MalangPost - Hindari Tiga *Kejahatan* Mahasiswa

Minggu, 09 Agustus 2020

  Mengikuti :

Hindari Tiga *Kejahatan* Mahasiswa

Minggu, 08 Des 2019, Dibaca : 1986 Kali

Bramma Aji Putra, dalam bukunya “Menembus Koran”, menyebut tiga ‘kejahatan’ utama mahasiswa. Menurutnya, tiga kejahatan itu tidak layak dilakukan siapapun yang mengaku dirinya  makhluk intelektual bernama mahasiswa.  Sebagai  agen perubahan  sosial, tidak layak melakukan tiga kejahatan tadi. Yang dimaksud tiga kejahatan itu adalah: tidak suka membaca, tidak senang berdiskusi, dan tidak hobi menulis.
Kita tentu sependapat dengan paparan seorang kolumnis muda ternama-- asal Yogyakarta yang juga alumni UIN Sunan Kalijaga--tersebut. Mengapa? Buku adalah  jendela pengetahuan. Dia bisa dilihat hanya dengan cara membacanya. Apabila ada mahasiswa yang hobi membaca maka patut bersyukur.
Disengaja atau tidak mahasiswa yang hobi membaca sama halnya dengan hobi menambah pengetahuan. Padahal, pengetahuan merupakan garis demarkasi intelektualitas dan kebodohan. Oleh karena itu, seorang mahasiswa yang tidak hobi membaca sangat mudah ditentukan, di posisi mana dia berada : intelek atau bodoh.
Betapa pentingnya membaca  mengapa wahyu pertama turun dengan kata “IQRA” yang tidak lain berarti perintah membaca. Membaca di sini tentu dimaksudkan tidak hanya berliterasi secara tekstual, membaca tulisan kasat mata, seperti  buku, majalah, atau sejumlah literatur. Akan tetapi, juga membaca tulisan yang tidak tampak. Tulisan yang tidak tampak itu tidak lain adalah setiap gejala yang melingkungi mahasiswa. Wujud abstraknya, seperti isu politik, isu ketimpangan sosial, isu HAM, isu ketidakadilan.
Mengapa pula ketidaksenangan mahasiswa berdiskusi juga dapat disebut kejahatan? Dunia perguruan tinggi (PT) merupakan tempat bertemunya pemuda, tidak hanya lintas daerah tetapi juga lintas pulau. Bahkan, mungkin juga lintas negara. Yang datang dari berbagai tempat tadi tentu membawa kebiasaan, karakter dan budaya dengan segenap kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Akan tetapi, kelebihan dan kekurangan tersebut mau tidak mau harus bersatu dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Ketidakmauan mahasiswa berdiskusi dapat mengakibatkan seorang mahasiswa egois. Pada tataran tertentu sifat itu tidak saja melahirkan sifat otoriter dan tidak demokratis. Tetapi, yang lebih barbahaya akan menjadikan mahasiswa berkarakter eksklusif. Dalam sejarah sudah terbukti, bahwa pengetahuan yang tidak terkontrol sering menimbulkan pemahaman ekslusif.
Para diktator, seperti Benito Mussolini, Adolf Hitler adalah sebagian contoh pribadi eksklusif yang enggan mendengar pendapat orang lain. Diskusi sejatinya salah satu upaya penting untuk “mentashih” setiap pengetahuan yang didapat agar terhindar dari eksklusivitas itu.

