 1978 tentang Pedoman Penghayatan  Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa), salah satu penandatangan Wakil Ketua DPR/MPR.
“Kemudian, saat Muktamar NU di Situbondo 1984, ia menerima Pancasila sebagai Asas Organisasi. Undang-Undang No.3/1985 Asas Tunggal Pancasila dasar Ormas 19 Pebruari 1985,” papar mantan Asisten Staf Khusus Presiden RI ini.


Tahun 1921 Mulai Kenal Tulisan Latin

Semasa hidupnya, KH Masjkur memiliki peranan cukup penting. Kisah itu diawali dari tahun 1910. Saat itu, putra pasangan H Maksum dan Nyai Maimunah melakukan ibadah haji beserta ayah dan ibunya. Di mana saat itu, biaya perjalanan haji sebesar 300 gulden dan ditempuh dalam jangka waktu 6 bulan.
Kemudian, perjalanan spiritualnya berlanjut, pada tahun 1914, ia menjadi santri di Pondok Pesantren Bungkuk yang diasuh oleh KH Muhammad Thohir.
“Pesantren ini juga berada di Desa Pagentan Singosari  Malang, yang masih satu desa dengan rumah KH.Maksum, ayah Masjkur. Sejak kecil, Masjkur  sudah sering bermain dan mengaji di pesantren ini bersama dengan KH.Nachrowi bin Thohir,” terang Mas’ud Said.

Setelah itu, pada tahun 1915, ia kembali menjadi santri di Pondok Pesantren Sono Buduran
Sidoarjo, yang didirikan oleh Kiai Zainal Abidin. Sekitar abad ke-12 atau tahun 1164 H, yang
terkenal dari pesantren ini ialah “Tasrifan Sono” yang kemudian dikembangkan oleh
ulama besar dari Jombang KH. Ma’shum yang dikenal dengan “Sorof/Tasrifan Jombang”.
Hampir semua pesantren di tanah air menggunakan kitab atau model tasrifan ini.
Perjalanan religi terus dilakukan oleh KH Masjkur muda. Pada tahun 1917, ia kembali menjadi santri di Pondok Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo yang pertama kali dirintis oleh seorang ulama besar bernama Kiai Hamdani pada tahun 1787 M. Di pesantren ini pula, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama bernama KH. M. Hasyim Asy’ari mengemban ilmu agama dan ilmu alat.
Kelak, pendiri NU tersebut menjadi menantu di pesantren ini. Pada saat Masjkur nyantri di pesantren ini, diperkirakan pengasuh pada saat itu adalah KH. Hasyim Abdur Rohim dan KH. Khozin Fahruddin (keduanya adalah pengasuh generasi ketiga). Kemudian, pada tahun 1919, ia kembali terdaftar menjadi santri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Ponpes diasuh oleh Hadratussyaikh KH. M.Hasyim Asy’ari (1871-1947). Ada kisah bahwa KH. Hasyim Ay’ari menitipkan putranya yang bernama A. Wahid Hasyim. Ketika itu sang putra lebih muda sekitar 15 tahun dari Masjkur. Dititipkan untuk “dikader” dan selalu bersama dalam merintis kemerdekaan.
“Mandat tersebut ditandai dengan sebuah tongkat yang diberikan oleh Hadratussyaikh
kepada Masjkur muda,” jelas dia.
Setelah itu, pada tahun 1920, ia kembali nyantri di Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil  di Kademangan Bangkalan Madura. Pesantren ini merupakan induk dari banyak pesantren besar di tanah air. Mengingat para ulama besar pernah nyantri di pesantren ini, termasuk di antaranya KH. Hasyim Asy’ari, KH. Nachrowi Thohir, KH. Muhammad Hasan Genggong dan lainnya.
“Pada tahun 1921, beliau kembali nyatri di Pondok Pesantren Jamsaren Solo Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. Idris. Pada saat di Jamsaren inilah, Masjkur mulai mengenal dan belajar baca tulis huruf latin. Serta, mulai membicarakan masalah-masalah kebangsaan bersama dengan kelompok musyawarah santri,” lanjut dia.
Pada tahun 1922, Masjkur mulai mimiliki banyak teman dan jaringan berkat kelompok-kelompok kajian tersebut. Oleh karenanya, sesudah selesai nyantri di Jamsaren, Masjkur pergi ke wilayah barat untuk lelono (berkelana) untuk nyantri di beberapa pesantren. Antara lain, Pesantren Penyosongan Cibatu,  Pondok Kresek Cibatu, Pesantren Ngamplang Garut.

