Berawal dari Lali | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 27 Okt 2019, dibaca : 411 , vandri, asa

BAHASA Jawa sebenarnya memiliki daya tarik bagi mahasiswa asing untuk mempelajari. Salah satunya Rika Yamaguchi, mahasiswi STIE Malangkucecwara asal Jepang.  Selain belajar bahasa Indonesia, ia belajar bahas Jawa.  
“Saya belajar (bahasa Jawa) tapi belum lancar bicara. Saya bisa mengerti, karena banyak teman dekat asli Malang, ada sekitar 10 teman atau lebih (asli Malang),” kata Rika.

   Baca juga : Keluarga Muda Tak Gunakan Bahasa Jawa


Karena bahasa Jawa tidak diajarkan secara langsung di kampus, ia memiliki inisiatif belajar sendiri. Caranya mencatat setiap kata yang dilontarkan oleh teman-temannya atau bahkan ibu kos.
“Bahasa Jawa yang saya pertama kali ingat itu ‘lali’, soalnya saya sering lupa dompet atau kunci di kos,” kelakarnya.
Karena tingkah pelupanya itu, ia sering mendapat komentar lontaran berbahasa Jawa oleh orang-orang di sekitarnya. “Maka dari itu ibu kosku bilang, ‘lali maneh lali maneh,” katanya.
Sejak saat itu, Rika sering mencatat setiap kosa kata Bahasa Jawa yang didengar. Rika lalu menunjukkan catatan yang dibuat sejak awal datang ke Malang beberapa waktu lalu.
Sejauh ini, Rika menjelaskan bahwa bahasa Jawa yang ia pelajari sangat berguna dalam interaksi kesehariannya. Ia sejauh ini sudah bisa memperkenalkan diri menggunakan bahasa Jawa halus. Jadi Rika sudah bisa membedakan antara ngoko (bahasa Jawa sehari-hari) dan  kromo inggil yang lebih sopan.  “Sopannya jeneng kulo Rika,” ucapnya mencontohkan.
Dengan antusias Rika menyebut suatu saat ia ingin mempelajari bahasa Jawa secara serius. Sebab  menurutnya merupakan bahasa yang cukup unik dan menantang.  Salah satu teman Rika yang juga berasal dari Jepang yakni Akina Umeda, menuturkan Rika rekannya yang paling antusias dan berniat besar untuk mempelajari bahasa Jawa.

   Baca juga : Bahasa Jawa Terhimpit
Dosen mahasiswa asing di STIE Malangkucecewara Agnes Suprihatin mengungkapkan bahwa kurikulum di kampusnya sejauh ini belum memberikan pembelajaran terkait dengan bahasa Jawa secara langsung.
“Tapi misalnya dalam sebuah kegiatan pembelajaran begitu ada kosa kata bahasa Jawa, kami akan menjelaskan,” sebutnya.
Namun demikian, ia menyebut bahwa minat mahasiswa asing untuk mempelajari kebudayaan Indonesia termasuk bahasa daerah. Memang ada mahasiswa asing yang memiliki rasa penasaran cukup tinggi. Sehingga memanfaatkan interaksinya dengan mahasiswa reguler untuk memperkaya pengetahuan mereka.(asa/van)



Minggu, 01 Des 2019

Kantong Darah Terinfeksi HIV/AIDS

Minggu, 01 Des 2019

Jangan Diskriminasi ODHA

Loading...