Pada akhirnya, dua hal di atas ( membaca dan berdiskusi ) harus ditopang dengan hobi yang ketiga, yaitu hobi menulis. Membaca dan diskusi bersifat temporer. Membaca dan diskusi dapat hilang seiring dengan perkembangan ruang dan waktu. Akan tetapi, sebuah karya dari akibat hobi menulis akan dapat abadi dan dikenang sepanjang zaman.
Karya tulis telah berperan besar mendokumentasikan sekaligus mengabadikan sebuah ide, pemikiran, dan penemuan. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana kita dapat melakukan sebuah penelitian tanpa adanya referensi berupa buku-buku, tulisan-tulisan  para penulis terdahulu. Betapa ide-ide cemerlang itu akan hilang bersamaan dengan meninggalnya para pemikirnya.
Rasulullahpun pernah mengingatkan sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara langsung. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan cara ‘mewafatkan’ para pemilik ilmu (ulama).
Dalam konteks ini pula itulah sebabnya sangatlah tepat mengapa Umar bin Khattab begitu mendesak Khalifah Abu Bakar agar berkenan mengumpulkan Alquran yang waktu itu hanya terdokumentasi di tulang belulang, batu, dan pelepah kurma secara berserakan. Misi tersebut menjadi sempurna di masa Khalifah Usman bin Affan.
Benar pula pepatah  Arab yang mengatakan “al-Ilmu shoyyidun wa- alkitabatu qayyidun” (Ilmu itu liar dan tulisan adalah pengikatnya). Kepada salah seorang promovendus yang ia bertindak sebagai promotornya mendiang Prof. Dr. Harun Nasution berpesan singkat : “Jangan berhenti menulis walau hanya satu baris”. Pesan beliau sejatinya juga merupakan salah bentuk implementasi pesan sebuah syair dalam Kitab Ta’limul Muta’allim karya Az Zarnuji: “Wakun muftafidan kulla yaumin ziyadatan”  yang jika diterjemahkan bebas berarti: ”jadilah anda setiap hari orang yang terus menambah karya”.
Itulah pula sebabnya, ketika terjadi perdebatan, di awal berdirinya ICMI tentang siapa yang dapat disebut cendekiawan. Jawabannya, ternyata cendekiawan tidak mesti orang bergelar sarjana tertentu.
Kita pernah mempunyai seorang intelektual dengan level dunia bernama Soedjatmoko. Tidak pernah menyelesaikan studi formal di PT. Oleh karena itu, juga tidak satupun gelar tersemat di depan atau belakang namanya, kecuali hanya anugerah doctor kehormatan. Akan tetapi, karena pemikiran-pemikirannya yang cemerlang tentang kemanusiaan beliau pernah diangkat menjadi Rektor Universitas PBB.
Mengapa orang yang tidak mempunyai gelar akademik formal itu dapat memperoleh derajat akademik yang begitu tinggi? Jawabnya, tidak lain karena ide-ide briliannya yang dituangkan dalam tulisan-tulisan di jurnal-jurnal internasional. Dengan menulislah dia dikenal dunia sekaligus ide-idenya.
Dengan kalimat lain yang agak kasar dapat dikatakan, bahwa seorang mahasiswa yang tidak mau menulis, sekalipun mahasiswa sejatinya bukan siapa-siapa. Dia tidak ubahnya seperti anak muda pada umumnya. Satu-satunya yang membedakan adalah kalau anak muda yang bukan mahasiswa  tidak klimis karena tidak bersepatu dan tidak perlu minta uang orang tua untuk membayar uang kuliah.
Akan tetapi menulis ternyata memang juga tidak gampang. Seorang boleh lihai berorasi berjam-jam dengan kalimat dan vokal  yang enak di dengar. Akan tetapi, dia belum tentu bisa menyusun kalimat dalam bentuk tulisan walau hanya seperempat halaman sekalipun.
Betapa sering kita dengar berita sumbang banyak para kandidat sarjana (S-2 dan S-3, apalagi S-1) bermasalah ketika menghadapi tugas-tugas akademik yang berkaitan dengan tulis menulis, seperti meembuat makalah dan menyusun skripsi, tesis, atau disertasi.
Kegiatan menulis sejatinya perpaduan dari  pengetahuan, gagasan, sikap kritis dan seni merangkai kata-kata. Dia tidak hanya perlu latihan tetapi juga keberanian. Oleh karena itu, belajar menulislah dari sekarang. (*)

Oleh : H. Asmu’i Syarkowi
Hakim Pengadilan Agama Lumajang Klas I A, sejak Januari 2016

Editor : Redaksi
Penulis : opini