Dua Tahun Penelitan, Rudy Mardiyanto Mempu Ciptakan Kentang Warna

Jumat, 18 Oktober 2019

Senin, 26 Agu 2019, dibaca : 854 , mp, kris

Rudy Mardiyanto petani asal Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menunjukkan kentang warna yang ia ciptakan melalui genetika warna.(Kristianto/malang post)

 

Gagal panen menjadi momok bagi para petani. Tak terjangkaunya sarana dan prasana menjadi persoalan yang tak kunjung usai. Pupuk yang mahal membuat keuntungan tak seberapa. Cerita tersebut berulang tiap musim berganti.

Hal itulah yang seringkali menjadi persoalan dan kerap terjadi bagi petani di Indonesia. Khususnya di Kota Batu. Terpuruk. Jelas. Harus bangun. Sudah pasti. Itulah yang ada pada diri petani asal Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu bernama Rudy Mardiyanto.

Dengan ilmu yang ia dapat dari orang tuanya dengan ikut bertani sejak kecil, bangku kuliah, dan pengalamannya ke beberapa negara yang ia kunjungi. Rudy, sapaan akrabnya mampu menginspirasi dirinya untuk mengembangkan pertanian miliknya.

Bahkan, ia mampu melakukan penelitian dan menghasilkan gen kentang warna yang belum pernah ada di Batu. Juga di Indonesia. Untuk penelitian yang dilakukan, butuh waktu dua tahun agar bisa menemukan kentang warna tersebut.

Pada akhirnya tiga klone warna berhasil ia temukan. Yakni kentang dengan kukit dan daging warna merah, kentang kulit putih dan daging berwarna hitam, kulit ungu muda daging hitam, kulit hitam dengan daging hitam. Serta kentang mata merah dan mata ungu.

Ia menceratakan butuh banyak waktu untuk berinovasi dalam menghasilkan beragam varian kentang yang ada. Hal itu seharusnya dilakukan oleh pemerintah. Karena menurutnya pemerintahlah yang memiliki dana untuk menghasilkan produk pertanian yang unggulan.

"Penelitian di bidang pertanian (kentang warna.red) ini mulai saya kerjakan sejak tahun 2007. Saat ini saya tengah mengembangkan bibit-bibit kentang warna tersebut untuk dipasarkan nantinya," ujar Rudy kepada Malang Post mengawali ceritanya.

Lebih lanjut, apa yang dilakukannya, karena melihat keterpurukan para petani di Kota Batu dan Indonesia. Sehingga inovasi dibutuhkan oleh petani. Salah satunya adalah kentang warna yang buatnya karena melihat pangsa pasar di Indonesia dan luar negeri yang cukup bagus.

Inovasi kentang warna yang ia buat berasal dari kentang putih yang biasanya digunakan untuk French Fries atau kentang goreng. Dengan begitu ia berfikir dengan adanya kentang warna itu akan menarik konsumen serta untuk keripik kentang warna.

"Itu salah satu alasan saya melakukan inovasi. Selain itu ada banyak keunggulan dari kentang warna tersebut," imbuh laki-laki kelahiran Batu 2 Juli 1979 ini.

Kelebihan kentang warna yang ia ciptakan dengan antosianin warna itu sangat bermanfaat untuk kesehatan. Yakni membantu melapisi hemoglobin darah, anti kanker, dan beta karoten yang dimiliki akan dikonversi dalam tubuh menjadi vitamin A, antioksidan kuat yang memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan mata, kulit dan fungsi neurologis. Sedangkan untuk rasa, diungkap bapak dua anak ini lebih enak.

Kini, dengan dua green house yang ia miliki berukuran 400 meter persegi. Rudy tengah memperbanyak populasi kentang warna dengan stek batang. Media tanam bukanlah tanah. Yaitu sepet atau cocopeat dan sekem. Karena media tanah menurutnya membuat kentang mudah terserang penyakit.

Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang dan Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKI) ini, sekarang memiliki sekitar 1000 bibit lentang warna. Sedangkan untuk kentang granola Arjuno ada sebanyak 100 ribu knol atau bibit.

Tak hanya itu, ia pernah memiliki mengoleksi 3000 varietas kentang dari bernagai belahan dunia. Namun karena masalah perut ribuan varietas kentang tersebut sudah tak pernah ia rawat. Sehingga tak diketahui kemana saja kentang-kentang tersebut.

"Untuk ribuan vaietas yang pernah saya koleksi sudah tak tahu kemana. Karena harus mengurusi pertanian lainnya untuk kebutuhan rumah tangga," bebernya.

Namun, ia juga masih memiliki saru jenis kentangbhasil fusi protoplas atau salah satu metode persilangan atau hibridisasi tanaman dengan memanfaatkan rekayasa genetika konvensional. Yang membedakan tanaman kentang tersebut dengan lainnya adalag daun yang berbuku. Sehingga ulat tak berai memakan daun terbebut.

"Penggabungan dua cel itu adalah penelitian yang dilakukan seorang teman di Jerman dan menghabiskan dana Rp 1,2 miliar," imbuhnya.

Kembali lagi, untuk kentang warna dan kentang granola Arjuno yang kini dikembangkan kini dikembangkan telah di mitrakan kepada beberapa petani di Desa Sumberbrantas dan beberapa daerah lainnya. Kemitraan tersebut ia lakukan dengan sistem bagi hasil 50:50 persen.

Pembagian sistem sama tersebut, diungkapnya karena proses atau riset untuk menciptakan kentang warna butuh waktu lama. Yakni hampir dua tahun. Untuk kultur jaringan selama delapan bulan, pindah tanam enam bulan. Kemudian pembenihan di masyarakat selama empat bulan.

Dengan bermitra tersebut. Rudi menargetkan, pada tahun depan produk kentang warna yang ia kembangkan mampu dipasarkan dan diterima oleh pasar di Indonesia. (eri/mp)



Loading...