Dipercaya Amerika, Jajaki Marketplace Eropa

Selasa, 15 Oktober 2019

Sabtu, 21 Sep 2019, dibaca : 465 , halim, linda

Berkembang melalui sebuah inovasi. Itulah yang menjadi landasan Biji Inovasi sejak awal berdiri pada 2013 lalu. Startup yang bergerak dalam bidang pembuatan software ini terus bertumbuh, dari yang mulanya tim hanya terdiri tiga orang namun sejak Mei 2018 sudah mencapai 40 karyawan.
Software yang ditangani antara lain Web App, Mobile App, IoT dan Dekstop App. Biji Inovasi siap memberikan karya terbaiknya, menyediakan solusi efektif dan dinamis dalam mengembangkan aplikasi mobile dengan teknologi Xamarin, Java, React Native, atau NativeScript. Selain itu, tim memiliki penguasaan terhadap IoT Device yang siap membantu dalam riset maupun produksi untuk menyambut industri 4.0.
Founder & Direktur Biji Inovasi, M. Dedi Rudianto memaparkan, dalam perjalanannya startup yang telah dirintisnya ini telah banyak melahirkan project sukses, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. "Seperti Digisquare chatbot yakni sebuah platform manajemen bot untuk otomatisasi layanan dalam bentuk chat. Mendukung pembuatan bot untuk platform Line, FB Massanger dan Telegram," ujar Dedi, sapaan akrabnya.
Selanjutnya ada Quran Chat.me yakni sebuha virtual untuk berinteraksi dengan Alquran dalam bentuk chat. Mulai dari pencarian ayat, terjemah dan tafsir, hingga pengingat harian. Salah satu catting yang didukung adalah Whatsapp.
Feyfa Booking System, yakni sistem manajemen booking untuk kamar dan meeting room hotel yang secara langsung menghubungkan customer dengan banyak hotel. Ada juga ERP Patriot Jaya, pengembangan ERP yang dikhususkan untuk toko bangunan.
"Selain itu kami juga pernah menangani projek dari instansi pemerintahan yakni Dinas Perhubungan Jawa Timur, seperti Mudik Gratis. Sebuah sistem manajemen mudik gratis yang disediakan pemerintah Jawa Timur untuk mengurangi angka pemudik bermotor," jelasnya.
Tidak hanya sekali itu saja, Biji Inovasi juga kembali didapuk oleh Dinas Perhubungan Jawa Timur dalam projek Jembatan Timbang, JT Command Center, Sinta dan Perizinan Kendaraan. Melalui bantuan internet, perusahaan ini bahkan beberapa kali mendapat tawaran mengerjakan projec dari luar negeri. Seperti Amerika, Norwegia, dan Jepang.
Dari Amerika project yang diterimanya adalah R-Plus yakni sebuah aplikasi untuk mengolah data statistik dan memprosesnya dengan formula-formula tertentu hingga menghasilkan output yang dibutuhkan, baik dalam tabel maupun grafik. Sementara project dari Norwegia bernama Kverna Optimizer, aplikasi yang terhubung secara real time dengan pasar saham Norwegia dan digunakan dalam menganalisa serta membantu menentukan kapan harus membeli atau menjual saham.
"Ada juga KSGOBO dari Jepang. Itu sebuah marketplace yang digunakan oleh orang-orang asing di Jepang asal Vietnam atau Indonesia untuk memfasilitasi transaksi yang aman melalui rekening bersama," jelas laki-laki kelahiran Malang, 1 Mei 1990 ini.
Dikatakannya bahwa pihak luar negeri melirik jasanya lantaran harga yang ditawarkan lebih terjangkau, dengan pengerjaan yang terus upgrade sesuai perkembangan teknologi saat ini. Dalam sekali project Biji Inovasi membutuhkan waktu hingga 2 tahun dengan biaya mulai dari yang gratis hingga ratusan juta.
"Dari segi harga di Malang juga tidak bisa tinggi, sehingga perlu ekspansi ke luar kota untuk mendapatkan project-project yang besar. Kendala yang lainnya ada di tim harus solid sementara mencari orang dengan satu pandangan atau sepemikiran juga tidak gampang," papar lulusan Ilmu Komputer UB ini.
 Terlebih saat ini Biji Inovasi memiliki dua kantor yakni di Malang untuk produksi serta Jakarta untuk urusan administrasi dan legal. Sehingga ia harus mengontrol keduanya agar tetap berjalan sesuai target. "Saat ini kami sedang menjajaki kerja sama dengan marketplace di Eropa dan fokus mengerjakan project lainnya, dalam menjalin kerja sama. Kuncinya adalah komunikasi dan menyatukan pandangan," tutup Dedi. (lin/lim)



Loading...