ANTROPOSENTRISME PELAJAR MILENIAL | Malang POST

Minggu, 23 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


ANTROPOSENTRISME PELAJAR MILENIAL

Rabu, 15 Jan 2020,

Era milenial ditandai dengan banyaknya elemen sosial yang terpukau dan terhanyut dalam perubahan, yang di antara perubahan ini tidak selalu konstruktif, sebaliknya banyak yang potensial membius dan bisa menganyutkan dalam ragam pemujaan pesona kesenangan yang berkarakteristik antroposentristik.
Permata hati bangsa (peserta didik) era milenialistik ini tidak sedikit yang kita temukan sedang terperosok misalnya dalam perilaku adigang-adigung, tergelincir mengerikan dalam penyalahgunaan norma yuridis dan norma moral atau digelincirkan dalam suatu opsi gaya hidup yang menyesatkan, yang membuatnya layak menyandang label sebagai generasi tersesat jalan berlapis  atau “anak salah asuhan.”  
Faktanya, belakangan ini bukan hanya di kota besar seperti Jakarta, yang sedang dihadapkan pada problem anak, tetapi di wilayah pinggiran atau pedesaan pun, kasus yang bercorak kedursilaan dan kriminalitas juga dapat dengan mudah ditemukan. Polanya: mereka merekam adegan tak senonoh yang dilakukannya sendiri, yang kemudian tersebar di tengah masyarakat. Saat memproduknya, mereka seperti merasa bangga, meski setelah terpublikasikan, mereka sesal dan menanggung malu.
Fenomena itu layak digunakan sebagai dasar pembenaran untuk menyebut kalau peserta didik kita, faktanya tidak sedikit yang terperangkap dalam lingkaran gaya hidup atau disain berperilaku yang “potensial” menghancur dirinya.
Gaya bergaul anak muda (pelajar) itu tampak sekali sedang tergiring dalam pembenaran gaya bergaul  ala permisif antroposentrisme. Cara-cara yang menurut doktrin yuridis, moral, kesusilaan, dan agama  seharusnya dipegang teguh, justru ditempatkannya sebagai doktrin konvensional yang ditinggalkannya secara beramai-ramai.
Mereka ingin menunjukkan diri sebagai generasi yang berbeda dengan pendahulunya atau kumpulan anak muda yang bisa menghadirkan beragam dan banyak revolusi gaya hidup.  Mereka itu bahkan cenderung memperbarui cara atau pola bergaulnya supaya tampak menjadi anak zaman yang “berhasil” membentuk wajah atau mengonstruksi kultur kelompok sebagai komunitas pelajar paska moralitas.
Dalam ranah komunitas paska moralitas dan spiritualitas itu, anak-anak muda (pelajar) terperangkap dalam stigma, meminjam istilah F. Nietzhe kalau “tuhan telah mati” atau tuhan tidak lagi berdaya menghadapi perubahan besar dalam kehidupan manusia, sehingga  apa yang diperbuatnya dianggap tidak perlu evaluasi
Kalau dalam diri remaja pelajar itu masih berjaya atau diberdayakan kekuatan religiusitas, barangkali di setiap perilaku, termasuk sebelum menjatuhkan opsi pada disain gaya bergaul tertentu berpola antroposentrisme.
Jika sejak dini mereka itu bisa diluruskan, tentulah ancaman bomming "anak salah asuhan: bisa dicegah. Mereka tak akan sampai menahbiskan kebejatan dan kriminalitasnya kalau mereka terbentuk dalam atmosfir edukasi yang meninggikan derajat moral dan spiritual.
Kondisi riil bisa dibaca, kalau pola antroposentrisme telah diberikan tempat sangat longgar dan liberal untuk menggeser “kedaulatan etika”, sehingga apa yang dilakukan oleh anak didik terkotak dalam ranah eksklusif yang berpola penasbihan ambisinya. 
Dapat terbaca misalnya disain gaya bergaul pelajar misalnya bukan bagaimana mereka cerdas mengontruksinya menjadi gaya bergaul yang aman, menyelamatkan, dan menyehatkan menurut norma agama dan hukum, tetapi bagaimana bisa mengontruksi gaya bergaul yang menyenangkan dan memuaskan.
