Indonesia Kirim Balik 9 Kontainer Sampah Plastik ke Australia

Jumat, 18 Oktober 2019

Rabu, 18 Sep 2019, dibaca : 282 , udi, net

JAKARTA - Indonesia mengirimkan balik sembilan kontainer limbah plastik yang tercampur sampah serta limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) ke Australia. Sampah ini berasal dari Tanjung Perak, Tanjung Priok, dan Tangerang.
"Khusus untuk yang 9 kontainer ini, ini adalah reekspor yang khusus berasal dari kawasan berikat. Jadi ada berapa kawasan berikat yang misalkan industri pengolahan sampah plastik dan 9 di antaranya kita putuskan ini harus direekspor," ujar Direktur Jenderal Bea-Cukai Heru Pambudi Heru di Terminal Peti Kemas Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (18/9/2019).
Pengembalian sembilan kontainer sampah plastik ini dilakukan oleh Bea-Cukai bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Hadir pula aparat kepolisian dan sejumlah pejabat terkait.
Heru mengatakan sembilan kontainer ini merupakan impor yang dilakukan oleh PT HI. Menurutnya, sembilan kontainer itu rencananya akan berangkat pada Kamis (19/9) besok ke negara asal, yakni Australia. "Sembilan (kontainer) ini adalah kontainer yang berasal dari Australia dan sudah diajukan dokumen pengembaliannya tanggal 12 September kemarin dan akan dikapalkan tanggal 19 September," katanya.
Selain itu, Heru mengungkapkan sinergi antara Bea Cukai dan KLHK kali ini berhasil menindak tiga perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat di wilayah Tangerang, Banten, yaitu PT HI, PT NHI, dan PT ART. Ketiga perusahaan tersebut kedapatan mengimpor limbah plastik tercampur sampah dan limbah (B3), bahkan salah satu perusahaan tersebut mengimpor tanpa dilengkapi dokumen yang dipersyaratkan.
"Penindakan pertama dilakukan terhadap PT HI yang mengimpor 102 kontainer plastik lembaran dan plastik buatan berbagai jenis. Bea-Cukai Tangerang melakukan koordinasi dengan KLHK untuk melakukan pemeriksaan bersama tanggal 14, 15, dan 29 Agustus 2019," kata Heru.
"Hasilnya, 23 kontainer terkontaminasi sampah, limbah B3, serta direkomendasikan untuk dikembalikan ke negara asal, yaitu Australia (13 kontainer), Amerika Serikat (7 kontainer), Spanyol (2 kontainer), dan Belgia (1 kontainer), sementara 79 lainnya dinyatakan bersih dan diberikan izin untuk dipakai sebagai bahan baku," sambungnya.
Kedua, lanjut Heru, penindakan dilakukan terhadap PT NHI yang mengimpor 138 kontainer berisi chips, biji plastik PET, dan staple fibre. Setelah diperiksa bersama dan dikoordinasikan dengan KLHK pada tanggal 9 dan 29 Juli serta 2 Agustus 2019, 109 kontainer dinyatakan terkontaminasi sampah/limbah B3 dan akan direekspor ke negara asal dengan rincian 80 kontainer ke Australia, 4 kontainer ke Amerika Serikat, 3 kontainer ke Selandia Baru, dan 22 kontainer ke Britania Raya.
"Sementara 29 kontainer lainnya dinyatakan bersih dan diberikan izin untuk dipakai sebagai bahan baku. PT NHI telah mereekspor 2 kontainer yang terkontaminasi tersebut ke negara asal Selandia Baru pada tanggal 1 September 2019," ujarnya.
Ketiga, penindakan dilakukan terhadap PT ART yang mengimpor 24 kontainer berisi biji plastik. Importasi tersebut terbukti tidak dilengkapi dokumen persetujuan impor sehingga Bea-Cukai langsung membekukan izin kawasan berikat PT ART.
"Setelah dilakukan pemeriksaan bersama dengan KLHK, 10 kontainer dinyatakan terkontaminasi limbah B3, yaitu Hong Kong (3 kontainer) dan Australia (7 kontainer). Sementara itu, 14 kontainer lainnya yang berasal dari Jepang (2 kontainer), Kanada (4 kontainer), Spanyol (5 kontainer), dan Hong Kong (3 kontainer) dinyatakan bersih," katanya.
(cnn/det/udi)



Loading...