Coach Joko Proteksi Keluarga dari Medsos, Tangkal Sakit Hati dengan Durian

Jumat, 18 Oktober 2019

sabtu, 10 Mar 2018, dibaca : 337 , Sugeng, Rahmat

Diskusi Malang Post-Arema FC Kamis lalu (8/3/18) tidak hanya membahas bagaimana tantangan dan peluang Singo Edan dalam Liga 1 2018 ini, tapi juga menjadi momen curahan hati cerita yang selama ini tak terungkap. Tentang bagaimana Coach Joko Susilo melarang keluarganya untuk mengakses media sosial. Tantangan berat Arema FC dan para penggawanya ketika menghadapi kompetisi, bukan saja soal jadwal padat yang bakal diterima. Dendi Santoso dkk harus siap dengan tekanan psikologis yang datang sangat cepat, di era digital ini. Jika dulu kritikan atau protes datang ke pemain pasca pertandingan, dengan mengerubuti bus pemain atau datang ke mess pemain. Maka kini, tekanan langsung melalui media sosial, yang terkadang tidak hanya diarahkan pada pemain, tetapi melebar sampai ke para keluarga. Pelatih Arema Joko Susilo pun sudah mengalaminya. Saat Arema yang dia pimpin mulai sulit mendapatkan kemenangan, kritikan mengalir deras kepadanya. Dia menegaskan tidak masalah mendapatkan cacian, kritikan atau hinaan. Asalkan bukan Arema yang sudah puluhan tahun ia bela sejak menjadi pemain, menjadi sasaran kritik dan protes. Coach Joko merasa lebih tenang menghadapi kritikan tersebut. Namun dia mulai khawatir, jika yang disasar adalah pemain atau keluarganya. Ya memang media sosial membuat semua berubah. Saya khawatir masalah psikologis pemain jika terus menerus terpengaruh omongan di medsos. Kalau saya, sudah siap. Meski dulu, jujur awal-awal sempat kacau juga menghadapi kritikan tersebut, papar dia dalam diskusi yang dipandu Pemimpin Redaksi Malang Post Dewi Yuhana tersebut. Hana, dalam kesempatan diskusi, memang tidak hanya mengulik pertanyaan teknis tentang strategi dan trik yang akan dilakukan Coach Joko untuk membawa Arema dalam Liga 1, tapi juga sisi lain. Termasuk menanyakan apa yang dilakukan Coach Joko saat menghadapi kritikan pedas yang tak jarang disampaikan dengan kalimat kasar. Saya mencoba untuk tidak terlalu memasukkan ocehan di media sosial ke dalam hati, jawabnya. Sekalipun begitu, dia tidak antipati atau menghindar. Coach Joko selalu melihat dan memantau perkembangan komentar yang disampaikan suporter maupun lainnya di media sosial. Saya selalu monitor, tetapi tetap tenang. Yang tidak tenang, mungkin kadang keluarga saya ikut emosi atau bagaimana. Maka saya minta istri dan anak-anak, untuk tidak mainan medsos dan tidak perlu menanggapinya. Sebab, kalau ditanggapi bisa panjang ceritanya, jelasnya panjang lebar. Pria yang rajin puasa Senin Kamis ini mengakui, saat sudah tersulut emosi karena komentar yang menyudutkan, dia akan memberikan hiburan pada keluarga. Meski anggota keluarganya tidak langsung melihat postingan komentar di media sosial, terkadang protes itu sampai juga kepada mereka, karena ada yang capture komentar dan mengirimkannya via WhatsApp. Bila itu terjadi, rayuan seperti mengajak jalan bareng untuk mengobati rasa sakit hati pun dilakukan Coach Joko. Saya ada grup WhatsApp untuk keluarga. Nah, kalau mereka sudah mulai tersulut emosi, saya minta untuk melupakannya dengan melakukan hal lain, seperti ajak makan durian, ngumpul satu keluarga, paparnya. Simpel. Hanya saja, pelatih berusia 47 tahun itu tentu tidak bisa terus memproteksi keluarga atau pemainnya dari serangan medsos. Itu yang acap kali dia khawatirkan selama membesut Arema, sejak pertengahan musim lalu. Ia hanya berharap, pemainnya tidak terus menerus berkutat dengan suara Aremania di medsos tersebut. Kalau saya bisa mengontrol emosi. Bagaimana pemain saya? Kalau pemain yang sudah lama di Arema, sepertinya kebal. Mereka yang masih muda atau baru pertama kali di Arema, saya harus perhatikan pemain-pemain Arema ini, urai pria asal Cepu itu. Beberapa kali, pemain Arema juga terpantau down saat menerima kritikan. Hal itu tampaknya tak luput dari perhatian Joko Susilo. Misalnya saat Dedik Setiawan gagal mengeksekusi penalti, lantas menutup akun Instagram-nya sementara waktu. Begitu pula saat pemain seperti Hanif Sjahbandi menerima derasnya kritik beberapa waktu lalu. Terkait fenomena medsos ini, manajemen Arema lebih tenang dalam menghadapinya. Media Officer Arema, Sudarmaji mengatakan tidak pernah menonaktifkan akun atau kolom komentar, bagaimanapun keadaan tim. Sedang menang atau kalah. Justru dari sana, Arema bisa mengetahui respon suporter kepada tim Singo Edan. Kami membiarkan kolom komentar aktif dan Aremania bisa memberikan respon, ujar Sudarmaji. Menurutnya, ada beberapa klub yang sampai menutup kolom komentar ketika tim dalam kondisi terpuruk atau diterpa informasi negatif. Arema mencoba fair, dalam kondisi apapun menerima suara dari para suporternya. Dia mencontohkan saat melawan Persebaya Surabaya di semifinal Piala Gubernur Kaltim lalu. Akun official Instagram Arema dibanjiri ribuan komentar. Satu per satu coba dibaca komentarnya. Dari situ kami melihat bagaimana suporter memberikan komentar. Memang, banyak yang negatif, tambahnya.(ley/han/bersambung)



Kamis, 17 Okt 2019

Hasil Di Luar Dugaan

Kamis, 17 Okt 2019

Kehilangan Fokus

Rabu, 16 Okt 2019

PSM Partai Neraka Arema

Loading...