Dirikan Misbachul Wathan Tahun 1923
KH Masjkur, pada tahun 1923, setelah dari Jawa Barat, ia memilih untuk pulang ke Singosari untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan baca-tulis latin. Lembaga pendidikan tersebut diberi nama  Misbachul Wathan (Pelita Tanah Air) yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Yayasan Pendidikan Almaarif Singosari, yang saat ini sudah memiliki TK, SDI, MI, SMPI, MTs, SMAI, MA, dan SMK.
Kemudian, pada tahun 1924, atas saran dari KH. A. Wahab Hasbullah, lembaga pendidikan yang semula bernama Misbachul Wathan (Pelita Tanah Air) diubah menjadi Nahdlatul Wathon yang berinduk di Surabaya.
“Pada tanggal 31 Januari 1926, rapat Komite Hijaz di Surabaya, mengirim KH. Nachrowi Thohir  dari Singosari (sahabat sekaligus paman dari KH. Masjkur) turut serta dalam mendirikan Nahdlatul Ulama (NU),” beber dia.
Pada tahun 1927, Masjkur dinikahkan dengan cucu dari KH.Muhammad Thohir Bungkuk bernama Fatmah Binti KH. Cholil. Pada tahun yang sama, KH.Maksum, ayah dari Masjkur wafat. Masjkur kemudian fokus dalam pengembangan pendidikan dan usaha keluarga berupa pertanian, perkebunan, peternakan dan industri rumah tangga. Di samping itu, ia juga aktif di NU Singosari.
Sekitar tahun 1938, Ny. Fatmah, istri KH. Masjkur wafat tanpa meninggalkan keturunan. Akhirnya , Masjkur dinikahkan dengan adik dari Ny.Fatmah yang bernama Fatimah binti KH.  Cholil. Ny. Fatimah adalah putra keenam dari KH. Cholil dan Ny. Halimah. Pada tahun yang sama, Masjkur juga menjadi Ketua NU Cabang Malang sekaligus menjadi Pengurus NU Pusat (sekarang PBNU) yang kantornya ada di Surabaya. Setelah menikah, pada tahun 1940, ia memiliki putra bernama Saiful Islam (kelak diganti menjadi Saiful Masjkur).

Dirikan Laskar Hizbullah dan Pimpinan Laskar Sabilillah

Pada masa penjajahan Jepang, yakni pada tahun 1942, KH. Masjkur mulai aktif di pemerintahan. Juga  aktif sebagai anggota MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia), sebuah badan federasi bagi ormas Islam yang dibentuk dari hasil pertemuan 18-21 September 1937. Badan ini kemudian berubah menjadi Masjumi  (Majelis Sjuro Muslimin Indonesia).
“Pada tahun yang sama, turut mendirikan Pembela Tanah Air (PETA) dan Laskar Hizbullah. Serta, mengikuti pelatihan di Cibarusa Bogor Februari 1945, anggota Cuo Sangi-Kai
Malang Syu’,” terang Mas’ud.
Pada tahun yang sama, yakni 1945, Masjkur ditunjuk sebagai Dokuritsu Junbi Coosakai/Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) yang pada masa sidang tanggal 27 Mei-1 Juni 1945.
Ia berhasil menerbitkan draft Undang-Undang dasar dan Pancasila. Sementara, pada tanggal 9 November, Masjkur yang sebelumnya berada di Wonokromo, memasok pasukan kiai dan santri yang diberangkatkan ke Surabaya. Salah satunya bernama Abbas Sato yang merupakan teman Masjkur dan Nachrowi Thohir ketika di Jamsaren.
KH. Masjkur kemudian dikenal sebagai Pimpinan Tertinggi Laskar Sabilillah pada perang di Surabaya. Kemudian, pada bulan Februari tahun 1947, diadakan Sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Malang.
“Saat itu, KH. Masjkur menjadi anggota Dewan Pertahanan Negara (DPN). Bulan November tahun yang sama, ia diangkat sebagai Menteri Agama Yogyakarta,” beber dia.
Tahun 1948, ketika agresi militer Belanda II, Presiden, Wakil dan Kabinet ditangkap Belanda. KH Masjkur satu-satunya menteri yang lolos dari Jogja dan melanjutkan perjuangan beserta Panglima Besar Jenderal Soedirman dengan cara bergerilya, sekitar 7 bulan. Pada saat itu, KH.Masjkur sebagai Menteri Agama sekaligus anggota PDRI-KPPD dan Pimpinan Laskar Sabilillah.
“Kemudian, pada 19 April 1953 KH.A.Wahid Hasyim wafat, kemudian KH. Masjkur menggantikan posisi beliau sebagai Ketua PBNU,” ungkap dia.
Kemudian, pada tahun 1955, Masjkur menjabat sebagai Menteri Agama Kabinet Ali Sastroamidjojo,  Panitia Konferensi Asia Afrika, April 1955 di Bandung. Ia juga mendirikan Yayasan Perjalanan Haji Indonesia (YPHI). Pada saat itu, KH. Masjkur telah menginisiasi pemberangkatan haji untuk  kali pertamanya dilakukan oleh negara. Pada Muktamar Partai Nahdlatul Ulama ke-XX tahun 1954 di Surabaya, bersama-sama para ulama mendirikan Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI) di Surabaya.
Pada tahun 1956, diberikan gelar Waliyul Amri Addhoruriyu Bissyaukah kepada Presiden Soekarno dalam Munas Alim Ulama di Istana Bogor. Kemudian, pada tahun 1957, Masjkur juga andil dalam pendirian Jam’iyah Ahl al-Thoriqoh al-Mu’tabarroh (JATM) di Tegalrejo Magelang Jawa Tengah, a.l. dengan KH.A.Wahab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri, KH Dr.Idham Chalid, dan KH Muslih.
“Pada tahun 1959, ia menjadi anggota DPR-GR yang dibentuk oleh Presiden Soekarno. Kemudian, tahun 1962 ia menjadi Anggota Komando Retuling Aparatur Revolusi (KOTRAR). Kemudian, pada tahun 1863, ia menjadi Ketua PP Sarbumusi,” imbuh dia.
Pada tahun 1973, ia mendeklarasikan berdirinya Partai Persatuan Pembangunan(PPP). Dalam mendeklarasikan partai tersebut, KH. Masjkur bersama dengan KH. Idham Chalid, H. Mohammad Syafaat Mintaredja, H. Anwar Tjokroaminoto, dan Haji Rusli Halil. Tanggal 19 Mei 1973, mendapatkan  Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden RI Soeharto berdasarkan SK Presiden RI No. 024/TK/Tahun 1973.

