Keluarga Muda Tak Gunakan Bahasa Jawa | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 27 Okt 2019, dibaca : 2571 , vandri, asa

Pakar Kajian Budaya Nusantara dan Kajian dan Budaya Jawa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Arif Budi Wurianto, MS memaparkan tiga faktor utama meyebabkan generasi muda enggan menggunakan bahasa Jawa.
“Sedikit persoalan dengan penduduk kota yang multikultural. Banyak pendatang dari berbagai daerah dengan bahasa ibu bukan bahasa Jawa misalnya,” sebutnya.
Menurut Arif, hal tersebut memberikan pengaruh langsung terhadap penurunan penggunaan bahasa Jawa maupun penggunaan bahasa daerah lainnya. Sebab mereka harus menggunakan alternatif lain untuk dapat berkomunikasi satu sama lain. Yakni menggunakan bahasa Indonesia.
Kemudian faktor yang kedua adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Ini membuat para orang tua lebih memilih mengajarkan bahasa Indonesia dibanding bahasa Jawa. Tujuannya untuk mempermudah pergaulan putra-putri mereka  di  masyarakat umum yang memiliki perbedaan latar belakang budaya dan bahasa.
“Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional juga berpengaruh. Keluarga muda kebanyakan mendidik anaknya dari kecil berbahasa Indonesia meskipun berasal dari etnis Jawa. Setelah anak besar hal ini juga berpengaruh terhadap kemampuan anak berbahasa Jawa,” lanjutnya.

   Baca juga : Tampil Cantik dengan Bulu Mata Lentik


Menariknya, pada faktor kedua ini,  ia memaparkan bahwa bahasa Jawa bukan lagi menjadi bahasa keseharian keluarga, khususnya dikalangan keluarga muda. Bahkan sekarang tak jarang ditemui, anak justru mendapat pengetahuan berbahasa Jawa di luar pendidikan keluarga. ” Bahasa Jawa diperoleh lewat pergaulan,” ujar dosen bahasa dan sastra Indonesia, UMM ini.
Kemudian faktor ketiga lanjut dia, tentunya  tuntutan global masyarakat dunia untuk mempermudah komunikasi dengan menggunakan bahasa internasional. Yakni Bahasa Inggris.
Tuntutan tersebut menyebabkan hampir segala lini penyokong kehidupan manusia menggunakan bahasa Inggris.“Belum lagi bahasa Inggris yang merajalela di televisi atau media bisnis,” sebutnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, sejauh ini pemerintah sebenarnya sudah mengeluarkan kebijakan terkait pelestarian bahasa Jawa. Misalnya adanya pelajaran bahasa daerah di sekolah. Bahkan di setiap provinsi terdapat Balai Bahasa. Salah satu tugasnya menjamin keberlangsungan berbahasa daerah.
Pemerintah membuat slogan lewat Badan Bahasa Nasional. Di antaranya utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing.  
Slogan yang dikeluarkan pemerintah menggambarkan adanya upaya alternatif untuk menghadapi tuntutan penguasaan bahasa.  Sebab elemen bahasa harus sama-sama diupayakan untuk membentuk suatu keseimbangan persaingan dan pertahanan budaya.
Namun menurut Arif, bahasa Jawa masih menjadi bahasa daerah yang paling banyak digunakan  jika dibandingkan bahasa daerah lain.  Masyarakat Jawa yang banyak menjadi salah satu penyebab utama penggunaannya masih cukup tinggi. Jadi selama masyarakat Jawa masih mempertahankan tradisi, maka bahasa daerahnya dipastikan masih tetap lestari.
Selain itu, penggunaan bahasa Jawa di wilayah Jawa Timur sendiri sudah diupayakan oleh pemerintah.  Berupa kebijakan penerapan kurikulum bahasa Jawa secara wajib sejak jenjang SD sampai dengan SMA.
Di sisi lain muncul fenomena menarik belakangan ini yang memberikan dampak luar biasa terhadap minat generasi muda terhadap bahasa Jawa. Yakni kembali populernya tembang-tembang Jawa miliki Didi Kempot di kalangan anak muda.
”Peranan Didi Kempot lewat lagu-lagu viralnya cukup membantu bahasa Jawa digunakan di kalangan anak muda,” ungkapnya.
Namun demikian, ia sendiri tak memungkiri bahwa memang terjadi perubahan seperti hilangnya kosa kata karena perubahan perilaku berbahasa Jawa di masyarakat. Tapi dia menyebut bahwa masih ada media yang berupaya untuk meletarikan bahasa Jawa melalui media menarik. “Seperti di radio masih banyak disiarkan lagu-lagu dan acara berbahasa Jawa,” pungkasnya. (imm/asa/ira/van)



Minggu, 01 Des 2019

Kantong Darah Terinfeksi HIV/AIDS

Minggu, 01 Des 2019

Jangan Diskriminasi ODHA

Loading...