Bahasa Jawa Terhimpit | Malang Post

Minggu, 08 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 27 Okt 2019, dibaca : 978 , vandri, imam

PENGGUNAAN bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari terancam tergeser. Generasi muda, terutama anak-anak kecil kini jarang menggunakan bahasa Jawa. Memang bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu wajib digunakan, tapi sebenarnya bahasa Jawa tak boleh ditinggalkan.

    Baca juga : Keluarga Muda Tak Gunakan Bahasa Jawa

 

Jangankan kromo inggil, ngoko saja mulai jarang digunakan. Inilah kenyataan penggunaan bahasa Jawa anak-anak muda. Paling tampak pada anak-anak kecil dalam pergaulan sehari-hari. Jarang terdengar mereka berhitung dengan tutur, siji, loro, telu dan seterusnya.
Penggunaan bahasa Jawa terancam tegeser seiring perkembangan zaman. Masyarakat cenderung berkompetisi untuk menguasai bahasa universal maupun bahasa asing seperti halnya bahasa Inggris.
Fenomena ini menimbulkan persoalan serius terkait penggunaan bahasa Jawa. Padahal sebagai bahasa daerah, bahasa Jawa tak sekadar identitas daerah. Tapi terdapat nilai sosial yang lebih besar. Contohnya ucapan atau penuturan yang lebih lembut dan aksen menghormati orang tua lebih terasa.

   Baca juga : Pertimbangan pakai eyelash extension
Terutama di tingkat Sekolah  Dasar (SD). Kebanyakan siswa menggunakan bahasa Indonesia. Entah mungkin pada saat itu aturan sekolah memang sedang diberlakukan penggunaan bahasa Indonesia. Atau mungkin memang bahasa Jawa mulai tak digunakan pelajar.
Yang jelas, banyak pihak merasa bahasa Jawa sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah terancam terkikis kemajuan zaman. Hal itu juga diakui oleh para guru, khususnya guru bahasa Jawa di beberapa sekolah.
Bahasa Jawa sebagai bahasa lokal kian tidak menarik bagi sebagian kaum muda. Ditambah materi pelajaran yang dianggap relatif  sulit dipahami. Namun lagi-lagi kesulitan mempelajari materi bahasa Jawa harus dipandang secara objektif. Karena bisa jadi kesulitan itu dirasakan lantaran tidak ada lagi ketertarikan untuk mempelajarinya.  
Sudah begitu, di kalangan keluarga muda kerap jarang menggunakan bahasa Jawa dalam keseharian di rumah. Dampaknya pada anak-anaknya. Mereka tak lagi menggunakan bahasa Jawa.
Idam Maulana, salah seorang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengakui lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian. Alasannya  lebih simpel, dan digunakan sejak kecil.
”Sejak kecil bahasa yang kami gunakan campuran. Tapi orang tua lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Jawa. Begitu juga dengan teman bermain maupun teman sekolah, bahasa yang kami gunakan juga campuran (Indonesia dan Jawa),’’ katanya.
Saat kuliah, Idam lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Itu karena tak semua teman kampusnya berasal dari Jawa. ”Kalau sama teman dari Malang atau dari Surabaya atau Jawa Timur, kami menggunakan bahasa Jawa kadang-kadang,” ungkapnya.
Menurutnya terpenting dalam bahasa yakni bisa memahami dan mengerti apa yang diucapkan, sehingga tidak muncul kesalahpahaman. ”Bukan kami tidak ingin melestarikan bahasa Jawa. Tapi kami memilih menggunakan bahasa Indonesia karena lebih global, dan menjadi bahasa kesatuan, yang semuanya dapat memahami,’’ tambahnya. (imm/asa/ira/van)



Minggu, 08 Des 2019

Kades Takut Kelola DD dan ADD

Loading...