Perburuan atau pola oportunistik dalam mencari kesenangan dan kepuasan, telah menyeret pelajar ini tergelincir dan terjebak dalam opsi yang salah, sehingga berdampak memburamkan potret dirinya di masyarakat. Mereka disebutnya menjadi anak muda yang rawan tergelincir menjadi anak-anak salah asuhan.
Perburuan mencari kesenangan, apalagi dimutlakkannya, sehingga menjadi pengabdian pada hedonisme, telah membuatnya sebagai kader atau anak-anak yang mengalami kebutaan makna etis. Kehidupan kesehariannya demikian bisa terseret dalam lingkaran perubahan yang menghancurkan kepribadiannya.
Kalau stigmanya memang salah asuhan, berarti ada proses pengasuhan, pengembangan,  atau pendidikan yang selama ini berjalan salah. Kesalahan dalam pembentukan kepribadian anak ini mengakibatkannya menjadi generasi yang salah dalam memilih dan menunjukkan perilakunya.
Pola pengasuhan terhadap dirinya dinilai gagal memberikan yang terbaik, yang memberdayakan, membahagiakan, dan  menyelamatkan.  Pola pengasuhannya telah membuatnya menjadi sosok yang gagal membaca arus deras perubahan yang menyesatkan, yang oleh Ilham Gunawan (2009) disebutkanya sebagai perubahan yang menuntut korban, tumbal, dan “kematian kecerdasan.” Mereka yang menjadi korban, akhirnya tidak lagi menjadi sosok yang cerdas membaca alur perubahan era milenialistik yang bervirus menghancurkan dirinya.
Pola pengasuhan yang salah itu secara tidak langsung sebagai gugatan terhadap jagad pendidikan formal maupun informal yang selama ini lebih terfokus mendidik dan membentuk anak didik menjadi elemen pragmatis-kapitalistik, artinya anak didik ini dominan diarahkan atau dituntut oleh lembaga pendidikan maupun keluarga (orang tuanya) untuk menjadi penghafal mata pelajaran yang berorientasi pekerjaan, penghasilan besar, atau digiring menasbihkan ekspektasi berlebihan supaya di kemudian hari bisa menjadi kapitalis dan borjuis, dan bukan sebagai pelaku sejarah atau elemen bangsa yang berintegritas moral tinggi.
Kendati mereka sudah diajarkan materi pelajaran agama, apa yang diserapnya dominan menghafalkan agama untuk lulus atau mendapatkan nilai, dan bukan bagaimana membangun dan memprogresifitaskan hak moral sebagai indek prestasi riil dan berkualitas unggul.
Misalnya kata model pendidikan “unggulan” atau eksklusif yang dijual kepada orang tua, calon anak didik, dan peserta didik, terfokus pada keistimewaan yang berhubungan dengan kemampuan penguasaan Iptek, labelisasi internasional  dan hafalannya, dan belum sampai pada unggulan menjadi manusia yang memenuhi standar etik.
Anak didik tak ubanhya terus  dibawa oleh penyelenggara pendidikan ke alam mimpi untuk an sich  menjadi penikmat kekayaan orang tua atau elitisme strata sosial-ekonomi keluarganya daripada berusaha keras membentuk diri menjadi sosok pekerja keras dan berbudi luhir.
Kalau saja standar etik yang dikedepankan atau gencar dikembangkan di dunia pendidikan, barangkali wacana yang berkembang dan opsi yang  dimenangkan adalah berperilaku yang sejalan dengan tatanan komunitas yang beradab, dan bukannya menjadi komunitas yang membenarkan perilaku vulgarisasi.
Oleh karena itu, pengimplementasian melalui berbagai aktifitas etik keagamaan di lingkungan sekolah perlu digalakkan dan dijaga keberlanjutannya supaya menjadi aktifitas yang memberdaya dan membudaya. Kalau sudah sampai pada ranah demikian ini, dunia pendidikan akan mampu melawan derasnya tawaran revolusi gaya hidup milenialistik, meski di masa-masa mendatang akan semakin banyak perubahan bercorak akseleratif, instan, ganas, dan berbobot mendestruksikan.(*)

Oleh: Anang Sulistyono
Ketua Biro dan Kunsultasi Hukum Universitas Isalam Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Anang Sulistyono

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...