Jaringan Narkoba Mahasiswa Pakai Sistem MLM, Malang Kawasan Sekam Narkotika

Rabu, 16 Oktober 2019

Senin, 16 Sep 2019, dibaca : 1335 , mp, fino

MALANG – Pengungkapan kasus 7 kilogram narkoba oleh BNN Malang Raya, serta datangnya ‘polisi super’ spesialis narkoba, AKBP Dony Alexander, seperti menjadi sinyal. Malang Raya sedang darurat narkotika. Topik ini pun menjadi bahasan dalam diskusi Malang Post Forum di hall Graha Malang Post, Jumat (13/9).
Para pihak terkait diundang dalam diskusi rutin Malang Post. Yakni, Polres Malang Kota diwakili KBO Satresnarkoba Ipda Bambang Heryanta dan Kepala BNN Kota Malang AKBP Agus Irianto dari pihak penegak hukum. LSM Yayasan Sadar Hati hingga mantan pecandu yang tobat, hadir pula dalam diskusi.
Serta, pihak paling berkepentingan dengan mahasiswa, yaitu kampus-kampus ikut diundang. Yaitu, UMM Dr Fauzan MPd, Rektor Universitas Kanjuruhan Malang Dr Pieter Sahertian MSi, Rektor ITN Dr Ir Kustamar MT serta perwakilan UM Dr Tutut Chusniyah MSi. Diskusi dimoderatori oleh Sekretaris Redaksi Malang Post Abdul Halim.
Narkoba merupakan persoalan bangsa, yang tidak akan bisa diselesaikan sendirian oleh Malang. Namun, setidaknya, Malang memicu kesadaran, terhadap situasi nyata generasi tentang penetrasi narkotika yang telah merambah ke semua lini. Dengan momentum September 2019, Malang Post Forum memilih topik mahasiswa baru dan ancaman narkoba.
Sebagai latar belakang, Halim menyebut bahwa ungkap kasus 7 kilogram narkotika oleh BNN di Malang, adalah bukti bahwa Malang adalah pasar yang akan disasar oleh bandar. Para bandar dan pengedar tentu sudah memiliki pasar yang luas, yakni masyarakat Malang. Tak terkecuali, mahasiswa baru yang masih belum memahami kondisi nyata pergaulan di Malang.
Pangkalan Data Kemenristek Dikti terhadap jumlah mahasiswa di Malang tahun 2018/2019, mencatat setidaknya ada kurang lebih 130 ribu mahasiswa yang studi di Malang. Jumlah tersebut, ditambah dengan tambahan ribuan mahasiswa yang berstatus mahasiswa baru tahun 2019 ini.
Bambang Heryanta dari Polres Makota, langsung membuka diskusi dengan jumlah ungkap kasus Satresnarkoba tahun 2019. “Mulai dari Januari sampai September 2019, ada 226 kasus narkotika yang diungkap. Peredaran narkoba di Malang, itu nomor dua tertinggi di Jawa Timur, setelah Surabaya,” ujar Bambang.
Dari 226 kasus tersebut, jumlah tersangka adalah 253 orang dari berbagai latar belakang. Dari total kasus yang diungkap, setidaknya 10 persen pelaku berasal dari kalangan mahasiswa. Bambang menyebut, tren ini mengalami peningkatan. Karena, tahun 2018 lalu, dari total 251 kasus dengan 309 tersangka, ada 25 pelaku dari mahasiswa.
“Nah, ini masih bulan September, jumlah tersangka dari mahasiswa sudah 26 orang, berasal dari berbagai universitas. Akhir tahun, jumlahnya bisa jadi bertambah. Kasusnya pun, bervariasi, tapi banyak di ganja, sabu dan inex atau ekstasi,” sambung Bambang. Sekilas, jumlah kasus yang terungkap tidak serta merta membuat Malang darurat narkoba.