Tahun 1976 Dirikan Masjid Sabilillah
Pada tahun 1976, ia mendirikan Masjid Sabilillah di Blimbing, Malang. Saat in telah menjadi
Yayasan Sabilillah Malang yang memiliki unit Lembaga Amil Zakat (Lazis) dan Lembaga Pendidikan  Islam (LPI). Lazis Sabilillah menaungi beberapa unit dan program di antaranya Rumah Yatim, Koperasi, Poliklinik, dan lain-lain.
“Sedangkan LPI menaungi beberapa lembaga di antaranya SDI Full Day, SMPI Full Day, dan SMAI Full Day yang dilengkapi dengan Asrama (Islamic Boarding School),” jelas Mas’ud.
Kemudian, pada tahun 1977, ia ikut mendirikan Universitas Islam Sunan Giri Malang, yang menjadi cikal bakal Universitas Islam Malang. Saat ini, Unisma berada di bawah naungan Yayasan Unisma dan memiliki beberapa unit antara lain Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma, Pondok Pesantren Mahasiswa Ainul Yaqin, Masjid Ainul Yaqin dan lainnya.
Kemudian, pada tahun 1983, ia menjadi Wakil Ketua DPR/MPR RI yang dilantik berdasarkan SK Pengangkatan dari Presiden Soeharto. Pada saat menjadi Wakil Ketua MPR/DPR, KH.Masjkur turut menggagas keluarnya TAP MPR II tahun 1978 tentang Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila.
“Apa yang gagas oleh KH. Masjkur tersebut merupakan bentuk komitmen yang dipegang semenjak Pancasila secara resmi menjadi dasar negara berdasarkan konsensus sidang-sidang BPUPK–PPKI tahun 1945 di mana KH.Masjkur turut terlibat sebagai anggota sidang,” tegas dia.
Pada tahun yang sama, diselenggarakan Munas Alim Ulama di Situbondo untuk membahas masalah azas tunggal. Salah satu diktumnya adalah menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasi. Satu tahun berikutnya, pada Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Sitobondo, secara resmi dan formal, Pancasila ditegaskan sebagai asas tunggal NU. Kemudian, pada tahun 1990, Masjkur menjadi dewan kurator PTIQ Jakarta.
Pada 19 Desember 1992, ia wafat di rumahnya, yakni Jalan Imam Bonjol 22 Menteng, Jakarta Pusat, pukul 18:20. Kemudian jenazah diberangkatkan ke Malang. Dan langsung dimakamkan pada keesokan harinya, yakni 20 Desember pukul 10.30 WIB menggunakan pesawat Hercules lewat Lanud Halim Perdanakusuma, sementara keluarga besar menaiki Pesawat Fokker-28 Pelita Air Service.
Setelah sampai di Malang, jenazah langsung menuju Masjid Sabilillah Malang kemudian ke Masjid Hizbullah Singosari untuk disalati. Setelah dilakukan upacara kenegaraan secara militer dan dilepas oleh Gubernur Jawa Timur Mayjen. TNI (Purn.) Soelarso dan Irup Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI R. Hartono, jenazah disemayamkan di Keluarga Pondok Pesantren Miftahul Falah Bungkuk Singosari Malang.(tea/ary)



Minggu, 01 Des 2019

Kantong Darah Terinfeksi HIV/AIDS

Minggu, 01 Des 2019

Jangan Diskriminasi ODHA

Loading...