Anak 9 Tahun Dimangsa Tetangga | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 17 Nov 2019, dibaca : 13494 , Bagus, Ravika

Anak kerap menjadi korban kekerasan. Baik itu orang tua, keluarga, ataupun  orang luar. Kekerasan yang dialami bentuknya beragam. Ada yang bentuknya kekerasan fisik, tapi tidak jarang pula anak menjadi korban kekerasan secara psikis. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabupaten Malang, tercatat sebanyak 172 kasus kekerasan pada anak di tahun 2019 tercatat sampai Oktober.
Miris, ada anak yang menjadi korban perkosaan tetanggannya. Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) , Kabupaten Malang, Lely Trianovita SH, MSi. Lely menyebutkan, dari 172 kasus, ada 45 perkara yang penyelesaiannya ditangani oleh pihak kepolisian. Ditangani polisi, lantaran perkaranya berkaitan dengan pidana.
”Seperti kasus perkosaan itu, korban usia 9 tahun. Perkaranya ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang,’’ tambah Lely.

Baca juga :

Ponsel Picu Kekerasan Terhadap Anak

Ada Balita di Bunuh Ayah Tiri

Angkanya Turun di Kota Batu


Sedangkan 127  lainnya, pengaduan langsung pada dinasnya. Dari 127 tersebut, dikatakan Lely, kebanyakan kasusnya kekerasan psikis. Di antaranya adalah penelantaran. Meskipun tidak menyebut jumlahnya, namun kasus penelantaran ini cukup banyak.
”Penelantaran ini maksudnya, orang  tua mereka bercerai. Dalam putusan cerai,  ibu mendapatkan hak asuh, sementara sang ayah wajib memberikan uang belanja. Tapi putusan itu dilanggar oleh sang ayah, dan sang ibu mengadu ke kami,’’ ungkapnya.
Ada pengaduan anak ditelantarkan karena kedua orang tuanya sibuk bekerja, sedangkan anaknya tidak karuan hidupnya.
”Ada juga pengaduan, kedua orang tua meninggal, kemudian anak menjadi rebutan keluarga masing-masing orang tuanya,’’ bebernya.
Lely pun mengatakan, terkait dengan pengaduan tersebut, pihaknya pun tidak sekadar melakukan pendataan. Tapi langsung melakukan assesment. Pertama memanggil atau mendatangi orang yang mengadukan, untuk menanyakan keinginan pengadu.
”Contohnya yang mengadu adalah ibunya, untuk pengaduan non pidana. Kami tanyakan dulu, kronologisnya, kemudian apa yang diinginkan sang ibu. Jika yang diinginkan adalah uang belanja anak, maka kami akan memanggil sang ayah untuk klarifikasi,’’ ungkapnya.  
Bahkan, Lely menyebutkan, pihaknya tidak jarang memanggil guru atau kepala sekolah untuk ikut menyelesaikan kasus kekerasan anak. Apalagi kekerasan itu terjadi di area sekolah, atau pelaku kekerasan adalah seorang guru.
Saat klarifikasi ini tidak menemukan hasil, maka DP3A akan memanggil pihak-pihak terkait. Pihak terkait tersebut bisa perangkat desa, camat atau lainnya. ”Dengan dipanggilnya pihak terkait ini, diharapkan bisa mendapatkan hasil atau sebuah kesepakatan,’’ ungkapnya.
Lely juga mengatakan, pihaknya tidak segan untuk meminta bantuan psikolog, untuk melakukan melakukan trauma healing. Trauma healing tidak hanya untuk anak yang mengalami kekerasan fisik, tapi mereka yang mengalami kekerasan psikis. Tujuannya, dilakukan trauma healing agar sang anak tidak mengalami trauma. Sehingga mereka (anak)  dapat menjalani hidup ke depan pun tidak dengan rasa minder, ketakutan atau lainnya.
”Kekerasan yang dialami anak ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Makanya itu penting dilakukan adanya trauma healing. Agar mereka tidak trauma,’’ tandasnya.(ira/ary)



Loading...