Biaya Mandiri, Dua Gapoktan Studi Banding | Malang Post

Minggu, 08 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 19 Nov 2019, dibaca : 336 , Febri, Kerisdiyanto

BATU – Dengan biaya mandiri, gapoktan Mitra Sejati dan Tani Bangkit, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu studi banding ke perkebunan strawberry PTPN 12 di Kawah Ijen, Kabupaten Bondowoso, Senin (18/11). Sebanyak 62 petani ingin menerapkan sistem pertanian organik, hasil studi banding itu.  
Studi banding tersebut bertujuan belajar hingga membandingkan pertanian strawberry Desa Pandanrejo dan Kawah Ijen, Kabupaten Bondowoso.
Ketua Gapoktan Tani Bangkit, Winardi menyampaikan, pertanian strawberry Pandanrejo tidak kalah dengan Kawah Ijen. Meski begitu, pihaknya bisa melakukan penerapan sistem pertanian yang dilakukan di Kawah Ijen. Misalnya sistem organik di lahan PTPN 12 bisa diterapkan di Batu. Dari sistem organik tersebut, pertanian di Kawah Ijen menghasilkan buah sangat manis.
"Ada banyak manfaat studi banding mandiri dari Gapoktan Mitra Sejati dan Tani Bangkit ke perkebunan strawberry milik PTPN 12. Hasilnya, sistem di sana bisa diterapkan pada pertanian di Pandanrejo," ujar Winardi kepada Malang Post, Selasa (19/11).
Sebaliknya, untuk pengolahan produk, pemasaran, dan perawatan lebih bagus di Desa Pandanrejo. Dengan pengolah produk yang beragam seperti jus strawberry, air minum kemasan dari sari strawberry, selai, keripik, sirup hingga jenang.
"Kalau produknya olahan strawberry, saya kira masih lebih baik di Pandanrejo karena lebih beragam. Di sana, strawberry hanya untuk jus dan wisata petik untuk wisatawan," bebernya.

Baca juga :

Bau Masuk Pemukiman, DPRD Sidak TPA

Elang Putih Lolos Babak Kedua

Kota Batu Raih Anugerah Swasti Saba Wiwerda


Selain itu, lanjut dia, harga jual masih lebih baik di Pandanrejo. Di Kawah Ijen, strawberry dijual Rp 50 ribu per kilogram dan di Pandanrejo Rp 50-75 ribu per kilogram. Tiket masuk ke petik strawberry Rp 5-10 ribu di Kawah Ijen dan Pandanrejo Rp 25 ribu.
"Untuk luas lahan, disana banyak berkurang karena erosi. Dulunnyalahan tiga hektar kini menjadi satu hektar. Pertanian strawberry tetap terjaga karena menjadi ikon Bondowoso, selain kopi mencapai 60 ribu hektar," bebernya.
Dia menyampaikan, pihaknya akan mengupayakan pertanian organik untuk Pandanrejo. Sehingga pertanian strawberry di Pandanrejo bisa maksimal, meski memerlukan proses yang cukup lama.
Tahun lalu, Gapoktan Mitra Sejati dan Gapoktan Tani Bangkit, Desa Pandanrejo, juga melalukan studi banding mandiri. Mereka berangkat ke Wonosobo, Jawa Tengah dengan membandingankan hasil pertanian kentang, wortel dan kubis. (eri/feb)



Minggu, 08 Des 2019

Kades Takut Kelola DD dan ADD

Loading...