MalangPost - Aturan Mufaraqah Makmum dalam Salat Berjamaah

Senin, 10 Agustus 2020

  Mengikuti :

Aturan Mufaraqah Makmum dalam Salat Berjamaah

Kamis, 18 Jun 2020, Dibaca : 4236 Kali

SALAT berjamaah merupakan salah satu ibadah yang hukumnya adalah sunnah muakkad atau sunnah yang sangat dianjurkan. Bahkan, sebagian ulama menyebut hukumnya fardhu kifayah (wajib kolektif), sehingga jika suatu daerah sama sekali tidak ada yang mendirikan salat berjamaah, maka seluruh penduduk di daerah tersebut terkena dosa.

Dalam melaksanakan salat berjamaah, kadang muncul problem yang perlu disikapi dalam tinjauan syara’. Misalnya tentang perincian dan aturan hukum memisahkan diri dari imam di pertengahan melaksanakan salat berjamaah, atau biasa disebut dengan istilah mufaraqah.

Mufaraqah dapat terjadi ketika makmum melakukan niat memisahkan diri dari imam dengan melaksanakan salat secara sendiri-sendiri. Misalnya dalam hati makmum melafalkan niat “Nawaitu mufaraqatal imam” atau “Nawaitu al-mufaraqah minal imam”, atau “Saya berniat memisahkan diri dari imam”, maka pada saat itu pula makmum tidak diperbolehkan untuk mengikuti atau mengiringi gerakan-gerakan rukun imam seperti makmum-makmum lain yang tidak mufaraqah. Sebab ia sudah dianggap salat sendirian, sehingga gerakan rukun-rukunnya ditentukan berdasarkan runtutan salat dirinya sendiri, bukan berdasarkan pada salat imam.

Hukum asal dari memisahkan diri dari imam (mufaraqah) dengan tanpa adanya udzur adalah makruh dan dapat menghilangkan fadilah jamaah. Misalnya, tanpa adanya sebab apa pun, makmum tiba-tiba mufaraqah. Berbeda halnya ketika mufaraqah dilakukan makmum karena motif yang baik, misalnya ketika makmum melihat imam tidak melakukan kesunnahan, seperti tahiyyat awal, maka dalam keadaan demikian, sunnah bagi makmum untuk mufaraqah guna melaksanakan kesunnahan yang ditinggalkan oleh imam.

Perincian hukum tentang mufaraqah ini selaras dengan penjelasan dalam kitab Nihayah az-Zain: “Niat memisahkan diri dari imam (mufaraqah) tanpa adanya udzur adalah hal yang makruh dan dapat menghilangkan fadilah jama’ah. Maka tidak haram bagi makmum memutus hubungan dengan imam dengan niat mufaraqah. Meskipun kita berpijak pada pendapat yang mengatakan bahwa salat berjamaah hukumnya adalah fardhu kifayah. Sebab fardhu kifayah tidak menjadi tetap (wajib) dengan melaksanakannya kecuali dalam bab Jihad, salat janazah, haji, dan umrah.

Ketentuan bolehnya mufaraqah ini selama tidak berakibat pada sepinya jamaah dalam suatu daerah, misalnya seperti tidak ada seorang pun yang salat berjamaah kecuali imam dan makmum tersebut. Jika kasus terakhir ini terjadi maka haram bagi makmum untuk mufaraqah, sebab fardhu kifayah ketika teringkas pada seseorang, maka berubah menjadi fardhu ‘ain. Jika mufaraqah karena adanya udzur, maka tidak makruh dan tidak menghilangkan fadilah jamaah, seperti makmum merasa sakit, imam memanjangkan salatnya, atau imam meninggalkan sunnah maqsudah, yakni sunnah-sunnah yang diganti dengan sujud sahwi atau sunnah yang begitu kuat perkhilafan ulama tentang wajibnya melaksanakan sunnah tersebut, atau sunnah yang terdapat dalil yang menunjukkan besarnya fadilah melakukannya” (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain, hal. 129).

Di samping itu, terdapat pula keadaan di mana wajib bagi makmum untuk mufaraqah dari imamnya, yakni saat makmum mengetahui imam melakukan hal-hal yang membatalkan salat, misalkan makmum mengetahui pakaian imam terkena najis yang tidak ditoleransi (ma'fu) atau makmum mendengar kentutnya imam saat sedang shalat.

Dalam keadaan demikian wajib baginya mufaraqah dari imam agar salat makmum tersebut bisa tetap dihukumi sah. Sehingga jika dirangkum secara menyeluruh, dalam hukum mufaraqah terdapat lima perincian hukum yang berlaku bagi makmum, sesuai keadaan dan kondisi yang terjadi pada saat salat berjamaah. Lima perincian ini secara jelas disebutkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin dengan mengutip kitab Kasyf an-Niqab:

“Kesimpulannya, memutus hubungan dengan imam terdapat lima rincian hukum. Pertama, wajib, seperti saat makmum melihat imam melakukan hal yang membatalkan salat. Kedua, sunnah, yakni ketika imam meninggalkan sebuah kesunnahan yang dianjurkan (dalam salat). Ketiga, mubah, seperti ketika imam memanjangkan salat. Keempat, makruh dan dapat menghilangkan fadilah jamaah, yakni ketika mufaraqah tanpa adanya udzur. Kelima, haram, Yakni ketika syiar salat berjamaah hanya terwujud pada dirinya atau ketika jamaah merupakan suatu kewajiban, seperti pada shalat Jumat” (Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Ba’lawy, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 153).

Hendaknya bagi orang yang melaksanakan salat berjamaah—khususnya para makmum—agar betul-betul memahami ketentuan serta perincian hukum tentang mufaraqah ini, hal ini dimaksudkan agar makmum betul-betul dapat menyikapi berbagai problem dalam salat berjamaah, khususnya yang berkaitan dengan perbuatan imam salatnya. Dengan begitu salat berjamaah yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan benar. (*)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Malang Post