Brimob Bertempur Sejak 1947 di Malang Raya | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Kamis, 14 Nov 2019, dibaca : 573 , bagus, ira

Hari ini, Kamis, 14 November,  Korps Brigade Mobil atau sering disingkat Brimob berulang tahun. Brimob merupakan kesatuan operasi khusus milik Polri. Menurut beberapa sumber, Korps Brimob dikenal sebagai salah satu unit tertua yang ada di dalam organisasi Polri. Korps Brimob banyak menorehkan sejarah. Tidak terkecuali di Malang. Anggota Brimob terjun dalam banyak peperangan.
Salah satunya adalah peristiwa 10 November 1947. Di Desa Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Kabupaten Malang. Dalam peristiwa itu ada 12 orang gugur. 11 merupakan anggota Brimob dan satu warga sipil. Nama-nama 12 orang yang gugur ini tercatat pada Monumen Brimob, yang terletak di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang. Dan monumen ini juga menjadi bukti sejarah perjuangan Brimob.
Dosen sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Ari Sapto M.Hum, menceritakan peristiwa 10 November 1947 di kawasan Tlogowaru, merupakan salah satu peristiwa yang sangat memilukan. Di mana, Belanda yang saat itu sudah menduduki atau menguasai wilayah Malang melakukan penyerangan secara tiba-tiba.
”Setelah agresi militer I yaitu 21 Juli 1947, Belanda kemudian menguasai beberapa daerah. Tidak terkecuali di Malang,’’ kata Ari, sapaan akrabnya.
Anggota Brimob yang saat itu memiliki nama Mobile Brigade (saat ini Brimob) yang memiliki markas di Malang, pun akhirnya meninggalkan markas. Mereka bersembunyi di wilayah-wilayah pinggiran, untuk mencari aman. Salah satu wilayah yang dipilih adalah kawasan Tlogowaru.
”Wilayah ini dipilih karena secara gegografis sangat representatif untuk persembunyian, karena berada di ketinggian,’’ tambah Ari.
Tepat 10 November 1947 pukul 02.00 WIB, Belanda melakukan operasi, dan langsung menyerang tempat persembunyian tersebut.
”Saat itu Belanda melakukan Operasi Intelejen. Namanya sesuai Dokumen Nafis, adalah  Operasi Rantai Emas. Belanda menyerang tempat persembunyian anggota Mob-Brig di Tlogowaru,’’ terang Ari.
Dia mengatakan, saat penyerangan itu, anggota Mob-Brig tidak dapat melakukan perlawanan secara maksimal. Dan penyerangan itu diduga besar karena ada peran serta mata-mata.
”Itu terjadi dinihari, dan Belanda saat itu langsung menuju sasaran. Penyerangan secara tiba-tiba ini diduga karena ada mata-mata di sana,’’ tambahnya.
Akibat penyerangan tersebut, 12 orang langsung meninggal dunia. Selain itu 3 orang kata Ari juga juga ditangkap.
”Untuk nama-nama yang meninggal, tercatat di monumen Brimob di Tlogowaru. Sedangkan yang ditangkap, juga ada. Tapi maaf, saya tidak ingat satu persatu,’’ ungkapnya.
Peristiwa heroik anggota Brimob juga terjadi di wilayah Pujon, Kabupaten Malang. Yaitu tahun 19 Desember 1948. Di mana saat itu, Pujon yang menjadi wilayah perbatasan dengan nama garis Van Mook (Status Quo Lijn) diterobos oleh pasukan Belanda. ”Banyak yang gugur juga saat itu. Di antaranya AP. III Katjoeng Permadi, AP. II Soejadi dan AP. II Peril,’’ kata Ari.
Sejarah peristiwa pujon ini dibuktikan dengan berdirinya monumen Status Quo di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon. Ari juga mengatakan, saat melakukan perlawanan kepada Belanda, tidak jarang anggota Brimob dibantu oleh anggota TNI dan masyarakat. Termasuk beberapa kali perlawanan di wilayah Tlogowaru, anggota Brimob berjuang bersama dengan anggota TNI.
”Kalau yang peristiwa 10 November 1947 itu memang perlawanan penyerangan itu dilakukan oleh Korps Brimob dibantu oleh masyarakat. Makanya di monumen ada satu warga sipil yang tercatat ikut gugur. Tapi di peristiwa-peristiwa lain, perlawanan kepada Belanda ini anggota Brimob bersama-sama dengan anggota TNI, dari beragam batalyon,’’ urainya.
Perjuangan anggota Brimob melakukan perlawanan kepada Belanda juga tercatat dalam buku Lintas Sejarah Korps Brimob Polri Satbrimob Polda Jatim Den B Pelopor dan Subden Jajaran. Dalam buku tersebut tertulis pada masa orde lama, anggota Brimon terlibat dalam Penghancuran jembatan pada tanggal 18 Desember 1948 Agresi Belanda II sewaktu Militer Belanda menyerang masuk Kota Malang. Penghancuran Pos-pos Belanda di daerah Swaru, Gondanglegi Malang,     penyerangan-penyerangan ke daerah Gondanglegi dan berhasil mendudukinya selamaempat hari.    Penyerangan terhadap Belanda secara sporadis di perbatasan Kepanjen Bulupitu Malang.    Pertempuran melawan Militer Belanda dalam mempertahankan daerah-daerah di sekitar Turen, Krebet serta di daerah Wonokerto- Malang.
Danyon B Pelopor Sat Brimob Polda Jatim, AKBP Tedy Purnanto SIK mengatakan, dalam melakukan perlawanan dengan Belanda, anggota Brimob bersama-sama dengan prajurit TNI dan masyarakat. Sampai dengan Indonesia betul-betul merdeka. Sejarah perjuangan itupun dibawa sampai saat ini. Di mana anggota Brimob terus melakukan sinergi. Mereka juga saling berkunjung saat ada kegiatan.
”TNI/Polri harus bersinergi untuk menjaga keutuhan dan kesatuan NKRI. Itu prinsipnya,’’ tandas Tedy.(ira/ary)



Minggu, 01 Des 2019

Kantong Darah Terinfeksi HIV/AIDS

Minggu, 01 Des 2019

Jangan Diskriminasi ODHA

Loading...