MalangPost - Chloroquine, Obat yang Diborong Jokowi Dilarang di AS

Minggu, 09 Agustus 2020

  Mengikuti :

Chloroquine, Obat yang Diborong Jokowi Dilarang di AS

Rabu, 17 Jun 2020, Dibaca : 4362 Kali

JAKARTA - Chloroquine sempat menjadi salah satu obat yang dicari masyarakat di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Obat tersebut dikatakan ampuh menyembuhkan penyakit virus corona meskipun belum teruji secara klinis.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun memborong jutaan butir obat tersebut untuk menangani pasien virus corona. Selain chloroquine, Jokowi juga membali obat jenis avigan. "Pertama, avigan, dalam proses 2 juta. Kedua, chloroquine kita telah siap 3 juta," kata Jokowi pada 20 Maret lalu.

Jokowi mengatakan chloroquine ampuh menyembuhkan pasien Covid-19 di beberapa negara. Hal tersebut menjadi bahan pertimbangan dirinya memborong obat-obatan tersebut. Namun, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto meminta warga agar tak sembarangan membeli dan mengonsumsi chloroquine.

Yurianto menyebut obat tersebut adalah jenis obat keras. Ia memperingatkan warga tak sembarangan membeli, menyimpan, bahkan mengonsumsi sendiri obat itu tanpa resep dan pengawasan dokter. "Ini obat keras, penggunaan harus atas resep dokter. Ini penting," ujar Yurianto, 23 Maret lalu.

Namun, selang dua bulan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menghentikan sementara uji klinis hydroxychloroquine atau obat malaria sebagai pengobatan potensial bagi pasien virus corona.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan keputusan itu diambil setelah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet menunjukkan obat itu dapat meningkatkan risiko kematian pasien Covid-19. "Kelompok eksekutif menetapkan menghentikan sementara hydroxychloroquine dalam uji coba, sementara data keselamatan ditinjau oleh Dewan Pemantau Keamanan Data," kata Tedros pada 26 Mei.

Merespons keputusan WHO, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan pemerintah menghentikan sementara uji klinis hydroxychloroquine terhadap pasien virus corona.

Wiku mengatakan Indonesia termasuk negara yang mengikuti program 'Solidarity Trial' di bawah WHO untuk melakukan uji klinis terhadap empat obat corona, yakni remdesivir, aluvia, plus-interferon, termasuk hydroxychloroquine. "WHO sudah mengumumkan penghentian sementara uji coba hydroxychloroquine. Indonesia akan mengikuti instruksi WHO tersebut," kata Wiku, pada 28 Mei.

Namun, beberapa hari kemudian WHO melanjutkan lagi uji coba klinis hydroxychloroquine untuk mengobati pasien terinfeksi virus corona. Kepala ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan menyatakan bahwa keputusan menghentikan uji coba tersebut merupakan tindakan sementara.

Penggunaan obat chloroquine atau hydroxychloroquine tak disarankan dan dipakai sejumlah pihak. Seperti Pemerintah Prancis yang melarang penggunaan hydroxychloroquine untuk mengobati pasien terinfeksi virus corona mulai Rabu 27 Mei. Kemudian Tim Peneliti University of Oxford di Inggris menyebut hydroxychloroquine tak bermanfaat untuk pasien Covid-19.

Hydroxychloroquine tak lagi masuk dalam penelitian besar bertajuk Recovery Trial yang dilakukan oleh University of Oxford. Penelitian pengujian obat-obatan untuk Covid-19 ini melibatkan 11 ribu pasien di 175 rumah sakit di Inggris.

Teranyar, obat tersebut dilarang di Amerika Serikat (AS). Setelah sempat memperbolehkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menghentikan izin edar dan penggunaan hydroxychloroquine dan chloroquine untuk mengobati pasien Covid-19.

FDA dalam situs resminya mengatakan izin edar tersebut dicabut karena kedua obat itu dianggap tidak menunjukkan efektivitas bagi pasien yang dirawat karena infeksi Covid-19 di AS.

Sebaliknya, justru muncul laporan bahwa dalam uji klinis skala massal ada kasus gagal jantung dan dampak kesehatan serius lainnya setelah mengonsumsi hydroxychloroquine dan chloroquine.

Meskipun demikian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan masih menggunakan obat chloroquine untuk pasien virus corona di Indonesia. Pemberian obat kepada pasien Covid-19 dilakukan hati-hati. (cnn/det/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Net