Terutama, bila membandingkan jumlah pelaku dari mahasiswa, dengan dengan total mahasiswa di Malang, apalagi populasi masyarakat Malang. Namun, jika dikalkulasi, maka setidaknya Polres Malang Kota menangkap satu orang tersangka narkoba, dua hari sekali. Bambang menyebut, jaringan narkotika mahasiswa, sempat diungkap ketika penangkapan ganja gorilla.
“Awalnya tangkap satu anak mahasiswa, kawasan Dinoyo, dia jual ganja gorilla Rp 150 ribuan, ternyata kami telusuri ada jaringan besar. Mereka tak hanya jual di kalangan mahasiswa Malang, tapi bahkan mengirim ke Surabaya,” ujarnya. Dari hasil interogasi pelaku, Polres Makota merinci, jaringan narkotika mereka sangat terintegrasi di grup WhatsApp.
Mereka mengedarkan dan menyebarluaskan narkotika, seperti jaring laba-laba, dan sistem MLM. Setiap kampus, memiliki kader. Dari satu kader ini, dia memiliki sub kader, dan terus menurun hingga membentuk jaringan. Sehingga, ketika satu orang kena, masih ada kader lain yang meneruskan.
Kepala BNN Kota Malang, AKBP Agoes Irianto menggarisbawahi, jumlah penghuni LP Lowokwaru, banyak dihuni kasus narkotika. “Dari total kapasitas 1150, jumlah penghuninya 3600 orang di LP Lowokwaru. Sejumlah 70 persen yang menghuni, terkait penyalahgunaan narkotika,” ujar Agoes.
Dia menegaskan, satu-satunya hal yang diinginkan oleh bandar dan pengedar adalah masyarakat acuh, tidak peduli dan menganggap Malang masih belum darurat narkoba. Karena, hal itu akan semakin memudahkan operasi mereka secara diam-diam. Peredaran mereka seperti virus yang menginfeksi satu demi satu sel tubuh.
Sebelum akhirnya, virus narkoba menumpuk menjadi kanker ganas yang tak bisa disembuhkan. HIV/Aids, hepatitis C, dan berbagai penyakit lain, menjadi dampak yang fatal bagi generasi. Agoes menyebut, ungkap narkotika 7 kilogram BNN Malang adalah pemicu kesadaran tentang adanya pusaran narkotika di wilayah Malang.
“Contohnya saja, belum lama ini, BNN mengungkap 50 kilogram ganja di Solo. Barangnya berasal dari Aceh. Pelakunya, adalah warga Jalan Jakarta Dalam,” tegas Agoes. Dia mengistilahkan kawasan Malang sebagai kawasan sekam. Diam-diam, Malang hanya tampak asap-asap, tak tahunya di bagian dalam sudah kebakaran.
Agoes menegaskan Malang ini adalah kawasan sekam narkoba. Fenomena lain yang menguatkan bahaya tersembunyi narkotika, yaitu temuan BNN Kota Malang di lingkungan SMP. Beberapa temuannya, oknum siswa sudah terbiasa merokok dan minum minuman keras. Apalagi, narkotika sekarang, bukan lagi narkotika suntik seperti era 1990-an.
“Sekarang narkotika itu oral, bukan lagi yang disuntik, karena itu ganja dan sabu sangat ngetren di sini,” tandasnya. Agoes Irianto, siap terus bekerjasama dengan semua instansi terkait, untuk menjadi benteng terdepan bagi anak-anak muda dan masyarakat terhadap bahaya narkoba. Polres Makota yang kini dipimpin Dony Alexander, juga sudah memiliki tim khusus untuk pemberantasan narkotika.
Namun, karena masifnya peredaran narkotika di Indonesia, semua pihak harus bekerjasama, tidak bisa sendiri-sendiri, untuk memberantas dan menghalau peredaran narkotika yang mengincar anak-anak muda, dan masyarakat pada umumnya.(fin/bersambung)



Loading...