Doktor Mengabdi UB, Bantu Tingkatkan Kesejahteraan Petani Kopi Pancursari

Selasa, 15 Oktober 2019

Sabtu, 21 Sep 2019, dibaca : 633 , rosida, asa

MALANG - Keterbatasan sarana dan prasarana untuk meningkatkan taraf hidup menjadi persoalan utama yang dihadapi oleh petani biji kopi di kawasan Kabupaten Malang bagian selatan tepatnya di Dusun Pancursari, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Hal tersebut menjadi alasan utama salah satu tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya (UB) untuk memberikan pendampingan terkait pengolahan mekanik biji kopi.
Meskipun popularitas kopi belakangan tengah meningkat di kalangan masyarakat, namun hal tersebut ternyata masih belum  memberikan dampak siginifikan terhadap kesejahteraan para petani biji kopi. Tentu hal tersebut sangat disayangkan, mengingat kopi di perkotaan kini juga telah menjadi bagian ekonomi kreatif yang mendatangkan keuntungan.
Kali ini, tim Doktor Mengabdi UB terdiri dari Dr. Ir. Musthofa Lutfi, MP. dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Dr. Eng. Masruroh, S.Si., M.Si. dari Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA), Dr, Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si. dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), dan Widya Pujarama. S.I.Kom., M.Communication dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Mereka memilih Dusun Pancursari, sebab taraf hidup masyarakatnya cukup rendah. Meskipun lokasinya berdekatan dengan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) 12. Selain itu,
Dusun Pancursari Kecamatan Sumbermanjing Wetan sendiri sebenarnya merupakan bagian dari kawasan terkenal penghasil kopi yang sering disebut sebagai Amstirdam atau singkatan dari Ampel Gading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit.
"Permasalahan utama dari petani biji kopi adalah tidak tersedianya sarana dan fasilitas untuk meningkatkan taraf hidup. Seperti tidak adanya pengetahuan, pelatihan, dan juga peralatan pemanggangan modern yang memadai untuk mengolah biji kopi mentah," ungkap Ketua tim Doktor Mengabdi UB, Dr. Ir. Musthofa Lutfi, MP.
Meski sudah menjadi petani kopi selama puluhan tahun, lanjutnya, mereka hanya menjual biji kopi sebagai bahan mentah dengan harga tertinggi Rp 22 ribu per kg. Harga tersebut berlaku baik di pasar terdekat maupun kepada pengepul. Belum lagi kasus pada petani perempuan, yang jika tidak menjual biji kopi mentah dengan sangat murah, hanya mengolah biji kopi dengan cara tradisional dan menjualnya ke pasar dalam bentuk kopi jagung yang harganya sangat murah.
Padahal, jika diolah dengan baik dan sesuai dengan standar, biji kopi yang mereka panen dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi.
"Inilah tujuan kita, agar petani mendapatkan nilai tambah secara ekonomis dari kopi yg dibudidayakan yang selama ini masih dijual mentah. Harapannya keuntungan ekonomi meningkat dan mereka makin sejahtera," jelasnya.
Dengan tujuan tersebut, tim Doktor Mengabdi UB tersebut memberikan pelatihan berkelanjutan kepada setidaknya 20 petani. Untuk meningkatkan pengetahuan mereka terkait pengolahan biji kopi yang lebih modern, serta untuk menghasilkan biji kopi yang jauh lebih berkualitas. Tak tangung-tanggung akan mendampingi para petani kopi selama setidaknya delapan bulan.
"Program yang berlangsung selama delapan bulan ini menerapkan keahliah yang berfokus pada penguatan kewirausahaan dan produktivitas berbasis komoditas kopi lokal, introduksi teknologi pengolahan kopi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, dan yang terakhir adalah pembentukan lembaga ekonomi mikro sebagai sarana dalam pemberdayaan perekonomian,” pungkasnya.
Sementara itu, belum lama ini tepatnya, Minggu (14/9), tim Doktor Mengabdi UB tersebut melakukan kunjungan kedua dalam rangka memperkenalkan peralatan mekanik pengolahan biji kopi mentah dan melatih para petani kopi di Dusun Pancursari untuk cara penggunaannya. Peralatan yang dikenalkan berupa Coffee Roaster dan Coffee Grinder diharapkan mampu membuat para petani beralih pola pertanian sederhana.
Awalnya, dari menjual biji kopi mentah menjadi petani enterpreneur atau wirausahawan sebagai sebuah kelompok usaha mikro yang menjual produk kopi siap konsumsi. Alat tersebut juga diserah terimakan dalam bentuk hibah kepada para petani di dusun Pancursari untuk menjamin keberlangsungan program secara mandiri.
“Program ini masih belum selesai. Harapannya di tahun 2020 kami dapat melakukan pendampingan lagi, sehingga petani kopi di Pancursari dapat menjadi enterpreneur dengan produk yang dikenal dan disukai pasar,” tandasnya. (asa/red/oci)



Loading...